Menyusur Jalan Terjal menuju Dieng

13685355642141038327

Temanggung dini hari. Setelah semalam istirahat, pukul 06.00 meluncur.. Hujan masih turun. Rintik-rintik. Berbekal GPS  meluncur di jalur Temanggung  menuju Wonosobo. Memotong jalur tidak lewat kota. Sampai Ngadirejo.  Menyusuri jalan basah dan sepi. Ada satu dua bus besar lewat. Jalur menuju Parakan -Kertek- Wonosobo.  Tapi belum sampai Parakan, setelah Candi Pring Apus, ada petunjuk lagi. Tulisan kecil di kiri jalan “menuju DIENG”.   Belok saja ke kiri .  Lewat Jumprit……
Jalan kecil mulai menanjak.. Agak ragu-ragu, apa benar jalannya.. Sekali waktu tanya penduduk.. Betul.. terus saja menuju Dieng!

13685356211580440023

Kendaraan terus melaju. meliuk-liuk di pinggang Gunung Sindoro. Melewati kebun kol. Hutan Pinus. Jalan agak rusak. Sana sini banyak lubang. So, harus ekstra hati-hati. Tapi kayaknya jalan siap diperbaiki. Di bahu jalan bertumpuk batu kali. Persediaan pembuatan pondasi jalan untuk pelebaran. Sempat terhadang batu sebesar mobil Carry yang konon jatuh tadi malam.

13685356781925881692

13685355901389426458

Makin mendekati puncak.. jalan makin rumpil .. makin rusak he he he. Akhirnya, tiba di Kawasan Perkebunan Teh TAMBI. Kanan kiri, sepanjang mata memandang tampak hijau… segar!. Cocok untuk Wisata Agro. Setelah melewati kebun teh, jalan mulai menurun, melewati pemukiman padat. Suasana khas pedesaan. Berbondong-bondong pekerja menuju ladang dan perkebunan. Dandanannya khas. Topi lebar. Sepatu boot. Baju lengan panjang. Berkalung Sarung. Mirip petani di Tosari Gunung Bromo.

Tak sampai sejam, akhirnya tiba di pertigaan jalan dari arah Wonosobo. Jalan mulus. Langsung tancap gas menuju negeri para dewa. Pemandangan tetap sama. Menawan. Tapi sekali waktu harus tutup  hidung. Bau kotoran ayam untuk pupuk tanaman.  Pukul 07.15. sampai di pertigaan Dieng Kulon.

1368535735664774024

Kalau mau ke Dieng dari arah Jawa Timur, setelah Sragen atau Karanganyar (Kalau lewat Sarangan Magetan)
1. Solo – Boyolali – Silo (naik gunung) – Mungkid – Magelang – Secang – Temanggung – Parakan – Kertek Wonosobo – Dieng, bisa potong kompas setelah Temanggung-Ngadirejo – Jumprit – Tambi – Dieng (Tidak lewat Wonosobo)

2. Solo – Boyolali – Silo – Mungkid – Borobudur – Salaman – Sapuran – Kertek – Wonosobo – Dieng

3. Solo – Jogjakarta – Sleman – Borobudur – Salaman – Sapuran – Kertek _ Wonosobo – Dieng.

Gajah Mada Lahir di Pandaan?

Sejarah  mencatat. Gajah Mada adalah Mahapatih Amangkubumi mumpuni dan berjasa besar pada Majapahit.  Bahkan, nama besar Gajah Mada, di beberapa daerah, lebih dikenal dari pada raja-raja Majapahit, termasuk Hayam Wuruk atau Sri Rajasanagara (1350 – 1359) sendiri. Karena jasanya,  Professor Muhammad Yamin menyebut Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara. Boleh jadi, konsep Negara Kepulauan Indonesia saat ini adalah visi dari Gajah Mada di tahun 1300 Masehi. Sekitar 7 abad lalu!

Dibalik ketenaran, keunggulan serta kecemerlangan di bidang ilmu politik pemerintahan, hukum serta  kanuragan, namun asal usul, jati diri dan  akhir hayat Gajah Mada masih menjadi teka teki. Gajah Mada muncul dalam sejarah saat menjadi Bekel (kepala)Bhayangkara , yaitu satuan pengawal raja JayanegaraGajah Mada mampu menyelamatkan raja ke Bedander karena ada pemberontakan yang dipimpin Kuti. Bahkan, dengan segala daya upaya dan kepiawaiannya, Gajah Mada mampu mengatasi pemberontakan dan mengembalikan Prabu Jayanegara ke dampar kencana tahta Majapahit. Menariknya, tidak mungkin bila Prabu Jayanegara mempercayakan keselamatannya kepada seorang “Gajah Mada” yang tidak diketahui asal usulnya! Ibaratnya, tidak mudah dan tidak mungkin bagi seseorang untuk menjadi bagian apalagi pimpinan Paspampres(Pasukan Pengamanan Presiden) bila tidak memiliki track record yang luar biasa dan istimewa!

Muhammad Yamin mengatakan Gajah Mada lahir di sebuah lembah di dekat sumber mata air Brantas. Di kaki Gunung Kawi dan Gunung Arjuno. Naskah Usana Jawa yang digubah di Bali menyebut bahwa tokoh sejarah kuno ini lahir di Bali. Menurut naskah ini Gajah Madalahir dengan cara “memancar” dari buah kelapa sebagai penjelmaan Sang Hyang Narayana. Jadi lahir tanpa ayah dan ibu. Lahir karena kehendak dewa-dewa (Yamin 1977: 13 dalam  Munandar 2010:1).

Babad Gajah Mada yang juga digubah di Bali menguraikan  Gajah Mada berasal dari pertapaan Lemah Tulis.  Ibunya Patni Nari Ratih yang bersuamikan Mpu Sura Darma Yogi, murid dari Mpu Raga Runting. Namun, Dewa Brahma terpesona dengan kecantikan Nari Ratih sehingga menanam benih dengan cara memaksanya. Akhirnya,  suami istri ini pergi meninggalkan wilayah Lemah Tulis. Mereka mengembara sampai berbulan-bulan dan tiba di kaki Gunung Semeru. Di Desa Mada lahirlah sang jabang bayi laki-laki yang akhirnya diasuh oleh kepala Desa Mada. Kedua orangtuanya melanjutkan bertapa di Gunung Plambang. Kelak si bayi akan menjadi orang besar yang dikenal di seantero Nusantara.

Viddy Al Mahfud Daeri, seorang budayawan berpendapat, bahwa Gajah Mada lahir di Desa Modo yang termasuk Kabupaten Lamongan. Buktinya, di tempat itu ada petilasan yang dipercaya sebagai tempat kelahiran sang Mahapatih Amangkubumi. Akhirnya, Pemda Lamongan pun giat menelusuri bukti-bukti sejarah yang ada.

Interpretasi terbaru: Gajah Mada lahir di Pandaan. Demikian ungkap Agus Aris Munandar. Doktor dan dosen Arkeologi FIB UI. Gajah Mada adalah anak dari Gajah Pagon. CucuMacan Kuping, penghulu tua Desa Pandakan. Bila benar Pandakan yang sekarang, dulu berpangkal kepada Desa Pandakan si Macan Kuping, maka Gajah Mada lahir di Jawa Timur, di dataran tinggi Malang, daerah awal mengalirnya Sungai Berantas (Munandar 2010: 11)

Walau secara geografis Agus Aris Munandar tidak secara tepat menyebut Pandaan sebagai dataran tinggi di Kabupaten Pasuruan di kaki gunung Welirang – Arjuno, pendapat tersebut sangat menarik untuk didiskusikan. Apalagi interpretasi ini sangat dekat dengan perkiraan Yamin bahwa Gajah Mada lahir di kaki gunung Kawi dan Arjuno!

Berita Pararaton menyebutkan bahwa runtuhnya kraton Singosari adalah akibat seranganJayakatwang dari Gelang-gelang/ Kediri Awalnya Raden Wijaya, menantu Kertanegaradisertai dengan pengawal dan teman-teman setianya seperti Lembusora, Nambi, Ranggalawe, Gajah Pagon, Pedang Dangdi mencoba bertahan. Tapi akhirnya diputuskan untuk mengungsi ke utara. Gajah Pagon yang telah bertempur hebat melawan tentara Kediriterkena tombak di pahanya

Pararaton secara lugas dan panjang lebar menulis perjalanan Raden Wijaya yang mengungsi ke arah utara akhirnya tiba di hutan kawasan Telaga Pager. Diputuskan kemudian Raden Wijaya harus menuju Madura meminta perlindungan Arya Wiraraja. Akhirnya, dengan susah payah rombongan Raden Wijaya tiba di desa Pandakan dan diterima oleh kepala desa bernama Macan KupingRaden Wijaya disuguhi kelapa muda yang setelah dibuka ternyata isinya tak lain nasi putih.

Lebih jauh Pararaton menyatakan: :

Gajah Pagon tidak dapat berjalan, berkata Raden Wijaya: “Penghulu Desa Pandakan saya titip seorang teman, Gajah Pagon tak dapat berjalan, agar ia tinggal disini”.

Berkatalah orang Pandakan: “Hal itu akan membuat buruk tuanku, jika Gajah Pagon ditemukan di sini, sebaiknya jangan ada pengikut tuanku yang diam di Pandakan. Seyogyanya dia berdiam di tengah kebun, di tempat orang menyabit rumput ilalang, ditengah-tengahnya dibuat sebuah ruangan terbuka dan dibuatkan gubuk, sepi tak  ada yang tahu, orang-orang Pandakan membawakan makanannya setiap hari

Dari berita ini, dapat ditafsirkan keadaan berangsur-angsur aman dan Gajah Pagon sembuh dari lukanya. Sangat mungkin ia lalu menikah dengan anak perempuan Macan Kuping. Setelah penghulu Desa Pandakan itu meninggal, Gajah Pagon menggantikan kedudukannya menjadi kepala Desa Pandakan. Kemudian keadaan semakin membaik. Majapahit berdiri dan Wijaya menjadi raja. Saat itulah teman-teman seperjuangan Wijaya mendapat kedudukan masing-masing walaupun berbagai sumber menyatakan ada yang tidak puas.Gajah Pagon tetap menjadi penguasa daerah Pandakan.  (Munandar 2010: 11)

Tokoh yang menonjol di awal Majapahit, kala diperintah Raden Wijaya (Krtaraja Jayawardhana) yang menggunakan nama “Gajah” adalah Gajah Pagon. Sedangkan tokoh selanjutnya yang bernama “Gajah“ yang juga terkenal adalah Gajah Mada, di jaman pemerintahan Jayanegara. Nama “Gajah “ sesungguhnya berarti pemberani, tahan mental, tidak mudah menyerah, setia kepada tuannya dan berperilaku seperti hewan gajah yang akan menghalau semua penghalang! Jadi dapat diperkirakan bahwa Gajah Mada sejatinya adalah anak dari Gajah Pagon, salah seorang perwira dan pahlawan Majapahit yang terluka di PandakanGajah Mada lahir dari hasil perkawinan Gajah Pagon dan putri Macan Kuping.Kedua “Gajah” ini  punya nama dan sifat yang hampir identik!

Maka, mudahlah menerima alasan bila Prabu Jayanegara memilih anak muda bernamaGajah Mada untuk menjadi Bekel (Kepala) Bhayangkara, pasukan pengawal raja, karenaGajah Mada memang memiliki track record yang istimewa. Ayah Gajah Mada adalah perwira pilih tanding, setia kepada Raden Wijaya, tidak terlibat dalam berbagai kerusuhan yang muncul saat awal Majapahit berdiri karena ketidak puasan pembagian jabatan atau daerah. Gajah Mada sendiri adalah prajurit  unggul baik secara lahir maupun batin karena gemblengan yang diperolehnya dari ayah dan tokoh-tokoh lainnya kala itu.

Bila Gajah Mada unggul dalam olah lahir dan olah batin hal tersebut dapat dengan mudah dipahami. Pandakan adalah termasuk lereng timur Gunung Penanggungan yang dulu disebut Pawitra. Gunung Penanggungan saat itu merupakan  kiblat bagi masyarakat Majapahit. Di gunung suci inilah banyak terdapat mandala-mandala dan ke-resi-an tempat menggembleng berbagai macam ilmu. Baik ilmu ajaran keagamaan. yoga, mitologi, serta ilmu duniawi seperti ilmu pemerintahan, hukum, politik kerajaan, strategi perang dan mungkin juga dasar geografi Nusantara (Munandar 2010: 15). Tak heran, bila akhirnya,Gajah Mada menjadi tokoh Majapahit yang mumpuni dan memiliki visi jauh ke depan.

Masih ada pertanyaan. Dimanakah letak Telaga Pager? Benarkah Pandakan jaman dahulu sama dengan Pandaan sekarang? Hasil penelusuran Hadi Sidomulyo terhadap beritaNegarakertagamaTelaga Pager terdiri dari dua nama, Pager dan  Telaga. Desa Pager 2 km di utara Damar (termasuk Desa Sekarmojo, Kecamatan Purwosari). Sedangkan Telagamerupakan nama lama dusun Kucur (Sumberejo) yang letaknya 3 Km di barat daya Pager.Ini jelas tidak bertentangan  dengan berita Pararaton, yang menyatakan dari Telaga Pager,Raden Wijaya menuju Pandakan sebelum ke Rembang lalu menyeberang ke Madura.

Nama Pandakan juga muncul dalam kitab Negarakertagama yang selesai ditulis tahun 1365. “ rahina muwah ri tambak i rabut wayuha balanak linakwan alaris anuju ri pandhakan ri bhanaragi amgil…. (Pada hari berikutnya ia melalui Tambak, Rabut Wayuhadan Balanak menuju Pandhakan dan Bhanaragi…) (Sidomulyo 2007: 84)

Tambak adalah dusun di Desa Lemahbang, 14 km dari Purwosari,  Rabut Wayuha tak lain daripada Suwayuwo, 2 km di utara Lemahbang. Balanak dan Bhanaragi tak dikenal lagi. Dari urutan nama tempat itu jelas, Pandhakan tentu saja adalah Pandaan sekarang!

Pandhakan jaman dulu adalah identik dengan Pandaan sekarang juga didukung uraian Piagam Kudadu bertahun 1294, dikeluarkan oleh Kertarajasa Jayawardana berdasarkan pengalamannya saat mengungsi ke Madura. Prasasti Kudadu yang berasal dari Gunung Buthak, Trawas Mojokerto menceritakan terima kasih raja Kertarajasa kepada ketua dusunKudadu yang pernah menerimanya dengan ramah waktu singgah dalam perjalanan ke Madura. Saat mengungsi Raden Wijaya dalam masalah besar. Namun ketua dusun Kudadumenerimanya dengan ramah dan memberinya makan dan minum. Kemudian mengantarnya ke Rembang untuk melanjutkan menyeberang ke Madura.  Demikianlah dapat disimpulkan, nama Kudadu sebenarnya identik dengan Pandak /Pandhakan atau Pandaan sekarang.

Dalam konteks kekinian, tak perlu diragukan dan berlebihan bila kota Pandaan dikemudian hari benar-benar dipilih sebagai ibukota Jawa Timur. Dari segi historis, Pandaan telah menampilkan Gajah Mada sebagai salah satu tokoh utama sejarah kuno Nusantara. Aktivitas jasa, keuangan, industri  serta infrastuktur kota Pandaan berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Kota Pandaan juga menjadi center poin dan urat nadi transportasi kota-kota besar lainnya di Jawa Timur. Begitu juga ketersediaan lahan masih sangat memungkinkan untuk perluasan kota. Daya dukung sumber daya alam, objek wisata alam, objek wisata sejarah Pandaan dan sekitarnya dapat diandalkan. Mau apalagi? Pilihan yang tak ada bandingannya saya kira!

Menembus Kabut Gunung Lawu

Gunung Lawu, konon tempat persinggahan terakhir Raja Majapahit : Prabu Brawijaya. Vegetasinya khas hutan tropis. Udaranya segar. Sehat! Pemandangannya luar biasa. Untuk lebih menarik wisatawan, saat ini infrastruktur Kawasan Gunung Lawu terus dipersolek. Jalan baru, penghubung antara Sarangan magetan (Jawa Timur) dengan Tawangmangu (Jawa Tengah) sudah sangat bagus. Lebar dan mulus.

Melewati kawasan  Gunung Lawu di pagi hari menghadirkan sensasi tersendiri. Pohon-pohon basah berdiri kokoh di kanan kiri. Kabut berarak sepanjang lereng-lereng bukit. Kadang, kabut tanpa permisi, tiba-tiba menghadang di tengah jalan.

13683188741921198737

13683189671922940508

13683190321825520853

Seiring naiknya mentari. Kabut pun pergi.  Terhampar wajah asli Gunung Lawu yang Asri. Bisa mampir di puncak. Kawasan Cemoro Lawang dan Puncak Pass di Cemoro Kandang. 1830 meter dari permukaan laut. Hawanya dingin. Tentu saja. Tapi kopi panas, teh panas… plus jagung bakar siap di hidangkan. dan pemandangan, sekali lagi, benar-benar menghanyutkan.

13683191161556129556

Mpu Prapanca Jurnalis Pertama Nusantara

Masih jadi polemik. Siapakah wartawan pertama atau yang layak menyandang sebutan Bapak Pers Nasional di Indonesia? Ada sederet nama: Tirto Adhie Soerjo (T.A.S) pernerbit Medan Prijaji, Adinegoro, Dja Endar  Moeda , Abdul Rivai (Bintang Hindia) dan yang lain. Namun, untuk mengetahui siapa mereka, perlu referensi, paling tidak tanya mbah Google.

Tapi,  ada satu nama lain: Mpu Prapanca. Hampir semua dari kita familier. Orangtua dan  anak-anak kita, terutama pelajar pasti mengenal Mpu Prapanca. Dialah penulis kitab Negarakrtagama. Bagaimana jika Prapanca yang menjadi Bapak Pers Nasional? Apa yang telah diperbuat oleh Prapanca? Apa istimewanya Negarakrtagama dibanding kitab kuno lainnya?

Seperti kita ketahu,  Negarakrtgama merupakan satu-satunya karya sastra jaman Majapahit yang berbeda dengan karya sastra sebelumnya atau sejamannya. Mengapa? Tak lain karena Negarakrtagama bukan kitab yang berisi ajaran-ajaran agama. Negarakrtagama adalah laporan jurnalistik  Prapanca saat mengikuti perjalanan raja Majapahit Hayam Wuruk ke Lumajang tahun 1359. Bagai seorang jurnalis, Prapanca dengan teliti, runtut mencatat dan mendeskripsikan beragam kejadian  dan nama tempat yang dilaluinya. Prapanca sangat detil membuat reportase perjalanan Hayamwuruk selama tiga bulan dari Trowulan – Pasuruan – Lumajang – Situbondo – Pasuruan – Singosari – Malang – Pandaan dan kembali ke Trowulan.  Deskripsinya demikian detil. Unsur 5W + 1 H sudah tercover semuanya. Inilah kelebihan Prapanca. Tak berlebihan jika, Prapanca lebih layak menyandang Bapak Pers Nasional lantaran di tahun 1300-an sudah menulis karya jurnalistik.

Tentu saja isi Negarakrtagama tidak melulu laporan jurnalistik. Karena sifatnya pujasatra,  didalamnya juga banyak uraian yang baik-baik. Uraian tentang kemegahan kerajaan Majapahit, pujian untuk raja, silsilah raja-raja, candi-candi,  upacara-upacara dan hukum pada jaman Majapahit. Khusus untuk karya jurnalistik ini tidak berlaku Bad News is Good News.

Judul Negarakrtagama dikenalkan pertama kali oleh Dr. Brandes  yang mengutip nama itu dari kolofon (kata-penutup)  yang diciptakan oleh si penyalin naskah aslinya. Kata “krtagama”, menurut kamus Jawa Kuno P.J. Zoetmulder, Old Javanese-English Dictionary artinya based upon atau establised in the holy traditions. Negarakrtagama dapat diartikan: pertama, “negara yang berdasarkan atau didasarkan tradisi suci”; dan kedua, “sejarah pertumbuhan dan perkembangan negara”.

 

Padahal, judul asli Negarakrtagama adalah Desawarnana. Robson menerjemahkannya sebagai  description of the country. “Uraian tentang desa-desa”. Jika menggunakan judul aslinya niscaya lebih muncul nuansa jurnalistiknya. Tergambarkan luasnya wilayah Majapahit.  Beragamnya kekayaan alamnya,  penduduknya, adat-isatiadat dan kebudayaannya. Dan yang jelas, tergambarkan juga bahwa Prapanca juga seorang Travel Writer.

Begitulah, di hari pers ini (9 Pebruari kemarin, inipun juga kontroversi), patutlah bersyukur ada seorang Prapanca, yang menyempatkan menjadi jurnalis pertama di Nusantara yang karyanya masih terwariskan sampai kita. Lebih bersyukur lagi, koleksi dokumen sejarah kerajaan Majapahit ini juga telah diakui sebagai Memori Dunia oleh UNESCO.

Pecel Tuxuci dan Sate Kelinci, Menu Khas Telaga Sarangan

Malam sangat dingin di Sarangan, Magetan . Selimut tebal tidak mampu menahan dingin yang menusuk-nusuk. Tembus sampai kulit.  Kaos kaki pun harus dipasang.  Sebagai pengantar tidur, nonton TV sejenak. Hotel atau tepatnya Home Stay SETIA BUDI ini lumayan bagus dan murah. Walau tidak di pinggir Telaga, tidak masalah banget.  Dengan Rp. 80 ribu dapat 2 kamar tidur, 4 bed, 2 TV.  Cukup untuk berdelapan. Plus air panas dan 2 Termos Teh Panas.

 

1360425066965395140

Semburat Jingga di Telaga Sarangan

 

Pagi hari di Sarangan, hmmm….. udara segar. Angin bertiup perlahan.  Seperti biasanya, kabut berarak. Ditingkahi embun yang turun perlahan. Basah.   Daun-daun ikut melambai. Mengajak segara beranjak dan olahraga sejenak.  Mengitari Telaga Sarangan, sejauh 3 km. Lumayan berkeringat. Dijamin tidak penat. Lantaran pemandangan yang aduhai.

Apalagi, di tempat finish sudah ditunggu sarapan Pecel Khas Sarangan. Nasinya hangat, sayurnya komplit, bumbunya .. wow.. Tidak terlalu Pedas. Pas! Lauknya Tahu Goreng dan Telor Ceplok.. gak lupa Rempeyek yang tipis2 renyah.. Harganya, tanpa lauk cukup 3000 rupiah. Sambil berseloroh. “Ini Pecel Tuxuci ya Bu!?”  Ibu penjual pecel cuman senyam senyum. Ya, kalau mobil Listrik Pak Dahlan, Ferrari “Tuxuci” Harganya 3 milyar, kalau Pecel Tuxuci ini cukup 3 ribu. Mantab!

Siang hari, Telaga Sarangan juga menawarkan kuliner yang khas. Sate Kelinci. Ada juga sih sate ayam. Harga standar. Rp. 9000 per porsi. Plus lontong, tambah seribu. Semua penjual Sate Keliling kompak. Harga ditulis besar-besar sehingga pembeli tidak tersesat…. Yang khas dari Sate Kelinci ini adalah bumbunya.  Campuran Kacang dan Gula Jawa disangrai.  Disajikan tanpa campuran kecap. Seperti bumbu khas Sate Ponorogo. Warnanya coklat kekuningan. Rasanya,  dijamin lezat. Sangat memanjakan lidah. Apalagi makan di pinggir Telaga.. hmmm…

UN yang Alamiah dan Ilmiah

Lama sudah berharap. Ujian Nasional yang alamiah dan ilmiah. Tidak seperti kemarin, hari-hari ini dan  besok. Tapi inilah Indonesia. Walaupun tidak pernah ke Finlandia, Australia atau Jepang, Amerika apalagi, dibandingkan negara- negara maju tersebut agaknya Ujian Nasional di Indonesia yang paling menghebohkan. Dalam ruangan ujian, soalnya 5 macam. Tahun ini 20 macam! Pakai Barcode, biar aman. Polisi dilibatkan untuk pengamanan. High Security kayaknya! Sayangnya, dalam POS UN tertulis, Polisi menindak pelaku yang menyebarkan jawaban Palsu! Jawaban Asli bagaimana?? Ya tentu saja.. pengedar jawaban asli atau palsu patut ditindak!

Begitulah, 57 hari ke depan pelajar SMA akan menghadapi Ujian Nasional. Alangkah indahnya bila UN itu benar-benar berlangsung alamiah. Berjalan sesuai ritmenya. Tidak ada yang dipaksakan. Tidak ada yang cemas.Tidak ada yang dikorbankan.

Pelajaran di sekolah berlangsung normal.  Mata pelajaran UN dan non UN saling mengisi. Tidak ada mata pelajaran yang terpaksa dipotong jam-nya untuk menuntaskan mata pelajaran UN. Tidak ada siswa yang cemas. Mereka akan belajar dengan tekun. Tidak dibayang-bayangi ketakutan tidak lulus. Lulus tidak lulus urusan belakang. Artinya siapa yang rajin, tekun, bersungguh-sungguh pasti lulus. Lulus dan tidak lulus sudah ada kriterianya. Ada aspek pengetahuan, psikomotorik dan perilaku. Bila UN berlangsung alamiah, niscaya semua akan berlangsung sesuai lazimnya. Soal bolehlah dari pusat. Guru yang menjaga. Satu syaratnya, berapapun nilai yang diperoleh tidak mem-veto untuk lulus.  Nilai yang diperoleh siswa itu adalah haknya. Itu yang akan tercantum di ijazahnya. Kalau dia rajin, tekun,  otomatis nilainya baik. Kalau sebaliknya, ya resiko ditanggung penumpang. Menentukan lulus  dan tidak lulus, guru di sekolah lebih mengerti tentang anak didiknya. Siswa bernilai baik berkesempatan melanjutkan ke pendidikan tinggi. Tidak mampu kuliahpun masih berpeluang diterima kerja karena prestasi akademiknya bagus. Sebaliknya, siswa yang tidak sungguh-sungguh, akan lebih sulit dalam mengisi hari-hari ke depan. Inilah seleksi alam. Jadi, tidak perlu membuat master soal sampai 20 macam. Buang-buang biaya. Kalau energi sih pasti sudah terbayar!

Bisa jadi kalau sistemnya seperti itu, sekolah akan meluluskan semua siswanya. Tapi jelas, tidak semua sekolah seperti itu. Banyak sekolah yang punya kriteria untuk kelulusan. Menaikkan siswa saja ada kriterianya. Apalagi meluluskan. Sekolah yang dikelola dengan sembrono, asal-asalan pasti akan dijauhi masyarakat.

Saat ini kisi-kisi UN yang dikeluarkan oleh BSNP sudah digenggaman. Guru sudah menganalisisnya. Siswa juga sudah membaca. Try out sekolah sudah dilaksanakan Tapi ada yang kurang. Agar UN berlangsung ilmiah, semestinya ada satu proses yang harus dilakukan oleh Kemendikbud. Try Out Nasional. Semacam uji petik. Bisa paper and pencil. Boleh juga Online. Bahan try out disusun berdasarkan kisi-kisi UN yang sudah beredar di seluruh penjuru sekolah. Pesertanya, tentu saja diacak dari setiap kabupaten. Banyak kriteria yang bisa digunakan. Berdasarkan geografi: ada sekolah di perkotaan dan daerah pinggiran atau pelosok. Berdasarkan jumlah siswa : ada sekolah yang muridnya banyak. Tidak sedikit yang jumlah muridnya bisa dihitung dengan jari.  Bisa jadi pemilihan sample berdasarkan status akreditasi.  Bila kriteria sudah ditetapkan, diserahkan saja pada pemerintah Kabupaten/ Kota untuk memilih wakilnya.

Mengapa perlu try out nasional? Siapapun mahfum. Potensi dan kondisi setiap sekolah di tanah air berbeda. Dari statusnya ada yang negeri swasta (walau tidak boleh ada dikotomi). Akreditasi ada yang A, B dan C. Sarana prasarana juga bervariasi. Sumberdaya manusia jelas berbeda. Ada yang akses informasinya cepat. Ada yang sangat sulit. Bahkan mungkin termasuk daerah 3T. Nah, dengan try out atau uji petik ini akan diperoleh gambaran seperti apa sebenarnya kondisi anak-anak Indonesia saat ini. Bagaimana daya serapnya terhadap materi pembelajaran. Mampukah mereka melampaui passing grade yang ditentukan dengan mengerjakan  soal-soal yang disusun berdasarkan kisi-kisi nasional?

Sekolah peserta try out atau uji petik pasti tidak akan bermain-main. Tidak akan memanipulasi nilai hasil try out. Memalsu nilai sama dengan bunuh diri. Toh, tidak ada dampak apapun bila memang hasil try outnya jeblok. Harapannya, pengambil kebijakan benar-benar memperoleh gambaran yang jelas tentang peta kemampuan peserta didik di segenap penjuru tanah air.

Tak kalah pentingnya adalah tugas dosen perguruan tinggi. Ini juga aneh. Peran dosen perguruan tinggi seyogyanya tidak “ujug-ujug” muncul saat mendekati UN. Tugasnya menjadi pengawas lagi. Mestinya sejak awal tahun pelajaran perguruan tinggi sudah mengawal proses pendidikan di sekolah menengah. Bila perlu ada penelitian dari para dosen tentang sistem pembelajaran, strategi, metode atau apapun sehingga mereka betul-betul berkontribusi dalam memajukan pendidikan. Bila perlu dosen-dosen diterjunkan untuk pendampingan dan pendalaman materi terutama mata pelajaran UN. Termasuk juga ikut dalam proses evaluasi. Mengevaluasi ulangan harian atau ulangan semester untuk mengetahui kemampuan siswa. Bukan berarti ikut campur. Hanya agar paham kondisi di  lapangan. Berkontribusi secara nyata. Siapa yang akan menolak uluran tangan ini. Tapi siapa yang akan membiayai. Kalau gratis bagaimana?

Begitulah, kalau pendidikan dikelola dari hulu sampai hilir. Niscaya akan berlangsung secara alamiah dan ilmiah. Sudah lama rakyat Indonesia mendambakan pendidikan yang lebih baik. Selamat belajar bagi yang akan menempuh UN. Sukses untuk Anda semua!

Cari Obat Awet Muda, ya ke Jolotundo! (Penanggungan Part 1)

Siapa tak kenal Titik Puspa. Nenek cantik yang awet muda! Apa rahasianya? Saran pakar  gizi: makan buah dan sayur secara teratur. Sayur dan buah organik lebih baik.  Jangan lupa konsumsi vitamin dan mineral. Ada juga yang sarankan perbanyak senyum atau tertawa. Hidup lurus, tidak neko-neko dan ngoyo. Saran  lain: sering minum air putih. Bangun pagi dan olahraga teratur, sangat dianjurkan.

Manfaatkan waktu senggang untuk cari sesuatu yang baru. Jalan-jalan di sekitar rumah atau travelling. Jangan lupa menulis setelah melakukan perjalanan. Travel Writer, menulislah: saran Olive Bendon. Ini juga termasuk obat awet muda.  Tubuh selalu di-refresh. Metabolisme pun lancar.

Nah kalau semua sudah. Apa lagi. Ada… Berkunjung, cuci muka atau  mandi di Patirtaan Jolotundo. Lho kok….

Begitulah. Sebagian masyarakat percaya Air yang keluar dari perut bumi di Patirtaan Jolotundo sangat berkhasiat. Salah satunya bisa membuat awet muda!

1360424576131750720

Patirtaan Jolotunda, Lereng Barat G unung Penanggungan

 

Patirtaan Jolotundo terletak di Lereng Barat Gunung Penanggungan (1650 m dpl). Gunung kecil ini sangat eksotis. Puncaknya gundul, bulat. Persis seperti kalu anak-anak menggambar gunung. Di lerengnya ada 4 bukit/ gunung kecil.   Gajah Mungkur (1.084 m),  Bekel (1.240 m), Sarahklopo (1.235 m), dan Kemuncup (1.238 m).13604136991676569593

Dalam kitab Tantu Panggelaran, kitab Jawa Kuno, dari  abad ke-16,  Gunung Penanggungan disebut Pawitra. Nama Pawitra tersurat juga dalam kitab Negarakrtagama dan Prasasti Cungrang/ Prasasti Sukci.

Kitab Tantu Panggelaran mengisahkan, konon saat itu  pulau Jawa (Jawadwipa) selalu bergoncang. Terombang- ambing oleh ombak Samudra India dan Laut Jawa.  Padahal menurut para dewa di kahyangan pulau  Jawa sangat ideal bagi tempat tinggal manusia.  Dewa pun bersidang untuk menghentikan  tanah Jawa yang labil. Beramai-ramai para dewa memindahkan dan menggotong Gunung Mahameru dari Jambhudwipa (India) ke Jawadwipa. Terbang di angkasa!

13604246591664775785

Inskripsi “Gempeng” di Patirtaan Jolotundo

 

Dalam perjalanan, banyak bagian  Gunung Mahameru yang berguguran. Jadilah  rangkaian gunung di Pulau Jawa. Mulai bagian  barat hingga Jawa bagian timur.  Saat digotong ramai-ramai dan sampai di suatu tempat -Lumajang sekarang-  ada seorang yang memukul-mukul bakul (tempat nasi) ke tanah. Akibatnya……..Buumm…. !!!  Jatuhlah tubuh Gunung Mahameru. Menjadi Gunung Sumeru atau Semeru sekarang. Gunung tertinggi di tanah Jawa. Lantaran terlalu tinggi, puncak Mahameru dipotong dan  oleh  para dewa dijatuhkan di daerah perbatasan Mojokerto Pasuruan. Jadilah  Gunung Penanggungan, sebagai The Holy Mountain.

Tak heran sejak abad ke-10 keberadaan G. Penanggungan sangat penting bagi masyarakat Jawa Kuno karena dianggap sebagai pusat makrokosmos, pusat alam semseta. Nah, sejak saat itulah di G Penanggungan mulai dibangun bangunan-bangunan suci. Salah satunya Patirtaan Jolotundo (Jalatunda), di lereng barat G. Penanggungan. ( Di Lereng Timur ada  Patirtaan Belahan atau candi Sumber Tetek)

Patirtaan atau pemandian kuna Jolotunda -nama kunonya Jeluktondo-  dibangun sekitar  tahun 977 M. Airnya dianggap amerta (air suci) karena ke luar langsung dari tubuh Mahameru. Konon di puncak gunung ini bersemayam dewa – dewa.

13604141341613878559

Situs ini konon dibangun jaman Raja Airlangga, lantaran terdapat inskripsi UDAYANA di teras pancurannya. patirtaan ini dibangun dengan mengepras  lereng bukit dan “menempelkan” bagian belakang bangunan ke bukit. Bagian tengah patirtaan terdapat teras bertingkat yang mempunyai air mancur yang menyerupai payung. Airnya yang jernih jatuh ke kolam. Bangunan menghadap ke Barat. Di pojok utara dan selatan terdapat bilik tempat mandi. Bilik Utara untuk mandi perempuan dan di selatan bilik untuk laki-laki. Air yang keluar dari pancuran di bilik inilah yang konon sangat berkhasiat.

13604155581132554232Lokasi  Patirtaan di tengah hutan. Pohonnya besar-besar. Rindang. Udaranya segar dan bersih. Airnya jernih. Setelah mandi disini.. …..dijamin  tubuh kembali segar.  Berlama-lama di situs ini dijamin tak akan jenuh. Kicau burung bersahutan. Desau suara angin dan semilirnya membuat sejuk suasana. Pikiran jadi tenang. Hilang stress dan kepenatan.  Inilah obat awet muda yang sesungguhnya!

Patirtaan Jolotundo  terletak di Desa Seloliman Trawas Mojokerto. Rutenya:

1. Surabaya – Pandaan – Prigen (rumah saya he he he.. boleh mampir!) – Tamiajeng (Trawas) –  Seloliman. Naik Angkot dari Terminal Pandaan  ke Trawas Rp. 5000.  Dari Trawas, naik ojek langsung pelataran Jolotundo, Rp 15.000

2. Surabaya – Ngoro – Seloliman  (tidak ada angkutan)

3. Mojokerto – Mojosari – Kemloko (Trawas) – Tamiajeng (Trawas) – Seloliman. Mojosari – Trawas angkutan terbatas.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.