OBJEK SEJARAH, KAPAN JADI SUMBER BELAJAR?

[ JAWAPOS, Rabu, 28 Januari 2009 ]

Dalam khazanah sejarah Indonesia, Jawa Timur menyumbangkan banyak informasi yang tak ternilai. Hampir di seluruh penjuru Jawa Timur tersebar peninggalan sejarah. Di Kabupaten Pasuruan, ada situs Banyubiru, Candi Gunung Gangsir, Prasasti Suci, Candi Belahan, Candi Jawi, dan kekunaan Indrakila.Ada pula kekunaan di Tambakwatu, Purwodadi. Belum lagi yang tersebar di lereng barat Gunung Penanggungan, mulai Patirtaan Jalatunda, Watukelir, Kendalisodo sampai candi dekat puncak Gunung Penanggungan (candi dengan prototipe punden berundak). Bahkan, situs Trowulan di Mojokerto diakui sebagai situs kota kuno terlengkap di Indonesia.

Namun, coba tanyakan kepada pelajar yang tinggal di sekitar Singosari, pernahkah mereka mendapat tugas membuat makalah tentang Candi Singosari? Atau, bertanyalah kepada siswa di Mojokerto, ”Apa lambang kerajaan Majapahit? Di mana letak Situs Jalatunda?” Tanpa bermaksud apriori, hampir pasti mereka akan terdiam, menjawab pun ragu.

Jika letak Jalatunda saja tidak tahu, jangan harap pelajar paham mengapa mbah-mbah kita dulu bersusah payah membangun candi di Gunung Ringgit atau Gunung Penanggungan. Coba bayangkan, betapa susahnya mengumpulkan batu-batu andesit di gunung (meski di gunung banyak batu) dan membentuknya menjadi balok simetris. Belum lagi harus mengukir badan candi dengan relief atau hiasan tumpal.

Di Gunung Penanggungan, ada 80 candi kecil yang telah dicatat oleh Van Romondt. Berapa lama untuk mewujudkan semua itu dan untuk apa? Bisa dipastikan, informasi ini tidak tersentuh dalam kurikulum sekolah menengah kita. Artinya, pembelajaran sejarah kita terlalu kering, tidak membumi dan tidak akrab dengan lingkungan sekitar.

Diakui atau tidak, sampai saat ini belum ada tindakan tepat agar peninggalan sejarah bisa memajukan dan memberikan manfaat, baik bagi lingkungan sekitar maupun dunia pendidikan. Banyak peninggalan sejarah tidak terawat. Niscaya, suatu saat, peninggalan tersebut akan menjadi tumpukan batu tak bermakna. Sayang sekali, objek sejarah sering terlewatkan sebagai sumber sejarah lokal yang sangat bermanfaat

Bahkan, saking nemen-nya tidak tahu arti penting nilai historis peninggalan sejarah, pelajar dengan seenaknya corat-coret di batu candi. Artinya, vandalisme tidak hanya diderita kayu hutan. Konyolnya, ada yang sengaja menambah bagian ”tubuh” arca dengan tambalan semen sekehendak hati yang jauh dari kesan indah, apalagi artistik (bahkan merusak). Boleh jadi, saat kepepet, kasus pencurian arca seperti yang terjadi di Solo bisa terulang di sekitar kita.

Berita pembangunan Majapahit Park di Trowulan, tepatnya kawasan Situs Segaran II, membuat kita tersentak dan prihatin. Betapa tidak, tanah di pusat Majapahit itu saat ini sudah digali dengan bengis. Sehingga, banyak tembok bata serta sumur jobong yang runtuh dan pecah berantakan lantaran digunakan sebagai fondasi pembangunan gedung Majapahit Park. Sungguh, ini sangat menyesakkan. Padahal, di sana banyak pakar sejarah.

Ini efek samping pembelajaran sejarah. Banyak pelajar, bahkan pakar sejarah, tidak akrab dengan sejarah di wilayahnya sendiri. Sebab, banyak objek sejarah yang belum dimanfaatkan sebagai sumber belajar, tidak masuk sebagai muatan lokal, kurang dimanfaatkan untuk pembelajaran di luar kelas dan jarang digunakan sebagai penunjang kegiatan ekstrakurikuler. (soe)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: