AMAZING NINE, DETEKSI !

BANYAK BELAJAR DARI DETEKSI 

SELAMAT ULANG TAHUN DETEKSI !!!!!!!! AMAZING NINE  

             Tahun 2006, tambah pengalaman ikut hebohnya  DBL (Deteksi Basketball League) Bahkan, DBL 2007 merupakan even bola basket pelajar paling bergengsi yang mampu digelar di Indonesia. Regulasinya ketat. Sepertinya mengadopsi dari Amrik. Maklumlah commissioner kompetisinya Azrul Ananda yang lama di Amerika.

Deteksi kadang membuat kita geregetan  Ijazah pemain telat setahun (lulus SMP tidak langsung melanjutkan sekolah karena sakit) jadi masalah. Karena data di entry ke komputer akibatnya data ditolak, dianggap pernah tidak naik kelas. Anak menangis. Hampir dicoret dari tim oleh panitia. Agar bisa bertahan, official sekolah harus mampu membuktikan dengan data dan fakta bahwa yang bersangkutan memang pernah sakit dan sekolahnya tertunda setahun. Kalang kabut semua. Harus bolak-balik ke Graha Pena menyerahkan berkas. Prigen-Surabaya tidaklah dekat. Jauhnya 50 km. Belum kalau Porong macet. Wah..wah.. wah, pokoknya harus berjuang ekstra agar bisa bisa ikut kompetisi. Begitulah seharusnya. Pelajar harus disiplin belajar. Tidak boleh tinggal kelas. Filosofinya, sekolah tetap nomor satu. Student dulu, baru athlete, kata mbak Masany Audry, supervisor kompetisi.

Pelajaran lain yang bisa dipetik. Aturan harus tegas. Melanggar aturan, minggir dari kompetisi. DBL tidak kenal nyolong umur! Bandingkan dengan even di Desa atau Kecamatan. Kemenangan (bukan prestasi) diraih dengan menghalalkan segala cara. Ijazah pemain dipalsu. Tahun lahir disulap agar lebih muda. Otomatis usia senior tapi main di kelompok yunior. Menang ora nggumun, kalah ngisin-ngisini! Bayangkan anak-anak usia belasan tahun sudah diajak kolusi. Mudah-mudahan ajang POPDA atau PORPROV bersih dan sehat!

Aturan kostum juga menggemaskan. Celana lebih 1 cm harus dilipat dan di-dondomi. Panitia sudah antisipasi  Di meja registrasi siap jarum dan benang. Aturan untuk official lain lagi. Harus tampil rapi jali. Pakaian polos terang, berdasi. Celana dan sepatu hitam (disemir biar mengkilat). Bahkan, Kaos Kaki juga harus hitam! Official yang memakai celana biru dongker (biru yang gelapnya seperti hitam) harus kecewa. Jadi penonton, duduk manis di Tribune. Tidak boleh ikut mendampingi pemain.

DBL terkenal disiplin. Terlambat berarti musibah. Selain diskualifikasi wajib setor denda 500 ratus ribu ke panitia. Tidak ada ceritanya pertandingan molor di luar jadwal, kecuali kalau ada perpanjangan waktu. Ini harus diadopsi oleh penyelenggara kompetisi di daerah. Tepat waktu! Datang  terlambat Dis! Jangan seperti rapat-rapat di instansi. Undangan jam 8. Rapat dimulai jam 10. Melelahkan, buang-buang energi

Olahraga identik dengan kesehatan..No Smoking, adalah aturan pertama. Tidak ada sponsor rokok atau membawa rokok ke tribun  Susah, ikut olahraga tapi merokok. Dijamin tidak akan sehat dan berprestasi maksimal. Ini patut diterapkan di sekolah. Kebiasaan merokok sulit diberantas di kalangan pelajar. Larangan, peringatan sampai razia kelas  rutin digelar. Pasalnya, banyak even olahraga di daerah yang masih mengandalkan support dari Pabrik Rokok. Paling memprihatinkan adalah saat di rumah. Si Bapak  nyepur kalau merokok dihadapan anak-anak. Akibatnya, anak jadi kepingin mencoba dan akhirnya merokok bersama. Klop jadinya!

Sepakbola sering diwarnai kericuhan. Tidak sekedar tawur tapi juga anarkis. Deteksi sudah antisipasi. Tidak hanya pemain, official dan tim yel-yel yang harus patuh pada regulasi. Suporter atau penonton juga harus tunduk pada aturan. Tidak boleh mengolok pemain atau  mengolok supporter “lawan”. Tidak boleh membawa rokok, korek (kuatir bakar-bakaran). Dilarang bawa minuman ke tribun (kuatir untuk lempar-lemparan). Intinya, penonton yang tidak tertib akan dingatkan. Bandel, dikeluarkan dari tribune dan dicari dari sekolah mana. Bila  merugikan pertandingan, sekolahnya yang kena sangsi. Tak ayal, DBL jauh dari kericuhan, walau penontonnya berjibun!

Tak terasa enam tahun berkiprah dengan Deteksi.  Senang dan banyak manfaatnya. Suatu ketika, Dinas P & K Kabupaten mengadakan  kompetisi mading. Panitia menunjuk kita jadi juri, sekaligus pelaksana lapangan. Diberi waktu seminggu untuk merencanakan kegiatan , mengundang peserta, mengadakan  Technical Meeting, melaksanakan lomba dan menilai serta menentukan pemenang. .

Untungya pernah ikut Deteksi. Tahu regulasi mading. Sering melihat crew deteksi mengurusi registrasi . Paham apa itu paddock, venue atau mading on the spot. Sering melihat crew Deteksi riwa-riwi koordinasi kegiatan. Sering melihat hasil karya anak muda se Jawa Timur. Sering tertawa sendiri melihat ide kreatif saat pameran dan kampanye. Semua kegiatan di kompetisi Deteksi  rundown-nya mengalir lancar. Enjoy. Alhamdullilah, dari Deteksi itulah kita banyak belajar untuk mengelola kegiatan di daerah. Terima Kasih Mas Azrul dan crew Deteksi. Welcome Deteksi Event 2K9. Amazing Nine, Bravo!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: