Bangun Gairah Menulis lewat Jurnalistik

Jawapos, Sabtu 09 Pebruari 2008

MENULIS Itu Gampang, begitu judul sebuah buku. Kenyataannya, banyak peserta didik yang menyatakan bahwa menulis itu sulit!

Umumnya, kesulitan pertama adalah menemukan ide. Mengangkat tema atau topik sebagai awal membuat tulisan merupakan pokok permasalahan yang sering dialami para pelajar. Tak jarang, menulis judul saja, perlu waktu bermenit-menit. Kemudian, bila ide sudah didapat, muncul problem berikutnya. Bagaimana dan dari mana memulainya? <!-more->

Begitulah. Menulis itu gampang bagi yang sudah terlatih membuat karya tulis. Tapi, tetap saja, mengawali membuat tulisan atau mengajari supaya anak mau menulis merupakan tantangan yang harus dihadapi di lapangan.

Sebagai pembina KIR (kelompok ilmiah remaja) dan Media Sekolah (majalah dinding, majalah sekolah, dan newspaper design), awalnya penulis juga sangat sulit “menemukan” anak-anak yang mau menulis. Padahal, tulisan untuk media sekolah bisa apa saja dan berupa apa saja.

Cerita pendek, puisi, pantun, artikel, atau sekadar titip salam adalah tulisan yang diharapkan muncul dari kalangan pelajar. Tapi, harapan kadang tinggal harapan. Hanya satu dua tulisan yang mampir di meja redaksi. Akhirnya, bisa diduga, deadline terbit media sekolah akan molor atau malah tidak terbit sama sekali.

Sejak awal Januari 2008, di halaman koran ini muncul banyak tulisan yang dibuat para guru. Mayoritas merupakan hasil refleksi dan pencairan memori serta pengalaman selama menjadi guru. Ada pula gagasan orisinal tentang perbaikan sistem dan kebijakan di bidang pendidikan.

Artinya apa? Siapa saja akan mampu menulis jika ada motivasi untuk menulis dan mempunyai rekaman pengalaman tentang sesuatu. Rekaman itulah yang pada akhirnya bisa dijadikan inspirasi sebagai bahan tulisan.

Menulis berdasar pengalaman itulah yang penulis gunakan sebagai cara efektif agar anak bergairah menulis. Menulis berdasar pengalaman prinsipnya adalah menggunakan cara-cara jurnalistik.

Jurnalistik merupakan segala kegiatan yang berkaitan dengan proses mencari informasi, mengumpulkan, memilih dan memilah, serta membuat laporan tertulis. Termasuk mendokumentasikan objek serta melakukan wawancara.

Memang, jurnalistik adalah proses yang dilakukan seorang wartawan saat memburu berita di lapangan. Tapi, kegiatan jurnalistik tersebut ternyata sangat ampuh digunakan untuk mengajak anak belajar menulis.

Langkah pertama, tentu dibentuk kelompok siswa calon-calon penulis yang punya minat menulis, tapi kesulitan dalam memulai atau membuat tulisan. Kemudian, diadakan pendidikan dan latihan (diklat) singkat jurnalistik. Inti diklat adalah menyampaikan tentang apa dan bagaimana jurnalistik tersebut. Termasuk tentunya mengenalkan rumus wajib penulisan jurnalistik: 5W + 1 H.

Rumus sederhana itu meliputi: what (apa), who (siapa), where (di mana), when (kapan), why (mengapa), dan how (bagaimana). Dengan berbekal pertanyaan tersebut, anak diajak mencari jawaban ke lapangan. Dari jawaban yang diperoleh di lapangan itulah akan disusun sebuah tulisan.

Sebagaimana kita ketahui, dalam tulisan jurnalistik, dikenal adanya model tulisan piramida terbalik. Artinya, tulisan dimulai dari bagian yang penting (lead), kurang penting, dan menuju pada tulisan yang tidak penting. Dengan membuat tulisan seperti itu, siswa mudah menuliskan informasi yang telah didapat. Tidak perlu panjang lebar, cukup memenuhi unsur 5W + 1 H yang disusun dalam beberapa paragraf. Dengan latihan berulang, niscaya kemampuan anak akan makin terasa lantaran mereka sudah bisa memulai!

Langkah kedua adalah hunting. Yakni, kegiatan seorang jurnalis saat berburu berita. Untuk pelajar, hunting adalah kunjungan ke lapangan. Selama ini, penulis cenderung mengajak siswa berkunjung ke objek wisata sejarah dan objek wisata alam sebagai sasaran hunting. Saat hunting itulah kelompok siswa sudah diajak untuk melakukan kegiatan jurnalistik. Mulai melihat, mencatat, sampai mendokumentasikan objek. Tak kalah pentingnya adalah melakukan wawancara dengan narasumber guna memperkaya tulisan dari objek yang sedang diamati.

Siswa akan lebih bergairah melakukan aktivitas tersebut lantaran suasananya berbeda dari keseharian mereka. Berkunjung ke objek wisata jelas menyenangkan dan menyegarkan pikiran.

Sebagai contoh konkret, misalnya, kunjungan ke Situs Candi Jawi. Siswa dikelompokkan dalam beberapa kelompok kecil, maksimal tiga orang. Jika ada 30 orang, berarti ada 10 kelompok. Tapi, setiap kelompok diharuskan membuat laporan yang berbeda untuk objek yang sama, yaitu Candi Jawi.

Kelompok pertama membuat laporan tentang kegiatan teman-temannya saat hunting. Mereka melaporkan bagaimana persiapan kegiatan, berapa orang yang ikut, siapa yang mendampingi, ke mana tujuannya, apa yang dilakukan di sana, dan seterusnya. Intinya, kelompok tersebut membuat berita langsung (straight news) dari kegiatan para siswa di Candi Jawi. Di kelompok itulah penerapan 5W dan 1H begitu kental.

Kelompok lain diarahkan untuk menulis tentang objek Candi Jawi itu. Kapan didirikan, terbuat dari bahan apa, untuk apa candi dibangun, oleh siapa, dan seterusnya. Kelompok tersebut diharapkan menghasilkan sebuah artikel tentang Candi Jawi. Sekali lagi, rumus 5W dan 1H tetap digunakan, walau tidak kaku untuk diterapkan.

Kelompok berikutnya diharapkan lebih berpusat pada sosok juru pelihara candi (juru kunci). Dengan wawancara, diharapkan tergali segala aspek keseharian sang juru kunci. Mulai jam berapa berangkat kerja, kapan pulangnya, bagaimana anak dan istri di rumah, berapa gajinya, sampai suka duka menjadi juru pelihara. Tujuan akhir kelompok tersebut adalah menghasilkan sebuah feature (karangan khas human interest) tentang sisi kehidupan keseharian seorang penjaga candi.

Seluruh kelompok boleh melakukan aktivitas yang sama. Misalnya, mengamati, mendokumentasikan, mencatat, melihat, sampai wawancara dengan juru kunci. Tapi, mereka diarahkan menghasilkan produk yang berbeda.

Metode jurnalistik itu efektif untuk memotivasi anak belajar menulis. Anak tinggal menuliskan kembali rekaman pengalaman yang diperoleh saat hunting. Coba bandingkan jika kita hanya mengajari mereka membuat tulisan. Temanya tentang AIDS atau narkoba. Boleh jadi, anak akan ke perpustakaan, membaca, kemudian “akan” menulis.

Anak akan kesulitan memulai membuat tulisan karena semua hanya ada di angan-angan dan pikiran. Berbeda kalau anak sudah melakukan pengamatan di lapangan, mencatat, dan melakukan wawancara, niscaya mereka akan lebih cepat dalam membuat sebuah tulisan dengan menerapkan rumus jurnalistiknya. Sebab, tulisan jurnalistik singkat, padat, tidak bertele-tele, tapi tetap bermutu.

Bila aktivitas lapangan sudah dilakukan, siswa segera membuat tulisan. Agar mereka lebih bersemangat untuk menulis dan menulis, di sekolah perlu ada wadah untuk menampung tulisan mereka. Majalah dinding, majalah sekolah, dan newspaper design (koran sekolah) merupakan media efektif untuk itu. Mengingat media sekolah tidak membatasi jenis tulisan yang dimuat, diharapkan anak bisa menyalurkan seluruh kreativitas mereka. Entah berupa berita liputan sekolah, reportase, feature, atau opini.

Pantun, puisi, cerita pendek, atau sekadar humor dan karikatur juga boleh. Intinya, para pelajar akan bangga jika tulisannya dimuat di media sekolah dan dibaca seluruh civitas sekolah. Dari situlah motivasi menulis akan selalu terjaga dan akan memacu munculnya ide-ide baru tentang bahan tulisan.

Pelajar zaman sekarang sangat beruntung. Banyak even anak muda, baik tingkat lokal, regional, dan nasional, yang bertujuan menggairahkan kegiatan menulis. Misalnya, lomba karya tulis, lomba mading, lomba newspaper design, dan journalist competition. Setiap tahun rutin digelar. Simak misalnya DetEksi Mading Championship Jawa Pos, Newspaper Design Radar Teen, atau lomba karya tulis pelajar regional maupun nasional. Semua itu merupakan media efektif bagi anak untuk mengembangkan bakat serta kemampuan menulis.

Satu lagi cara agar anak lebih bergairah menulis adalah membuat blog. Blog adalah media untuk mencurahkan segala bentuk ide, gagasan, opini, termasuk liputan jurnalistik melalui internet. Banyak situs gratis di internet seperti wordpress.com, blogger.com, atau multiply yang memang merupakan tempat untuk membuat blog.

Di media tersebut, anak-anak dibimbing untuk mencurahkan segenap gagasan, menuliskan ide, atau sekadar catatan kegiatan sehari-hari dalam bentuk tulisan. Mereka bebas berekspresi. Niscaya, dengan banyak melakukan blogwalking dan membaca karya orang lain, niscaya gairah menulis mereka akan semakin tumbuh dan berkembang. Mengapa? Sebab, di internet, banyak blog yang dibuat dan dikelola anak-anak sekolah. Intinya, kalau orang lain bisa, mengapa kita tidak?

Demikianlah, jurnalistik sangat efektif agar anak yang masih berpikir lateral bergairah menulis. Jangan mengajak mereka langsung menulis sesuatu yang abstrak, padahal banyak objek konkret yang masih layak ditulis. (*)

5 responses to this post.

  1. Klo menulis sesuatu yg Qta tertarik bagaimana? Apakah akan mempermudah untuk Memulai sebuah tulisan?
    Salam – KIR 25 –

    Balas

  2. Posted by teguhhariawan on 21 Maret 2009 at 4:19 am

    Saya kira jwabnya ya. Banyak jalan untuk memulai menulis, salah satunya tentu saja SESUATU yg “eyecathching or braincatching” shg kita tertarik utk menulisnya. Thanks.

    Balas

  3. Tulisannya bagus, sy copy yah…mungkin nanti sy kutip untuk kepentingan amal, trims dan selamat berkarya terus….

    Balas

  4. Posted by gusti on 22 Januari 2010 at 1:23 pm

    Menarik untuk diterapkan di sekolah2 dan juga yang lainnya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: