Jumeneng Adipati Pasuruan

Setalah peperangan usai, di dalam kraton diadakan pertemuan penting yang dihadiri  Kanjeng Sunan Amangkurat, Pangeran Adipati Anom, Pangeran Puger, Patih Nerangkusumo dan Untung Suropati. Mereka membicarakan tentang masa depan Kartasura setelah terjadi peperangan. Sri Sunan bersabda agar kedudukan Mataram tidak terancam sebaiknya Untung Suropati dan Nerangkusumo meninggalkan Kartasura, sebab kompeni sudah mengetahui perbuatan mereka. Kanjeng Sunan menganugerahkan Kadipaten Pasuruan beserta seluruh wilayahnya kepada Untung Suropati untuk dijadikan sebuah pemerintahan baru. Saat itu Pasuruan sedang dikuasai oleh para pemberontak yang membangkang kepada Kartasura. Selain itu Untung Suropati juga dianugerahi nama Tumenggung Wironegoro.

Tiga hari setelah pertemuan di kraton, Untung Suropati, Raden Ayu Gusik Kusumo, Nerangkusumo beserta seluruh prajuritnya berangkat menuju Pasuruan. Mereka membawa persenjataan dan perbekalan dalam jumlah yang mencukupi. Perjalanan jauh itu dilalui dengan penuh semangat karena di Pasuruan mereka akan mendapatkan negeri baru yang memberi kebahagian lahir batin. Untuk mengelabuhi kompeni Sunan Amangkurat mengirimkan prajurit Mataram yang seolah-olah mengejar kepergian mereka. Tetapi pengejaran itu dihentikan ketika sampai di tapal batas timur Madiun dan kembali lagi ke Kartasura.

Untung Suropati mulai menundukkan para bupati agar mengakui kekuasaannya. Setapak demi setapak para bupati menyatakan tunduk dengan damai, mereka sudah mendengar berita tentang keperkasaan Untung Suropati dan pasukannya. Tetapi beberapa bupati terpaksa ditundukkan melalui peperangan. Dalam waktu singkat Kadipaten Pasuruan dan seluruh wilayahnya berhasil dikuasai Untung Suropati.  Selanjutnya Untung Suropati dinobatkan sebagai Adipati Pasuruan dengan nama abhiseka Adipati Wironegoro.

Kompeni di Batavia tidak dapat berbuat banyak terhadap Pasuruan. Hampir dua puluh tahun Kadipaten Pasuruan terbebas dari ancaman kompeni. Rakyat hidup tentram lahir batin di bawah pimpinan Adipati Wironegoro. Nerangkusumo diberi kekuasaan memimpin tanah perdikan yang sangat luas di sekitar Bangil. Gusik Kusumo sangat berbahagia mendampingi suaminya, terlebih lagi mereka dikaruniai tiga orang putra yang gagah seperti ayahnya. Putra pertama bernama Raden Surahim, putra ke dua bernama Raden Suropati dan putra bungsu bernama Raden Surodilogo.

Perkembangan Kadipaten Pasuruan yang sangat cepat membuat cemas kompeni Belanda. Bala prajurit Adipati Wironegoro terus bertembah besar dan kuat, selain itu mereka mempunyai banyak ilmu kadigdayan yang sangat sulit dilawan. Kadipaten Pasuruan benar-benar menjadi sebuah negara mandiri dan tidak terikat pada kekuasaan Mataram di Kartasura. Kompeni sama sekali tidak dapat melakukan tekanan atau memaksakan kepentingannya kepada Untung Suropati melalui kekuasaan Mataram. Keberadaan Pasuruan merupakan ancaman serius bagi kelangsungan kompeni di tanah Jawa. Untuk itulah kompeni Belanda dengan sekuat tenaga berusaha agar Untung Suropati dan seluruh keturunannya  harus dilenyapkan dari gelanggang politik dan kekuasaan.

Tahun 1703 di Kartasura terjadi perubahan pemerintahan, Sunan Amangkurat II wafat dan digantikan oleh Pangeran Adipati Anom (putra mahkota), beliau menggunakan gelar Sunan Amangkurat III (Sunan Mas). Sejak awal penobatan Sunan Mas sudah banyak sentana kraton yang tidak setuju, mereka menilai putra mahkota tidak layak menjadi raja karena perbuatannya kurang terpuji, terutama dalam urusan perempuan. Mereka mengkhawatirkan Kartasura akan kehilangan kewibawaan kerana dipimpin seorang raja yang tindak-tanduknya tidak terpuji.

Ketika belum dinobatkan sebagai raja, Adipati Anom pernah melakukan perbuatan buruk yang sulit dilupakan oleh keluarga kraton Kartasura. Putra sulung Pangeran Puger yang bernama Raden Ajeng Lembah adalah istri Kanjeng Adipati Anom. Lembah dituduh berbuat serong dengan seorang lelaki putra Patih Sindurejo yang bernama Raden Sukro. Karena merasa tidak berbuat seperti tuduhan suaminya, Lembah memilih purik (pulang ke rumah orang tuanya). Adipati Anom tidak menjemput istrinya, tetapi malah menyuruh mertuanya membunuh Raden Ajeng Lembah. Tindakan Adipati Anom sangat memukul keluarga Pugeran, mereka sama sekali tidak menyangka Adipati Anom tega melakukan itu kepada sanak saudaranya sendiri.

Dengan sangat terpaksa Pangeran Puger memenuhi tuntutan menantunya. Beliau memerintahkan semua saudara Lembah untuk membunuh kakaknya sendiri. Diiringi ratap tangis dan duka yang dalam mereka melaksanakan perintah ayahandanya. Raden Ajeng Lembah menemui ajal dan jasadnya dimakamkan di sebelah barat kraton Kartasura. Sesudah istrinya meninggal, Adipati Anom memerintahkan orang kepercayaannya untuk membunuh Raden Sukro. Pada waktu Adipati Anom sudah dinobatkan sebagai raja, salah seorang putra Pangeran Puger yang bernama Raden Mas Suryokusumo sangat marah kepada Kanjeng Sunan. Beliau meninggalkan Kartasura dan menghimpun kekuatan untuk melakukan pemberontakan. Kanjeng Sunan Mas segera mengirimkan bala prajurit untuk menangkap Suryokusumo. Setelah tertangkap, Suryokusumo dimasukkan dalam keranjang dan diarak keliling kota. Meskipun sudah disakiti hatinya, Pangeran Puger masih bisa menahan diri dan tetap setia kepada Sunan Mas.

Perbuatan Sunan Mas semakin lepas kendali, beliau tega berbuat serong dengan salah seorang istri Adipati Cakraningrat. Adipati dari Madura itu tidak mampu menahan amarahnya, beliau tidak akan mengampuni kesalahan Sunan Mas. Dari berbagai kesalahan yang dilakukan Sunan Mas, akhirnya menjadi pemicu api pemberontakan. Adipati Cakraningrat (Madura), Adipati Jangrono (Surabaya) dan para pejabat kraton sudah sepakat hendak menggulingkan Sunan Mas, kemudian menobatkan Pangeran Puger sebagai raja Kartasura.

Meskipun memiliki tabiat kurang baik, namun Sunan mas adalah seorang yang anti kepada Belanda. Saat penobatannya dulu, beliau hanya mengirim surat pemberitahuan kepada kompeni melalui prajurit rendahan.  Lebih jauh lagi Sunan Mas tidak bersedia memperbaharui kontrak dan menolak membayar hutang Mataram kepada kompeni yang ditinggalkan jaman Sunan Amangkurat II. Sunan Mas juga menjalin hubungan yang sangat baik dengan adipati Pasuruan, hal itu semakin menambah ketidaksenangan kompeni kepada beliau. Hubungan yang harmonis dengan Untung Suropati akan sangat mengancam keberadaan kompeni di tanah Jawa.

Masa pemerintahan Sunan Mas hanya berlangsung sangat singkat karena tahun 1704 Pangeran Puger yang didukung berbagai kekuatan tidak mengakui kekuasaan Sunan Mas. Kompeni yang sejak awal sudah berseberangan dengan Sunan Mas segera memanfaatkan situasi politik di Kartasura. Dengan dukungan kompeni, Pangeran Puger jumeneng raja Mataram bergelar Sunan Pakubuwono. Penobatan itu dilakukan di Semarang. Sunan Pakubuwono beserta pengikutnya berangkat ke Kartasura untuk merebut pusat pemerintahan. Menyadari kekuatan pendukungnya tidak sebanding, Sunan Mas meninggalkan kraton sebelum Sunan Pakubuwono melakukan penyerangan. Sunan Pakubuwono berhasil menguasai Kartasura tanpa ada perlawanan. Kraton sudah dalam keadaan kosong, sehingga sama sekali tidak ada korban sia-sia di medan laga.

Kompeni pintar mengail di air keruh, setelah penobatan raja Kartasura, kompeni menganjukan tuntutan atas semua bantuan yang telah diberikan kepada Pangeran Puger. Kerajaan Mataram harus menyerahkan wilayah Jepara, Tegal, Demak dan belahan timur Madura kepada kompeni. Di samping itu Sunan Pakubuwono harus memperbaharui kontrak dan mengangsur semua hutang Mataram kepada kompeni. Tuntutan kompeni terpaksa dipenuhi karena Pangeran Puger sudah kalah dalam perjanjian. Kebesaran Mataram mulai pudar akibat para generasi penerus saling berebut kekuasaan yang pada akhirnya justru memberi angin kepada kompeni Belanda untuk menancapkan taring penjajahan di tanah Jawa.

By Sudradiningrat, on Oktober 14, 2010 at 11:07 am, under Untung Suropati

2 responses to this post.

  1. yah begitulah..hingga saat ini saya pun berpikir, apakah watak “bangsa” kita pada dasarnya memang sama saja sejak jaman dulu sampai sekarang? Kekuasaan, wanita, harta, selalu jadi topik utama yang diperebutkan, sehingga membuat “ketidaktrentaman” bagi rakyat biasa…

    Balas

  2. Melihat dan sejenak membaca artikel2 panjenengan, menarik juga…
    *GBU buat smastra pak teguh*

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: