Nabuh GONG di Perut Bumi Pacitan

Pacitan, I’m coming! Akhirnya sampai juga di Pacitan. Kota kecil nan tenang. Jalanan nggak macet. Aktifitas penduduknya tidak terburu-buru. Nggakribet seperti Surabaya. Jakarta, apalagi. Di kota ini, SBY, pak presiden, lahir, tumbuh dan meremaja.

Sesuai rencana, buruan pertama di Pacitan adalah Goa Gong. Letaknya di Dusun Pule, Desa Bomo, Kecamatan Punung. 37 km dari pusat kota. Segera meluncur di jalur Pacitan – Sedeng – Pringkuku – Punung. Tak sulit menemukan lokasi. Banyak penunjuk arah. Takut kesasar, bertanya juga ok. Walau tanahnya keras, gersang, berbatu kapur, tapi penduduknya ramah-ramah.

Sampai di lokasi, cukup bayarRp. 4000 per kepala. Setelah naik tangga dan melewati deretan penjual makanan dan souvenir khas Pacitan, sampailah di punggung bukit. Di sana disambut penjaga pintu. Dua Raksasa memegang Gada. Hitam dan serem. Terus saja menuju mulut goa.

Di depan mulut goa hawanya panas, maklum masuk kawasan Pantai Selatan. Namanya Goa, pasti gelap. Tapi tak perlu kuatir. Bisa sewa senter. Bayar dua ribu sepuasnya. Begitu masuk, Subhanallah! Indah nian pemandangan. Sungguh. Seakan memasuki terowongan raksasa yang penuh dengan gumpalan dan ukiran alam. Untuk mengusir hawa panas, blower-blower besar telah dipasang diberbagai sudut. Sehingga wisatawan nyaman. Ya.. agak sumuk sih.

Diantara kegelapan, nampak stalagtit dan stalagmit yang menjulur-julur. Menjuntai-juntai. Dibantu sorotan lampu warna warni, kumpulan stalagtit dan stalagmititu memantulkan keelokan yang memanjakan mata. Gradasi warana dari perpaduan lampu dan warna asli stalagtit dan stalagmit unik dan menarik.

Sumber: Sendang (Mata Air) di dalam Goa Gong (dok pribadi0

Batuan karts yang ditembusi oleh air yang meresap itu membentuk aneka ornamen stalagtit dan stalagmit yang beraneka. Ada yang bertautan. Ada yang mirip rambut terurai. Mirip keong raksasa. Labirin. Pokoknya terserah persepsi masing-masing-lah. Yang jelas, sensasi di mata benar-benar luar biasa!

Warnanya ukiran alam itu dominan coklat tua kekuningan. Ada juga yang masih berwarna putih. Menandakan stalagtit dan stalagmitnya masih baru. Sedang tumbuh dan berkembang. Setia mengukir keelokan di perut bumi.

Jalur dalam goa dipecah dua. Masuk dan keluar. Kanan kiri diberi pagar pengaman. Maklum, di dalam basah dan agak licin. Makin ke dalam makin eksotis. Pantas menyandang Goa Terindah dise Asia Tenggara.Lukisan dalam goa dapat dibandingkan dengan Goa Maharani di Lamongan. Tapi yang ini lebih besar dan lebih bervariasi detailnya.

Sumber: Batu Kristal di Stalagmit Goa Gong (dok pribadi)

Setelah melewati tangga turun dan meliuk-liuk dapat ditemui batuan kristal. Begitu dosorot tampak kerlap-kerlip. Ingin tanggan menggapai. Mencongkel kalau boleh… he he he. Sesudah beberapa kelokan sempit, ada Sendang. Sumber air bawah tanah. Mata Air ini mungkin yang konon pernah ditemukan oleh Mbah Noyo Semito puluhan tahun yang silam. Menyempatkan cuci muka sebentar. Airnya segar. Tapi agak pekat. Maklum air kapur.

Beberapa langkah kemudian ada pemandangan yangtak akan pernah dilupakan. Stalagtit raksasa yang menggantung. Konon inilah Gong-nya. Ambil kesempatan pertama. Gong… Gong.. Gong, tiga kali ayunan tangan menggetarkan stalagtit. Bunyinya memang tidak terlalu keras tapi benar-benar seperti Gong! Nabuh Gong di perut bumi.

Sumber: Gong Gong Gong… Nabuh Gong (dok pribadi)

Catatan :

Goa Gong ditemukan Minggu Pon, 5 Maret 1995 oleh Wakino (30th), Suramin (54th),Paino (42th) dan 5 teman yang lain. Perjuangan antara hidup dan mati saat delapan orang penduduk Dusun Pule itu memberanikan diri menyusuri Goa yang masih perawan. Bagaimana tidak, hanya dengan penerangan senter, lampu petromak mereka nekat masuk ke Goa yang tidak tahu ujung pangkalnya. Luasnya berapa dan ada apa di dalamnya. Untungnya setelah sempat tersesat, mereka bisa menemukan jalan keluar. (Goa Gong : Obyek Wisata Kab. Pacitan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: