Untuk Apa Belajar Sejarah?

Kenyataan historis kadang terlalu pahit untuk ditelan dan terlalu pedas untuk dirasakan. Sejarah adalah kaca benggala yang memuat pelbagai fakta yang pernah terjadi pada waktu yang sudah silam. Yang sedap tidak usah menyebabkan kita membusungkan dada, yang pedas tidak usah mengecilkan hati kita. Kita harus pandai menarik keuntungan dari kejadian yang telah lampau demi masa yang akan datang. Demikian kata-kata bijak Prof. SlametMuljana mengingatkan kita tentang arti penting sejarah dan peninggalan sejarah bagi hidup dan kehidupan.

Dalam khazanah sejarah Indonesia, Jawa Timur, Jawa Tengah juga Jawa Barat, banyak menyumbangkan informasi yang tak ternilai. Hampir di seluruh penjuru daerah tersebut tersebar peninggalan sejarah. Di Jawa Timur ada Candi Penataran, Candi Jago, Candi Singosari dan Candi Jawi Belum lagi yang tersebar di lereng barat Gunung Penanggungan. Mulai dari Patirtaan Jalatunda, Watukelir, Kendalisodo sampai candi di dekat puncak G. Penanggungan (candi dengan prototipe punden berundak). Bahkan, Situs Trowulan di Mojokerto, diakui sebagai situs kota kuno terlengkap di Indonesia.

Sumber: Candi Sukuh, Karanganyar, Jawa tengah (dok pribadi)

Di dekat kota-kota Jawa Tengah dijumpai Candi Prambanan, Borobudur, Candi Loro Jonggrang. Sampai di Gunung pun ditemukan candi . Sukuh dan Cetho di lereng Barat Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar. Kompleks Candi Arjuno di Dataran Tinggi Dieng juga sangat eksotis.

Pertanyaannya: Sudahkah potensi tersebut termanfaatkan secara optimalsebagai penunjang proses belajar mengajar di sekolah? Jawabanya ada yang sudah, tapi masih banyak yang belum. Nggak percaya, Coba tanya pelajar yang tinggal di daerah Malang: Pernahkah mendapat tugas membuat makalah tentang Candi Singosari, Candi Kidal atau candi Songgoriti? Atau bertanyalah pada siswa di Mojokerto: Apa lambang kerajaan Majapahit? Dimanakah letak Situs Jalatunda ? Niscaya akan didapat jawaban beragam. Kesimpulannya, banyak guru yang sudah memanfaatkan sebagai sumber. Tapi, banyak juga yang belum menyentuhnya.

Sumber: Kompelsks Candi Arjuna, Dieng, Jawa Tengah (dok pribadi)

Sungguh sayang, jika mata pelajaran sejarah hanya berupa cerita di atas kertas. Artinya, pembelajaran sejarah kita terlalu kering. Tidak membumi. Tidak akrab dengan lingkungan sekitarnya. Diakui atau tidak, sampai saat ini belum ada tindakan tepat agar peninggalan sejarah bisa memajukan dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar maupun dunia pendidikan. Banyak peninggalan sejarah tidak terawat. Niscaya, suatu saat akan menjadi tumpukan batu tak bermakna. Sangat disayangkan, objek sejarah sering terlewatkan sebagai sumber sejarah lokal yang sangat bermanfaat

Sumber: Hunting KIR ke Candi Jago, Malang (dok pribadi)

Bahkan, saking nemen-nya tidak tahu arti penting nilai historis peninggalan sejarah, pelajar dengan seenaknyacorat-coret di batu candi. Artinya, vandalisme tidak hanya diderita oleh kayu hutan saja. Konyolnya, ada yang sengaja menambah bagian ”tubuh” arca dengan tambalan semen menurut sekehendak hati. Jauh dari kesan indah. Apalagi artistik (bahkan merusak!) Boleh jadi saat kepepet, kasus pencurian arca seperti yang terjadi di berbagai bisa terjadi di sekitar kita!

Berita pembangunan Majapahit Park di Trowulan tepatnya di kawasan Situs Segaran II beberapa waktu lalu juga sempat menjadikan kita tersentak dan prihatin. Tanah di pusat Majapahit itu, saat itu digali dengan bengis sehingga banyak tembok bata serta sumur jobong harus runtuh dan pecah berantakan lantaran akan digunakan untuk pondasi pembangunan Gedung Majapahit Park. Sungguh, sangat menyesakkan! Padahal di sana banyak pakar sejarah!

Sumber: Candi Tikur, Trowulan Mojokerto (dok pribadi)

Inilah mungkin efek samping pembelajaran sejarah di sekolah. Banyak pelajar bahkan pakar sejarah sekalipun, tidak akrab dengan sejarah di wilayahnya sendiri. Kenapa? Ya, karena banyak objek sejarah yang belum dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Tidak masuk sebagai muatan lokal. Kurang dimanfaatkan untuk pembelajaran di luar kelas. Jarang pula digunakan sebagai penunjang kegiatan ekstrakurikuler.

Sumber: Candi Jawi, Prigen, Jawa Timur (dok pribadi)

Nah, sungguh tepat bila Menteri Pendidikan M. Nuh mengatakan materi buku 3 mata pelajaran SMA akan ditinjau ulang. Salah satunya materi mata pelajaran Sejarah. Tapi, sampai sejauh ini belum ada informasi apapun atau sejauh mana perubahan isi materi sejarah tersebut. Namun, harapannya, objek-objek sejarah purbakala benar-benar dimanfaatkan secara maksimal dalam konteks pembelajaran di penerapan kurikulum 2013. Lebih menggembirakan lagi, salah satu hasil rembuk pendidikan tahun 2013 juga merekomendasikan Revitalisasi Museum dan Cagar Budaya. Semoga tujuan dari semua itu bisa tercapai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: