Memilih Berjuang Bersama Anak Berbakat dari Keluarga Sederhana

Jadi guru adalah tekad sejak SMA. Maka saat PMDK (Penelusuran Minat Dan Kemampuan), masuk PTN tanpa tes, saya hanya daftar di IKIP Malang. Alhamdulillah diterima. Padahal, saat itu jadi guru bukan pilihan utama anak muda. Bahkan guru saya  yakin kalau saya bisa diterima di PTN non keguruan. Tapi bagi saya, jadi guru adalah yang terbaik. Pertama, SPP-nya murah. Kedua, lulus langsung kerja. Tentu saja bekerja jadi guru. Padahal sosok guru,  detilnya  tak pernah terbayangkan dalam benak.

Tahun 1991 lulus IKIP langsung jadi guru GTT di SMA. Guru Tidak Tetap, honorariumnya dihitung dari jumlah jam mengajar. Mengajar sedikit, otomatis take home pay-nya sedikit. Begitu sebaliknya. Tapi, jadi guru merupakan panggilan hati. Saya wajib memperjuangkan pilihan itu.

Alhamdulillah, tahun 1993 lolos tes guru PNS. Langsung jadi CAPEG, ditempatkan di sekolah swasta. Istilahnya guru DPK (Dipekerjakan), yakni Guru PNS di sekolah swasta. Kecil pula. Muridnya tak lebih dari 100 anak. Tahun 1996 ada tawaran mutasi ke SMA Negeri di kota, karena guru Fisika termasuk langka kala itu. SMA Negeri fasilitasnya lengkap. Lebih berprestise. Tawaran menarik sebenarnya. Nah, ujungnya  saya harus membuat keputusan. Tetap mengabdi atau meninggalkan anak didik di SMA Swasta yang kecil untuk pindah ke kota.

Terinspirasi gagasan Gardner: Multiple Intelligence.  Ada 8 tipe kecerdasan yang dimiliki manusia. Artinya, semua anak itu cerdas! Saya yakin, diantara siswa-siswa saya ini, pasti ada yang punya minimal satu kecerdasan seperti teori Gardner. Entah kecerdasan verbal, matematik, motorik, musik atau yang lain. Secara akademik mungkin mereka kalah,  tapi saya yakin mereka mampu berprestasi di  bidang non akademik. Itulah yang meneguhkan saya untuk tetap mengajar di sekolah swasta. Dan siapa sangka, keputusan ini menjadi titik balik dalam hidup saya.

13763915181543895322

Memindahkan kerangka Mading 3 Dimensi

Juara Mading Nasional

Saya membentuk KIR (Kelompok Ilmiah Remaja). Wadah bagi anak berbakat menulis, menggambar, juga yang trampil membuat kerajinan.  KIR tidak melulu menulis karya ilmiah. Malah cenderung berkutat di dunia jurnalistik dengan memproduksi Mading (Majalah Dinding) dan Newspaper Design, semacam koran. Alhamdulillah, prestasi mulai muncul. Juara Karya Tulis dan Juara Mading Tingkat Kabupaten mampu disabet. Bahkan, Mading buatan murid-murid saya mampu jadi Juara 2 Mading Tingkat Nasional yang diadakan Majalah Aneka Yess, Jakarta!. Inilah awal perjuangan yang semakin memupuk kepercayaan bahwa pilihan mengabdi di SMA Swasta adalah pilihan tepat.

13763915931219394872

Kegiatan KIR

13763916261200402210

1376391651452847120

DETEKSI

Akhirnya muncul tantangan bersejarah. Tahun 2002, Deteksi Jawa Pos menggelar Deteksi Mading Championship, Lomba Mading Tingkat Provinsi.  Minder, takut kalah, nervous menghinggapi seluruh anak KIR yang saya siapkan untuk lomba. Mereka sudah membayangkan sulit menang karena lawannya adalah pelajar dari kota-kota besar di Jawa Timur, terutama Surabaya. Mereka pesimis karena berasal dari Prigen, desa kecil di kaki Gunung Welirang. 50 kilometer dari Surabaya.

Tahun pertama dan kedua, hasil tim Mading belum  maksimal. Hanya  meraih Honorable Mention. Setelah dua tahun berkompetisi dan belajar dari para pemenang, akhirnya tim mading tahun 2004 mampu berprestasi. Karya mereka masuk Top Ten, menggondol hadiah komputer  senilai 5 juta rupiah. Sangat luar biasa.

1376391691908388543

Mengirim Mading ke Surabaya

1376391763950585123

Tahun 2006, ajang Deteksi makin seru dan beragam. Selain Mading 2D, Mading 3D, Newspaper Design,  danMading on The Spot, juga digelar  lomba lain. Dengan persiapan lebih dari 2 bulan, di tahun 2006 itu murid-murid saya mampu meraih Second Best School, atau Juara Umum Kedua. Mading 3D berjudul ”Mbah Marijan” masuk Top Ten dan menyumbang hadiah 5 juta rupiah. Mading  ”Mangkok: Mading Tiongkok”  jadi  juara 2 kategori Mading On The Spot, menyumbang 1,5 juta rupiah. SedangkanNewspaper Design-nya menyabet juara 2 menggondol hadiah 1,5 juta rupiah. Hadiah yang terkumpul, digunakan anak-anak rekreasi gratis ke Jogjakarta. Saya dan beberapa guru mampir ke rumah Mbah Marijan di Kinahrejo. Terinspirasi dari sosok sederhana, juru kunci Gunung Merapi inilah mading anak-anak mampu meraih prestasi tinggi.

13763917975280414

Membuat mading 2 Dimensi

1376391863239957011

Mading 2 D siap dilombakan

Mengulang Sejarah

Begitulah, walaupun dari sekolah kecil, dari lingkungan sederhana,  jika diberi kesempatan dan kepercayaan niscaya suatu saat  akan jadi anak luar biasa. Tak terasa, lebih dari 18 tahun saya mengabdi di SMA Swasta di lereng gunung.  Sungguh menyenangkan sering jumpa dengan anak-anak berbakat. Walhasil dengan makin tumbuhnya prestasi di berbagai kegiatan ekstrakurikuler, maka jika di awal dulu jumlah murid di sekolah hanya 100 anak, sekarang sudah lebih dari 300 anak.

Tahun 2012 Deteksi Mading berevolusi jadi Deteksi Convention (DetCon), menyelenggarakan kompetisi dengan berbagai mata lomba. Peserta hampir merata dari penjuru Jawa Timur. Total peserta ribuan. Pamerannya di gelar di SSC, mall terbesar di Surabaya selama 10 hari. Ini karena pengunjung DetCon  juga ribuan.

1376391913958638033

Mading 3 D yang interaktif

13763919501075632725

Lembur membuat mading kala libur sekolah

1376391977228295653

Di ajang Detcon 2012, saya menyiapkan anak-anak  mengikuti kompetisi Mading 3D, Mading 2D, danMading On The Spot. Strategi lain, jadi pengirim Mading pertama. Mengapa? Karena pengirim pertama dapat medali. Pemenang semua kategori diberikan medali: Emas, Perak atau Perunggu. Makin banyak menang, makin banyak medali. Peluang jadi Best School makin  terbuka.

Best Campaign (kampanye mading) juga sangat berpeluang dapat medali. Persiapan DetCon pun dilakukan. Anak-anak bekerja dengan keras. Talenta mereka pun terasah. Ada yang membuat Mading 3D dan 2D. Ada yang menyiapkan konsep Mading On The Spot. Rencana kampanye mading pun dibahas dengan serius.Hasilnya luar biasa. Semua tim tampil maksimal. Mading 3D meraih predikat Second Best Mading dan diganjar Perak sekaligus masuk Top Ten diganjar Emas. Mading On The Spot dapat Best Five Bronze. Tim kampanye dengan kostum Fashion Carnival, tampil all out di panggung Deteksi. Membuat ribuan penonton terkesima. Tim Juri mengganjar mereka sebagai Best Campaign ( peraga  kampanye terbaik)  dan  berhak dapat medali emas.

13763956751702140001

Detik-detik menegangkan menunggu pengumuman

1376395703429249118

Hoooreeee……

1376395727645480331

Penerimaan hadiah di panggung DetCon

Alhamdulillah, akumulasi medali Tim SMA Sejahtera Prigen mengantarkan meraih Second Best Schooluntuk kedua kalinya. Mengulang sejarah  tahun 2006. Begitulah, pilihan apapun harus diperjuangkan dan dipertanggung jawabkan. Saya bangga memilih menjadi guru di sekolah swasta kecil di pinggir kota. Bertemu dengan anak-anak yang masih lugu, polos dari keluarga sederhana, tapi punya sorot mata yang memancarkan semangat untuk maju dan berprestasi. Jika bukan kita, siapa yang peduli dengan mereka?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: