Akibat Keras Kepala, Terjebak di Lautan Pasir Kaldera Bromo

1378476321319908150

Merenung dan menikmati alam Bromo (dok pribadi)

 

Gunung  Bromo adalah magnet wisata gunung andalan Jawa Timur. Walaupun sudah berulang kali ke sana,  tetap saja saya tergoda  untuk mengunjunginya. Maka, hari itu setelah mengantarkan 3 anak KIR belajar fotografi yang diadakan Radar Bromo Probolinggo, saya mengajak mereka hunting ke Bromo. Rencananya, dari Bromo pulang ke Pasuruan dengan menyeberang Lautan Pasir.  Sekalian mampir di rumah kerabat di Nongkojajar. Rutenya Probolinggo  – Sukapura- Cemoro Lawang – Lautan Pasir – Pertigaan Dingklik – Wonokitri – Tosari – Nongkojajar – Purwodadi – Pandaan – Prigen.

 

13784771271265705375

Peta perjalanan Probolinggo – Bromo – Pasuruan (arcopodho.wordpress.com)

 

 

1378476349393952883

Sesi Pelatihan Fotografi di Radar Bromo (dok pribadi)

 

 

13784763751272790612

 

Maka, siang itu, sesaat setelah pelatihan fotografi yang dipandu Yuyung Abdi, fotografer senior Jawa Pos berakhir,   segera “kendaraan  sejuta umat”  pun dipacu menuju Gunung Bromo. Begitu keluar dari kepadatan kota Probolinggo, jalanan lumayan lengang. Jalan lebar dan mulus. Tikungan dan tanjakan tak begitu menyulitkan. Namun,  mendekati Cemoro Lawang, kelokan tajam dan tanjakan curam mulai menghadang. Hawa dingin mulai menyergap.  Tapi mata begitu dimanjakan. Di kejauhan nampak guratan-guratan dinding bukit hijau  begitu mempesona.

 

1378476524208084272

 

13784764142059392515

 

1378476442668829200

 

Tiba di terminal Cemoro Lawang sempat dihentikan seseorang dan ditawari ganti naik Jeep Hardtop. Saya menolak dengan halus. Tak lama, akhirnya sampai  di pos masuk Gunung Bromo. Saya turun untuk bayar tiket dan ijin pada petugas untuk menuju  ke Lautan Pasir.

 

“Tidak boleh pak. Semua kendaraan harus parkir!” jawab petugas loket.”Semua pengunjung harus naik Jeep kalau ke Lautan Pasir!”

 

“Saya mau ke Nongkojajar. Masak harus kembali turun ke Tongas Probolinggo?” saya beralasan. Kalau naik Jeep yang ongkosnya 400 ribu ke Lautan Pasir, lalu mobil sejuta umat ini mau dikemanakan mas, kata saya dalam hati.

 

Saya bertanya siapa yang berwenang memberi ijin disini. Petugas loket mempersilahkan masuk ke dalam Pos dan memberitahu seseorang yang duduk di pojok.  Saya masuk dan dipersilahkan duduk. Debat kusir pun terjadi. Saya tetap pada pendirian, bahwa saya tidak mau balik turun ke Tongas. Perjalanan turun saja hampir 2 jam. Belum ke Pasuruan. Bisa-bisa kemalaman di jalan.

 

1378476474158736766

 

1378476499493830595

 

Petugas berdalih jalannya naik dari Lautan Pasir ke arah Penanjakan rusak. Hanya Jeep 4×4 yang bisa lewat. Dan alasan lain-lain. Saya “ngeyel” dengan alasan yang tak berubah. Petugas pun menyerah. Setelah bayar tiket dan karcis parkir  (walaupun mobil nggak parkir) saya “diijinkan”  turun ke Lautan Pasir. Mungkin mereka nggerundel di dalam pos he he he. Saya masuk mobil disambut anggota rombongan yang harap-harap cemas. Setelah saya jelaskan, mereka pun tersenyum.

 

Terjebak Pasir

 

Setelah portal dibuka, kami pun meluncur perlahan meninggalkan Pos Masuk Gunung Bromo. Perjalanan menjelajah Lautan Pasir Bromo pun dimulai. Suasana sepi. Mungkin hanya rombongan saya yang sedang melintas saat itu. Pepen, driver yang sering saya ajak jalan-jalan, piawai mencari jalur yang pas. Agar debu tidak beterbangan, kendaraan pun melaju pelan. Saya menunjukkan arah menuju Penanjakan. Karena tidak ada rencana ke Kawah Bromo, kendaraan pun hanya menyisir pinggir tiang pagar pembatas dekat Pura di Lautan Pasir. Setelah melewati deretan tiang pagar akhirnya tiba di dekat Gunung Batok.

 

13784765701747296775

Motor Cross

 

13784766231255458760

 

Tadinya perjalanan lancar-lancar saja. Tiba-tiba muncul hambatan. Mobil kesulitan menakhlukan pasir kering yang membentuk kubangan pasir dan gundukan. Roda mobil hanya berputar-putar dalam pasir. Maju macet-muncur macet. Keringat mulai mengalir. Selain kepanasan juga karena cemas. Padahal jaraknya tak lebih dari 100 meter menuju tanjakan pertama meninggalkan Lautan Pasir.

 

Akhirnya mobil bisa dimundurkan. Lebih dari lima kali mencoba jalur alternatif. Semua sia-sia. Bahkan, sempat hampir masuk bekas jurang kecil yang kering. Mencari bantuan juga nggak mungkin. Akhirnya diputuskan kembali ke jalur awal. Saya dan driver turun melihat kondisi jalur yang akan dilewati. Memilih bagian-bagian yang “keras” .  Sesaat setelah masuk kendaraan driver berpesan agar waspada karena akan menambah kecepatan untuk mengatasi kubangan dan melewati gundukan. Akhirnya, jebakan pasir kering pun terlewati. Mungkin benar kata petugas loket. Hanya Jeep dengan Roda Radial yang cocok di medan seperti ini. Tapi.. sudah terlanjur, he he.

 

13784766781060446387

Lautan Pasir dasna Gunung Batok (dok pribadi)

 

 

Hambatan pertama selesai. Muncul, hambatan berikutnya. Tanjakan pertama dari lautan pasir begitu tinggi dan dimulai dari sebuah belokan. Sungguh menyulitkan. Tanpa ancang-ancang, kendaraan pasti tak kuat naik. Dan benar kata petugas, jalannya rusak parah. Aspal terkelupas. Jalan bolontg-bolong. Akhirnya, driver pun mencoba menaklukkannya. Dengan ancang-ancang yang pendek  mobil melaju cepat. Begitu naik pertama aman. Tiba ditengah, wrrrr..…roda selip, mobil nggak bisa naik.  Mundur.  Mobil di rem keras. Seluruh penumpang kaget. Tapi saya minta tenang. Saya keluar dari mobil. Cari sebongkah batu. Buat pengganjal. Akhirnya dengan penuh kesabaran, mobil pun merayap walaupun meraung-raung. Bau kampas kopling pun menyengat.

 

13784767081311208642

Dari lautan Pasir menuju Pertigaan Dingklik (dok pribadi)

 

 

Sedikit-demi sedikit akhirnya tanjakan dan kelokan bisa dilewati. Mungkin si mobil protes keras karena diperlakukan kasar siang itu. Lebih dari setengah jam akhirnya sampai juga di Pertigaan Dingklik. Driver mencari tempat parkir yang nyaman. Untuk melepaskan ketegangan, semua penumpang turun. Menghirup udara segar di Bromo. Memandang bentang alam nan luas di bawah sana. Nampak  di bawah sana deretan puncak-puncak gunung di kawasan Tengger Bromo Semeru. Nampak pula, guratan-guratan di Lautan Pasir yang menyerupai jalan-jalan  yang melingkar-lingkar.

 

Setelah melepas penat, perjalanan pun dilanjutkan menuruni Gunung Bromo. Melewati Wonokitri dan Tosari. Akhirnya tiba di Nongkojajar. Mampir ke rumah kerabat. Disambut hangat. Menu khas Nongkojajar pun berdatangan. Apel dan susu segar jadi sajian. Lumayan, menurunkan tensi yang tegang setelah terjebak di Lautan Pasir  Bromo.

 

Jangan sampai Anda terjebak di Kaldera Bromo! Saran saya, jangan nekad turun ke Lautan Pasir dengan mobil sendiri. Sangat beresiko.  Pakai motor pun perlu hati-hati. Jika tidak cermat memilih jalur, bisa dibanting motor saat rodanya “terpeleset”  pasir yang kering. Tapi benar, Bromo memang sangat mempesona. Kapan-kapan saya akan mengunjunginya lagi dan lagi.

13784767461974344630

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: