Ecowalk: Sejak Muda Mencintai Lingkungan

13763869511713228628

Hasil

 

 

Huntingadalah kegiatan 3 bulanan KIR (Kelompok Ilmiah Remaja). Tema hunting kali ini adalahEcowalk. Jalan-jalan agar sehat, lebih mengenal lingkungan dan mencintai peninggalan purbakala. Sasaran hunting kali ini, ke Candi Jalatunda (Jolotundo) dan mendaki Gunung Penanggungan.

 

Pukul 06.30, setelahbriefingdi sekolah, saya dan Sentot (pembina Pecinta Alam)  mendampingi 30 anak KIR dan 5 anggota PA (Pecinta Alam)  menumpang 3 mobil meluncur ke Seloliman Trawas, Mojokerto. Setelah menempuh perjalanan hampir 45 menit, sampailah di pelataran parkirCandi Jalatunda. Peserta huntingkembali saya ingatkan untuk mengamati objek dengan cermat, mencari data selengkap mungkin dan tak lupa mendokumentasikannya.  Mereka yang hobi menulis saya beri tugas membuat artikel tentang perjalanan dan objek kunjungan.Mungkin suatu saat tulisan mereka saya minta diposting di Kompasiana.  Setelah membayar tiket 150 ribu, rombongan pun dipersilahkan memasuki lokasi.

 

1376386986384815957

 

1376387010954192467

 

Peserta hunting kali ini adalah anak-anak  yang “baru” bergabung dengan ekstrakurikuler KIR dan PA. Mayoritas dari kelas X. Ada diantara mereka yang jarang bepergian jauh. Apalagi naik mobil yang melewati kelokan-kelokan dan tanjakan. Akibatnya, saat tiba di lokasi 4 orang langsung muntah-muntah. Mabuk kendaraan. Mereka yang sakit segera diberi pertolongan pertama dan istirahat di teras warung.  Teh hangat dan menghirup kayu putih mungkin bisa meringankan sedikit penderitaan.

 

Menikmati Eksotisnya Patirtaan Jalatunda

 

Pagi di Jalatunda sangat mengesankan. Cuaca cerah.  Pohon-pohon besar yang menaungi pelataran menghalangi terik mentari. Di sekeliling ijo royo-royo. Menyegarkan mata.Candi Jalatunda atau tepatnya Patirtaan Jalatunda pun sangat eksotis. Air jernih yang meluncur deras dari teras berpancuran begitu mempesona. Kolam candi pun nampak penuh dengan lusinan Ikan Tombro bersliweran.

 

13763870472145161925

 

1376387076629216920

 

Peserta hunting segerab berpencar  mencari sudut yang menarik untuk dokumentasi.  Ada yang memakai kamera pocket. Ada juga yang bersenjatakan kamera HP. Mereka sangat antusias untuk menggali informasi. Berloncatan di atas batu kolam untuk mendekati bilik-bilik kolam candi. Ada pula yang begitu tertarik dengan pahatan tulisan di dinding candi. Akhirnya, untuk melengkapi data mereka saya persilahkan untuk melihat banner Informasi Arkeologis  yang dipampang di teras ruang istirahat di pojok pelataran.

 

1376387098154940035

 

Naik Gunung Mencari Candi

 

Hampir 1,5 jam  peserta hunting berkeliling di sudut-sudut Patirtaan Jalatunda.  Setelah dianggap cukup, mereka saya beri tantangan selanjutnya. Mendaki Gunung Penanggungan dan menemukan candi-candi lain di atas sana dekat puncak. Ada candi bayi, Candi Putri, Candi Pura, Candi Genthong, Candi Shinta. Mereka menyambut dengan gembira, lantaran hampir separo memang belum pernah naik gunung sama sekali. Akhirnya pendakian pun dimulai. Peserta yang sakit tetap tinggal dan istirahat di mobil. Saya minta pak sopir untuk membantu mengawasi dan membantu keperluan.

 

13763871281989963490

 

13763871491943281451

 

Setelah mengecek kelengkapan dan perbekalan serta  berdoa, maka rombongan pun berangkat. Sentot dana beberapa peserta cowok berjalan di depan.  Dikuti hampir 20 cewek dibelakangnya. Saya berjalan paling belakang. Rombongan memanjang,  mengular memenuhi jalan setapak menuju tengah hutan. Mula-mula jalan tidak begitu menanjak, membuat peserta merasa nyaman. Apalagi canopy kayu hutan memayungi perjalanan. Tapi itu tak berlangsung lama, karena dengan segera, tanjakan pun hadir di depan mata. Maka mulailah terdengar nafas terengah-engah. Termasuk saya he he he… Tercatat 3 kali rombongan diberi kesempatan beristirahat. Sekedar mengurangi ketegangan otot kaki dan memerciki tenggorokan yang mengering.

 

Hutan di kawasan Lereng Barat Gunung Penanggungan saat ini sebagian masih terjaga sebagai hutan lindung. Namun sayang di beberapa petak,  telah berubah fungsi. Kayu hutannya ditebang diganti dengan Kopi dan Pisang. Tapi menurut informasi seorang petugas di Jalatunda, akhir-akhir ini kesadaran masyarakat mulai pulih. Mereka mulai menanam hutan  dengan Kayu Mahoni  yang dulu habis ditebang dijaman reformasi.

 

Menyerah di Candi Bayi

 

Tak terasa, sudah lebih 1 jam perjalanan  mendaki lereng Gunung Penanggungan.  Selepas hutan, jalan makin menanjak. Memasuki lereng terjal penuh semak dan alang-alang yang menututpi jalan.  Tak ada pohon besar satu pun. Perjalananan pun makin tersendat karena banyak peserta kepanasan. Keringat makin bercucuran. Kaos seragam sekolah mulai basah. Tapi dari raut wajah mereka, tampak semangat untuk mendaki tetap menyala.

 

1376387203726525693

 

13763872321621236378

Reruntuhan Candi Bayi (dok pribadi)

 

Akhirnya, di pinggang bukit, dibalik rimbunan Bambu dan Sikatan seseorang yang berjalan paling depan berteriak. “Candi Bayi..!!!” Maka anggota rombongan yang tercecer di belakang dan mendengar teriakan menjadi lebih semangat. Langkah mereka tergesa unntuk segera sampai. Mereka penasaran dengan si Candi Bayi. Maka, satu demi-satu peserta hunting pun tiba dibasecamppertama: Candi Bayi. Dan saat mata memandang ke arah puncak, tampak punggung bukit yang kepanasan. Dibalik semak-semak di atas sana masih tersimpan puluhan candi lain.

 

Candi Bayi, saat ini hanya berupa tumpukan batu Andesit.  Bentuk aslinya sudah tidak nampak lagi. Namun dari sedikit sisa struktur nampak adanya tangga berundak dan altar. Inilah salah satu keunikan candi di Gunung Penanggungan. Candinya berbentuk Punden Berundak.

 

1376387257620640805

 

13763875801860499847

 

Begitu seluruh peserta tiba, maka perbekalan pun dibuka. Saling berbagi dan saling memberi. Sungguh mengasyikkan menikmati makan siang beramai-ramai di antara rimbunan hijau. Ditemani angin gunung yang datang sepoi-sepoi. Begitu semua tandas, saatnya mendaki kembali. Namun,  ternyata “pendaki-pendaki”  pemula ini sudah menyerah di ketinggian 850 meter dpl. . “Sampai disini saja ya pak!’” kata Monica ketua KIR mewakili teman-temannya. Saya pun mengiyakan. Sadar kalau mereka baru kali ini naik gunung.

 

1376387706306989805

Sungai kering sebagai jalan setapak menuju puncak Penangungan

 

Gunung Bukan Tempat Sampah

 

Akhirnya, kegiatan turun gunung pun dimulai. Ketua KIR mengingatkan agar jangan meninggalkan sampah. Semua pembungkus harus dibawa turun. Tidak boleh dibuang sembarang. Apalagi mengotori situs. Saya pun memberi  tantangan. Peserta dibagi dalam 2 kelompok besar. Masing-masing kelompok sembari turun kembali ke Jalatunda berlomba mengumpulkan sampah sebanyak-banyaknya.. Maka, siang itu anggota KIR bahu membahu mengumpulkan sampah plastik yang terserak dan “nylempit”  di kiri kanan jalan turun dari Candi Bayi sampai Patirtaan Jalatunda. Bahkan saking semangatnya, sampah pun jadi rebutan. Hasilnya, kelompok Lukman jadi pemenangnya.

 

1376387677654710927

 

13763877412067614131

Berburu sampah di gunung (dok pribadi)

 

13763877752105656501

 

13763878252016200695

 

Harapannya,  hari itu mereka benar-benar bisa menikmati Ecowalk. Jalan-jalan di hutan  Lereng  Penanggungan menikmati udara segar yang menyehatkan. Naik gunung yang meningkatkan stamina. Serta lebih mencintai peninggalan purbakala yang masih tersisa. Tak kalah pentingnya, mereka bisa lebih mencintai alam dan hutan.

1376387874883356134

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: