Gara-gara KTP Hampir Gagal Silaturahmi dan Menikmati Keindahan Bali

13758436442143893110

Pagi itu cuaca cerah. Angin tak begitu kencang. Ombak biru keperakan mengalun tenang. Tak sampai satu jam, Kapal Fery telah sampai di dermaga Gilimanuk. Alhamdulillah, akhirnya kami berempat sampai juga di Pulau Dewata. Setelah pemeriksaan surat kendaraan oleh Polisi, kendaraan merapat ke Pos Pemeriksaan identitas. Saya, Pepen (driver), Pak Gunarso  segera menyerahkan KTP lewat jendela ke petugas. Saat Pak Aji Sutrisno, rekan seperjalanan menyerahkan identitas, petugas tercenung sejenak. Mengamati KTP berulang-ulang.

Mari Pak ikut ke kantor,” petugas mempersilahkan Pak Aji masuk ke Pos Pemeriksaan.

Tak sampai 20 menit, Pak Aji keluar sambil tersenyum kecut. Saat kendaraan melaju, tawa pun meledak ketika Pak Aji selesai bercerita. Saat di Pos,  di-strap petugas. Gara-gara KTP-nya  kedaluwarsa.

Pekerjaan bapak sebagi guru sangat mulia. Tapi, Bapak melanggar!,” tegur petugas seperti yang diceritakan Pak Aji, Ya bagaimana lagi, KTP baru belum jadi. Terpaksa KTP lama dibawa dilengkapi dengan KK. Bahkan supaya lebih aman membawa kartu PGRI, he he. Akhirnya, petugas pun memaklumi dan mempersilahkan rombongan melanjutkan perjalanan setelah Pak Aji membuat ”Surat Pernyataan”. Hampir saja batal Silaturahmi ke Denpasar, gara-gara KTP kadaluwarsa.

13758436841618817346

Hari itu, kami berempat sedang menuju Denpasar. Mumpung masih suasana lebaran, menyempatkan untuk berkunjung dan silaturahim ke rumah saudara, tepatnya senior dan ”orangtua” saya –Pak Benny Jete Daunan- yang  sudah malang melintang dan berjuang keras dalam memajukan pendidikan di Prigen. Hampir 15 tahun beliau menjadi  guru Bahasa Belanda di SMA Sejahtera Prigen.  Mendampingi istri beliau, ibu Hyang Jete Daunan yang menjadi Kepala Sekolah sekaligus guru Bahasa Inggris. Tahun 2000 beliau memutuskan mundur dan memilih menetap di Denpasar, Bali.

1375843719402279796

Kintamani nan Indah

Karena ingin suasana baru, maka saat tiba di Cekik, kendaraan berbelok ke  kiri. Melewati jalan mulus nan sepi di jalur Utara Bali. Melewati Labuhan Lalang, Pulaki, Celukanbawang dan Seririt tanpa hambatan berarti. Menyenangkan. Apalagi  sering ketemu laut di sisi kiri jalan. Ombak dan angin yang sepoi-sepoi begitu setia menemani.

Sempat bertanya ke penduduk setempat arah Denpasar. ”Bisa lewat Singaraja atau Kubutambahan.’” kata penduduk ramah. Diputuskan naik lewat Kubutambahan. Mula-mula jalanan  naik lurus melewati perkampungan. Lalu berkelak-kelok melewati kebun-kebun penduduk. Berdasarkan peta di tangan,  jalan yang sedang dilalui menuju Kintamani. Tak salah kalu Ebiet terpesona dengan kawasan ini. Panoramanya indah. Guratan-guratan perbukitan dengan garis-garis hijau sangat menawan. Sayang, hujan mengguyur deras.  Tak sempat menikmati angin sepoi di Bukit Kintamani.

Akhirnya tiba di Penelokan. Jalan menurun, dengan kelokan tajam. Hujan tinggal rintik-rintik dan mulai reda. Sempat berhenti sejenak untuk mengabadikan Gunung Batur yang  berpayung awan. Danau Batur begitu mempesona sehingga begitu menggoda untuk disinggahi. Akhirnya mencari petunjuk menuruninya.   Tak lama tiba juga di pinggir danau. Pagi yang sepi. Udara agak dingin. Hanya satu dua kendaraan pengunjung.

13758437391637269317

Danau Batur Berselimut Mega

Danau Batur, terletak di Desa Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Merupakan danau terbesar di Bali. Pura di Danau Batur erat hubungannya dengan Empu Kuturan, saudara Empu Bharada dari Lemah Tulis yang membelah kerajaan Kahuripan di Jawa menjadi Jenggala dan Panjalu Pembagian kerajaan warisan Airlangga itu lantaran, Empu Kuturan menolak membagi Kerajaan Bali untuk salah satu putra Airlangga. Padahal, Airlangga adalah putra Sri Dharmodayana Warmadewa, Raja Bali. Seperti yang diuraikan Negara Krtagama pupuh 68. Airlangga sudah dianggap sebagai sebagai raja Jawa penerus Dharmawangsa mertuanya.

1375843766515465587

Danau Batur

13758437812088836301

Mencuci di Danau Batur

Pagi itu Danau Batur nampak sangat eksotis. Airnya biru, tenang tidak berombak. Di ujung kanan dibatasi bukit memanjang. Di sudut kiri, Gunung Batur anggun berdiri berpayung mendung. Seorang nelayan mengais rejeki di atas sampan kecilnya. Dekat dermaga beberapa perempuan baru saja selesai mencuci. Membawa setumpuk baju basah dalam bak di atas kepala.  Beberapa perempuan lain menjajakan pernak-pernik asesoris. Tak mahal sebenarnya, hanya kadang setengah memaksa.

Tak jauh dari dermaga, beberapa perahu Boat tertambat di tepi danau. Beberapa sepertinya rapuh termakan usia.  Boat-boat itulah yang akan mengantarkan wisatawan ke Trunyan. Desa diseberang danau. Ongkosnya 500 ribu rupiah, kala itu. Sebenarnya saya berniat  mengunjungi Desa Bali Aga yang merupakan Desa Hindu tertua di Bali. Ada fenomena jenazah tak berbau walaupun hanya dibiarkan teronggok di bawah Pohon Taru Menyan. Tapi, naik Boat jelas sangat tidak saya suka. Jalan darat konon rusaknya sangat parah! Jadinya, cukup menikmati pagi dengan keliling sekitar dermaga Danau Batur.

Menjelang siang, kendaraan naik bukit meninggalkan Danau Batur menuju jalan utama. Mula-mula jalan lurus cenderung menurun. Tiba di ujung ada pertigaan.  Lurus ke Besakih. Maka dipilih belok kanan menuju Tirta Empul. Mengunjungi Patirtaan Kuno yang  mempunyai banyak pancuran seperti Patirtaan Jalatunda di Lereng Barat Penanggungan.

Patirtaan atau tepatnya Pura Tirta Empul terletak di  sebelah Barat agak ke bawah, Istana Presiden Tampak Siring. Masuk wilayah administratif Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar.  Air di Tirta Empul keluar dari sumber air yang menyembul dari perut bumi dan dianggap suci.i. Sampai sekarang masih digunakan untuk tradisimelukat (membersihkan diri)  oleh masyarakat Bali. Karena kawasan suci, maka masuk Pura Tirta Empul, wajib mengikatkan selendang kuning  melingkar di bagian perut

13758438151277952205

1375843835161266627

Kompleks bangunan di Pura tirta Empul ditata sangat artistik. Di pelataran  pertama,  ada pendopo luas di sisi kanan. Gerbang Bentar menjadi gapura utama memasuki Pura. Di baliknyaya ada kolam berdenah persegi panjang berair jernih yang meluncur deras dari deretan pancuran kuno. Ukiran khas Bali makin menambah kesan mistisnya.  Banyak pengunjung sedang menikmati guyuran segarnya air pancuran Konon, air di Tirta Empul ini membawa berkah. Di sinilah warga bali melakukan ritual melukat.

Setelah mengabadikan sudut-sudut yang memikat,  kaki mengajak melangkah ke  halaman dalam pura. Banyakbale-bale. Ada beberapabaleyang memayungi  arca dewa. Dua Patung Naga Kembar pojok halaman sangat menarik perhatian . Sangat artistik. Ukirannya istimewa. Dibuat dengan citarasa seni yang tinggi. Pernak pernik alat peribadatan dan hembusan angin yang membawa harum dupa, menciptakan  suasana spiritual di kawasan ini.

13758438571994744307

1375843874416330148

Di ujung kanan, depan Patung Naga, ada kolam besar. Airnya berpusar pelan. Inilah sumber air dari Pura Tirta Empul. Keluar dari perut bumi membentuk pusaran lemah. Air ini dialirkan menuju pancuran di dekat Gapura Bentar. Tempat mandi dan berendam para wisatawan.

Menuju Istana Tampak Siring sebenarnya tinggal melangkah, karena Pura Tirta Empul ada di bawahnya. Tapi nampaknya Istana tersebut tertutup untuk umum. Sepeninggal pura, mencoba masuk istana lewat depan. Tapi, tak ada penjaga. Urunglah niat untuk sekedar mengabadikan sosok dalamnya.

13758441481649976166

Bagian Belakang istana Tampak Siring

Goa Gajah

Tujuan berikutnya adalah Goa Gajah. Letak di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Berada di jalur antara Ubud dan Kintamani. Hanya 26 Km dari Denpasar.  Tempatnya asri. Banyak sisa-sisa batu kuno tertata rapi di sisi kiri pelataran. Di sudut-sudut pelataran terdapat Bale berbalut kain kuning tempat meletakkan arca.

Di sisi kanan terdapat kolam. Air memancar keluar dari  pancuran berupa kendi yang dipegang arca dewa. Tak kurang ada 6 arca. Kondisinya sangat kuno dan berlumut.

Mulut Goa Gajah menempel di dinding bukit. Disebut Goa Gajah karena ada patung Ganesha di salah satu ceruk Goa. Ada pendapat, nama Goa Gajah juga berasal dari kataLwa Gajah, seperti yang tertulis di Kitab Negarakrtagama.Di dinding muka Goa, terdapat pahatan alam pegunungan lengkap dengan pohon dan hewan-hewan. Menggambarkan bahwa Goa ini adalah pertapaan  yang berada di gunung dengan hutan yang lebat dan banyak binatangnya.

13758439061418647959

Goa Gajah dengan Kepala Kala di atas Mulut Goa

Di bagian atas mulut Goa terukir Kepala Kala. Pahatannya begitu dominan Fungsinya menjaga kesucian dan perlindungan pada tempat ritual. Mungkin sama dengan fungsi Kepala Kala di ambang atas pintu masuk candi di Jawa.

Di dalam goa ada penerangan yang redup. Ada ceruk yang saling berhadap-hadapan. Terhitung 13 ceruk, dimana 4 ceruk di lorong masuk, sisanya di dalam goa. Di dalam salah satu ceruk di arah Timur goa terdapat tiga buah Lingga berjejer (trilingga) dalam satu lapik. Masing-masing lingga dikelilingi delapan lingga kecil-kecil. Ini merupakan tradisi Hindu untuk memuja Dewa Siwa.

13758439291291702285

Ceruk di dalam Goa gajah

13758439421513149655

Tiba Di Denpasar

Setelah seharian menyusuri sudut Bali, akhirnya tiba di Denpasar. Hari sudah gelap, sehingga kesulitan mencari alamat di Griya Tepekong. Tapi akhirnya ketemu juga rumah Pak Benny Jete Daunan. Kami disambut suka cita karena sudah lama tidak bersua. Saudara, senior sekaligus “orangtua” kami yang berasal dari Menado ini usianya sudah di atas 70 tahun. Tapi tetap energik. Bicaranya blak-blakan. Masih seperti dulu! Saya sempat terharu mendapat sambutan hangatnya. Akhirnya malam pun dihabiskan dengan saling berbagi rasa. Beliau tinggal berdua dengan istri tercintanya, Ibu Hyang Jete Daunan yang nampak awet muda. Hanya satu anaknya yang tinggal di Bali. Itupin di rumah berbeda, Dua lainnya tinggal di Sidoarjo dan  Amerika. Begitulah, pak Beny sangat mandiri. Seperti yang diajarkan pada anak-anaknya termasuk kami.

Pak Beny adalah alumni Fakultas Hukum. Termasuk orang sukses saat bekerja di perusahaan swasta di Sidoarjo. Pengalamannnya luar biasa. ”Kalau ditulis mungkin jadi beribu-ribu buku, : kata Bu Hyang. Setelah purna tugas, beliau memilih mengabdi menjadi guru di Prigen. Kemampuan Bahasa  Belandanya lumayan bagus dan langka. Sayangnya, dulu saya belum sempat belajar privat pada beliau. Namun, ada alumni yang beruntung, bisa bekerja di sebuah PMA di Jakarta gara-gara ”mewarisi”  Bahasa Belanda dari pak Beny.

Bagi saya, pak Beny dan Bu Hyang adalah orangtua kedua. Beliau sangat perhatian pada orang-orang baru yang masuk ke lingkungannya. Tidak membedakan senior junior. Salah dikritik. Benar dipuji. Selalu memberi motivasi. Beliau juga pekerja keras. Yang paling saya ingat, saat saya pindah  ke rumah warisan orangtua yang kebetulan tak berpenghuni.

Maaf pak, rumahnya berantakan,” sambut saya kala beliau datang berkunjung.

Berantakan apanya. Wong gak ada isinya sama sekali gini,”  ucap beliau spontan.

Ha ha ha ha……’” tawa pun meledak di rumah mungil saya kala itu. Lalu Bu Hyang pun memberi banyak nasehat dan menitipkan pernik-pernik alat perlengkapan dapur yang sangat berarti bagi kami.

Pagi itu, di rumah Pak Beny kami berbincang lama. Nostalgia saat masih bersama-sama menjadi guru di sekolah swasta di lereng Gunung Welirang. Sambil berbicara, beliau mengajak kami masuk ke ruang kerjanya. Menunjukkan koleksi foro-foto jadul saat menjadi guru.

13758439782126722031

Pak Beny menunjukkan album foto nostalgianya

13758440072140541563

Koleksi souvenir dan asesoris nan unik dan antik

”Ini obat kangen dengan saudara dan anak-anak di Prigen, ”kata pak Beny sambil menunjukkan album-album foto yang isinya tertata rapi. Beliau juga menujukkan lemari koleksi aksesoris dan souvenir yang terkumpul selama sekian puluh tahun.

Di tempat ini, Bu Hyang menerima les privat  Bahasa Inggris, ” lanjut pak Beny. Di ruangan nampak beragai poster pembelajaran bahasa inggris terpampang rapi.

Ya beginilah kehidupan kami. Mengisi pensiun dengan aktifitas yang menyenangkan. Olahraga jalan kaki kalau pagi, ikut senam atau kadang turing ke objek-objek wisata di Bali,” Pak Beny menjelaskan dengan semangat.

1375844034382003316

13758441251616561597

Tak terasa, waktu pun beranjak makin siang. Silaturahmi, nostalgia, berbagi pengalaman, saling berkisah kami lewati dengan penuh kekeluargaan. Akhirnya, pertemuan singkatpun harus berakhir. Kami berempat  berpamitan pulang ke Jawa. Ini adalah kesempatan langka untuk bertemu dengan pendiri sekolah sekaligus sosok yang sudah rela jatuh bangun menegakkan lembaga pendidikan di Prigen. Suatu keharusan bagi kami untuk sowan ke rumah beliau. Ada keharuan luar biasa saat saya meninggalkan Gang Tepekong Denpasar. Saya berdoa semoga pak Beny dan bu Hyang selalu dilindungi Allah dan dikarunia kesehatan dan umur panjang. Salam hormat buat beliau berdua.

Tanah Lot

Kendaraan meluncur menuju Gilimanuk. Tapi, karena masih terang, diputuskan untuk mampir ke Tanah Lot. Eman-eman. Belum ke Bali kalau belum mampir ke Tanah Lot. Ini adalah  ikon Bali paling terkenal dan mendunia.

Tanah Lot terletak di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Di lokasi masih lumayan sepi. Tapi, sebentar lagi tumpah ruah manusia akan segera berdatangan ke sana. Sesaat masuk lokasi, kita disambut deretan kios penjual souvenir khas Bali. Mulai dari asesoris, ukiran-ukiran, lukisan, topi, kain, kaos bali, baju, pokoknya semua ada. Tinggal pilih dan tawar harga.

13758440581097653154

13758440752056248249

Tanah Lot terdiri dari kata Tanah yang artinya Batu Karang. LotatauLodberarti laut. Jadi,Tanah Lot maksudnya adalah tanah yang berada di tengah laut. Apalagi saat itu laut pasang. Karang besar di Tanah Lot yang melegenda di seluruh dunia itu benar-benar terletak “di tengah laut”. Sesuai dengan namanya. Di Karang Tanah Lot itu terdapat pura yang konon sudah ada mulai abad ke-15. Didirikan oleh Pedanda (pendeta) Hindu Bawu Rawuh atau Danghyang Niratha.

Berdiri di pinggir laut melihat  panorama sungguh mengasyikkan.Angin bertiup kencang Ombak dahsyat pun datang berulang-ulang, menghantam keras dinding-dinding karang. Riak-riaknya dan buih putih memanggil-manggil  agar tak buru-buru beranjak. Sempat berkeliling di sudut-sudut Tanah Lot untuk mendapatkan view yang menawan. Tamannya asri tertata rapi. Lingkungannya bersih. Sungguh, Tanah Lot jangan sekali-kali dilewatkan kalau berkunjung ke Bali.

13758441001418281221

Sungguh saya sangat bersyukur karena seharian kemarin dan hari ini sudah bisa menikmati Bali. Pulau dengan pemandangan elok menawan. Seni dan budayanya tinggi. Magisnya tak perlu ditakuti. Apalagi kemarin dan hari itu bisa menikmati Bali tanpa kemacetan di sana sini.  Wow..langka! Namun, yang paling membuat saya bersyukur adalah bisa bertemu dengan keluarga pak Beny di Denpasar. Banyak kenangan dan pelajaran hidup  sudah  beliau berikan.

Salam Kompasiana… jangan pernah lupa dengan orang-orang yang pernah jatuh bangun bersama kita dan sekarang mungkin jauh entah di mana.

Special Thanks to Pak Beny Jete Daunan dan Bu Hyang Jete Daunan yang selalu menginspirasi dan memberi motivasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: