Jelajah Keelokan Bumi Blambangan

13788338641928753492

Tanah Semenanjung dan Gema Di Ufuk Timur adalah dua novel sejarah menarik karya Putu Praba Darana,  yang ber-setting Bumi Blambangan. Dari dua novel itulah saya kenal sedikit tentang masalalu Blambangan yang sekarang populer sebagai Banyuwangi.  Pernah suatu ketika ke Banyuwangi, namun waktu terbatas,  tidak sempat jalan-jalan.

Untuk mengusir penasaran akan wajah dan objek wisata terbaru Tanah Semenanjung, maka hari itu, pukul 3 dini hari saya mengajak beberapa rekan meluncur lagi  ke Banyuwangi. Ditemani rintik hujan dan jalan basah kami berangkat. Harus berangkat pagi-pagi karena jarak  tempuhnya lebih dari 250 Km. Perkiraan, perjalanan memakan waktu minimal 6 jam.

Kota Bangil,  Pasuruan, Probolinggo terlewati. Sedikit ngebut karena jalan sepi.  Sampai di Klakah belok kiri tidak masuk kota Lumajang.  Langsung menuju  Klathakan-Randuagung.  Berhenti sebentar untuk istirahat di Pompa  Bensin Klathakan. Lalu dilanjutkan meluncur menuju Jember. Disambut kabut pagi.  Akhirnya, pukul 06 pagi memasuki Alas Gumitir. Memilih menepi. Buka bekal, sarapan pagi di pinggir jalan. Nasi putih, lauk Telor bumbu Bali, Mie Goreng dan Sambel Bajak, ….mak nyus.

1378833496600685283

Selepas berbenah, perjalanan dilanjutkan. Jalan raya membelah hutan dan kebun kopi. Berkelak-kelok, disertai turunan dan tanjakan. Ciri khas  Alas Gumitir.  Pemandangan hijau sepanjang jalan. Seiring naiknya mentari, geliat anak manusia mencari rejeki pun dimulai. Di banyak kelokan Alas Gumitir banyak pengais rupiah yang mengadu nasib. Berharap belas kasihan para pengendara yang ikhlas melempar koin atau uang kertasnya.

 

1378833558487659929

Pengais Rupiah Alas Gumitir (dok pribadi)

 

1378833591295469880

1378833724981422441

Rest Area Gumitir

 

Mendekati ujung hutan, disambut Patung Penari Gandrung. Patungnya baru, karena berbeda dengan patung yang saya lihat dulu.  Ini artinya sudah masuk wilayah Banyuwangi. Di bawah jalan raya ini, ada terowongan kereta api jurusan Surabaya – Banyuwangi.  Setelah melewati Rest Area Gumitir, masuk Kalibaru, menuju Glenmore.  Akhirnya sampai di Genteng, kota kelahiran  teman sekantor.  Mengingatkan kunjungan berkesan di waktu lampau ke rumah beliau, yang bikin macet  jalan kampung, karena Bus dipaksa melewati jalan sempit menuju  pelosok Desa Jambewangi, Genteng  nan Asri.

 

1378833656171072305

Penari Gandrung New (dok pribadi)

 

13788336802097103664

Penari Gandrung Old (dok pribadi)

 

Pantai Pulau Merah

Tepat pukul 09.00 tiba di tujuan pertama:  Pulau Merah. Destinasi baru andalan Banyuwangi. Jalan ke sana agak sempit tapi lumayan mulus. Lokasinya  di Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran. Tiket masuk murah. Hanya 2500 per kepala. Parkir bebas.

Kawasan pantai Pulau Merah lumayan bersih. Tempatnya  menyatu dengan pemukiman nelayan. Beberapa rumah dan kedai berjajar di kiri jalan menuju pantai. Jalan menuju pantai masih alami. Berupa jalan tanah yang dipadatkan. Entahlah kalau hujan. Mungkin becek. Tempat parkirnya luas dan beberapa sudut sangat teduh.

1378833748671611669

 

13788338062086848412

Pulau Merah merupakan sebutan  untuk Pulau (Bukit) kecil yang menyembul di  pantai. Tepatnya mungkin karang raksasa.  Pantai Pulau Merah segaris dengan Pantai Teluk Pancer, yang terlihat melengkung di ujung kanan. Pulau Merah saat musim hujan ditumbuhi semak menghijau. Saat musim kering, semak meranggas. Dan tanah di Pulau itu nampak berwarna merah. Maka, disebutlah  Pulau Merah.

Pantai Pulau Merah memanjang ke Timur dan Barat. Pasirnya putih bersih. Di arah Timur ada Gunung  Tumpang Pitu. Konon kaya akan Emas. Ke arah Barat, Pantai Pulau Merah melengkung, dan di ujung sana kira-kira 3 kilometer bersatu dengan Pantai Teluk Pancer. Menghabiskan waktu dengan  berlama-lama duduk di pinggir pantai sangat menyegarkan pikiran.  Menikmati angin sepoi-sepoi dan alunan ombak yang datang silih berganti. Apalagi ditemani rujak manis khas Blambangan nan legit.

1378833846677862563

13788338851303614268

13788338992003332304

Untuk menambah kesan “merah”, beberapa Kursi Pantai terpasang menyatu dengan Payung berwarna Merah yang menaunginya. Tentu saja untuk duduk atau tiduran, sambil menikmati angin sepoi-sepoi,  Anda harus bayar sewanya.Tinggi ombak rata-rata 2 meter. Bergulung-gulung dengan teratur. Dasar pantai cenderung landai dan tak berkarang. Inilah kelebihan Pulau Merah. Nah, Pulau Merah makin eksotis dengan sajian penunggang ombak yang meluncur silih berganti. Sepintas, suasananya mirip Pantai Kuta di Bali.

Pantai Pancer

Sungguh betah di menikmatii keelokan Pantai Pulau Merah.  Setelah hampir  3 jam kami di sana waktunya melanjutkan perjalanan mengunjungi Pantai di Teluk Pancer. Keluar dari areal parkir Pantai Pulau Merah langsung belok kiri. Menyusur  jalan kampung yang bolong di beberapa titik.

Akhirnya tiba di ujung.  Jalan buntu. Ternyata di depan adalah  TPI: Tempat Pelelangan Ikan. Makanya baunya sedikit amis. Di kawasan ini para nelayan menambatkan perahu dan menurunkan  hasil tangkapannya. Tempatnya masih alami. Nampak deretan perahu nelayan parkir di belakang TPI, menunggu waktu melaut. Tampak beberapa nelayan bersusah payah,  mendorong dan menaikkan perahunya ke darat.

1378833920603420969

1378833934965132971

Pasir di Teluk Pancer juga putih. pantainya melengkung membentuk cekungan raksasa menyambung dengan Pantai Pulau Merah. Dari tempat ini nampak dikejauhan, Pulau Merah dengan latar belakang Gunung Tumpang Pitu. Karena agak terpencil, tempat ini cenderung sepi. Lumayan nyaman untuk sejenak keluar dari hiruk pikuk dengan menikmati deburan ombak dan duduk di bebatuan.

Kampung  Osing

Meninggalkan Pantai pulau merah dan Pancer, kendaraan melaju menyusuri jalan  dari Pesanggaran menuju  Srono. Sempat meihat ada beberapa nama jalan menuju Songgon. mengingatkan pada benteng-benteng pertahanan pasukan Wong Agung Wilis kala bertempur melawan kompeni Belanda. Tiba di  Rogojampi dan Kabat. Mendekati kota Banyuwangi, ada pertigaan arah kiri. Ada petunjuk: Wisata Kampung Osing dan Gunung Ijen. Tanpa perlu bertanya, meluncur mengikuti jalan berkelok-kelok yang makin lama makin menanjak.

1378833975101986106

1378833992251245479

Osing (dok pribadi)

 

Tak lama tiba di sebuah pertigaan. Di tengah jalan ada sebuah patung burung raksasa. Ke kiri menuju Gunung Ijen. Lurus ke Kampung Osing. Akhirnya memilih lurus. Menuju Desa Kemiren tempat kampung Osing. Sebenarnya berminat untuk mengunjungi dan bertegur sapa dengan  orang Osing. Namun karena waktu, hanya sempat menyususri jalan raya sepanjang Desa Kemiren. Di desa wisata inilah adat dan budaya  Osing dijaga kelestariannya. Seperti Wong Agung Wilis mempertahankan kelestarian dan martabat Blambangan dari cengkeraman serdadu-serdadu kompeni.

Watu Dodol

Watu Dodol adalah objek wisata pantai di ujung Utara Banyuwangi. Ditempuh melalui jalur dari kota Banyuwangi menuju arah Situbondo. Berdekatan dengan Pelabuhan Ketapang, tempat menyeberang ke Gilimanuk Bali.  Di lokasi Pantai Watu Dodol terdapat dua ciri khas. Patung Penari Gandrung dan sebuah Batu Raksasa yang membelah jalan Banyuwangi- Situbondo. Batunya unik. Bagian atas lebih besar dari bagian bawah yang tertancap di tanah. Tinggi batu kira-kira 6 meter, dipayungi pohon besar disisinya.

1378834031254465944

Watu Dodol membelah jalan (dok pribadi)

 

13788341001640188663

1378834123928610401

Pantai Watu Dodol lumayan asri. Tempatnya persis di pinggir jalan besar. Di sekeliling hutan yang hijau. Pantainya sendiri  berada agak ke bawah dari pelataran parkir. Ombaknya tenang. Di kejauhan nampak Pulau Bali. Sungguh asyik minum es degan atau ngopi di tempat ini.

Legenda Watu Dodol

Keberadaan Watu Dodol yang “membelah” jalan raya utama sambungan  dari Jalan Raya Pos (De Goote Postweg), menuju Banyuwangi dan Bali banyak melahirkan legenda.  Lazimnya, kalau membangun jalan raya, biasanya batu atau bukit yang menghadang disingkirkan atau dihancurkan. Tapi tidak demikian dengan Watu Dodol.

Konon, saat pendudukan Jepang, batu ini pernah ditarik puluhan romusha tapi gagal. Ditarik kapal untuk di pindahkan karena mengganggu proses pembangunan jalan juga gagal. Berkali-kali dan berlipat-lipat tenaga dikerahkan tak pernah membuahkan hasil.  Akhirnya beredar cerita mistis akan keangkeran dan kekuatan Watu Dodol.

Begitu pula pasca kemerdekaan.  Saat ada proyek pelebaran jalan, konon batu tersebut berhasil dipindahkan. Tapi, esok harinya sang batu kembali ke posisi semula. Begitu seterusnya. Akhirnya, proyek pun menyerah. Lebih baik membangun jalan disamping Watu Dodol daripada menyingkirkan batu dari tengah jalan. Kenyataannya, sampai sekarang Batu Raksasa itu tetap berdiri di tengah jalan. Menyambut dan melambaikan tangan untuk setiap pengendara yang akan memasuki Banyuwangi dari arah Situbondo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: