Melacak Candi di Gunung Penanggungan

 

13786399521447061697

Candi Shinta

 

Gunung Penanggungan adalah Laboratorium Arkeologi yang sangat kaya akan peninggalan purbakala.  Walaupun tingginya hanya 1659 meter dpl, tapi gunung ini eksotis. Puncaknya bulat gundul, dengan tonjolan-tonjolan  anak gunung (bukit) di lereng-lerengnya. Ada 8 anak gunung. Bentuknya unik ini oleh penduduk Jawa Kuno dianggap mirip dengan puncak Mahameru, gunung suci  di India. Tak heran, hingga saat ini, masih bertebaran candi-candi kecil di lereng-lereng Gunung Penanggungan yang menunjukkan bahwa di masa lampau gunung ini memiliki kedudukan tinggi dalam masyarakat Jawa.

Pendakian 2004

Tertarik oleh fenomena ini, di musim panas  tahun 2004 saya dengan beberapa murid saya yang tergabung dalam  KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) mengadakan pendakian. Saya masih ingat, mereka adalah Jarot, Sobirin, Rokmad, Erni, Yuliani didampingi Jauhar.. Rutenya melalui lereng Barat. Tepatnya, naik dari Desa Seloliman, Trawas Mojokerto. Pendakian diawali dari Candi Jalatunda. Lalu dilanjutkan menuju arah puncak.  Pendakian 2 hari dengan base camp di Candi Lurah,  hanya mampu “melacak” 11 candi kecil yang tersebar di pinggang gunung. Hampir separuh candi tertutup semak dan kayu. Bahkan, untuk menemukannya harus menyibak ilalang, memangkas ranting atau memanjat pohon. Padahal, hasil penelitian Van Romondt, ada 80 candi tersebar di Gunung Penanggungan. Dari pendakian itu akhirnya saya petakan posisi candi berdasarkan ketinggian dari permukaan laut.

1378640026931620129

 

Pendakian 2006

Berdasarkan peta hasil kunjungan tahun 2004, maka tahun 2006 saya adakan pendakian ulang. Masih dengan murid kelas 3 yang juga anggota KIR:  Melshandi, Yanti, Aji dan Edi. Tujuan pendakian kali ini adalah pemetaan ulang posisi candi sekaligus membuat Film Dokumenter sederhana. Setelah semua peralatan siap, maka pada hari H kami pun berangkat. Edi yang sudah bisa mengoperasikan handycam, saya beri tugas sebagai pengambil gambar. Melshandy saya bekali dengan naskah-naskah sederhana dan bertugas sebagai presenter pemula.

Setelah berdoa, segera saya buka pemetaan lokasi candi yang kami temui di tahun 2004.  Kami bahas tentang rute dan posisi candi. Ini karena kondisi di gunung bisa saja berubah. Baik karena ada jalur baru atau semak-semak yang semakin lebat. Berdasarkan pengalaman dan pemetaan, jika melalui rute lama, maka dalam perjalanan ke puncak akan menemukan candi dengan urutan:  Candi Bayi, Candi Putri, Candi Pura, Candi Genthong dan Candi Shinta. Berikutnya ada Candi Lurah, Candi carik, Candi Naga, Candi Syiwa, Candi Wisnu dan Goa Botol

1378640141801267526

Candi Guru

Candi Bayi dan Candi Putri

Dengan langkah perlahan tapi pasti, tim pun mulai mendaki. Mula-mula masuk hutan dengan pohon lebat. Lambat laun berubah jadi ladang tanaman pisang. Sempat istirahat beberapa kali. Cuaca terik sehingga kerongkongan kering. Untung membawa air minum cukup. Sesuai dengan rencana, setelah 2 jam mendaki akhirnya  satu demi satu candi pun bisa ditemukan kembali. Mula-mula  menemukan Candi Bayi. Bentuk aslinya sudah runtuh. Tersisa hanya  berupa tumpukan batu berlumut yang diselimuti rumput.

Perjalanan pun kami lanjutkan. Tak sampai setengah jam melangkah, akhirnya menemukan jejak Candi Putri pada ketinggian 900 meter dpl. Candi kecil ini unik. Dibangun dengan menempelkan dinding belakangnya di lereng bukit. Dibuat berteras tiga. Di tengah terdapat tangga naik. Di puncak terdapat altar.Hiasan pipi tangga masih utuh.

Candi Pura dan Candi Genthong

Dari Candi Putri beberapa langkah ke atas kami menemukan Candi Pura. Kondisi Candi Pura lebih parah dibanding Candi Putri. Hanya tinggal reuntuhan dengan sisa altar di puncaknya.   Secara struktur, kedua candi mirip. Berteras dan berundak.

Selepas Candi Pura,  setelah menyibak ilalang yang menghalangi jalan, kami menemui Candi Genthong. Ada yang menyebutnya candi Genuk. memang Candi ini berupa Genthong atau Genuk tempat menyimpan air. Terbuat dari batu Andesit. Di sebelahnya terdapat sebuah Altar. Mungkin juga Yoni.

Mengapa ada Genthong atau Genuk di Gunung Penanggungan? Ini mungkin erat kaitannya dengan ketiadaan air di kawasan ini yang kering kerontang. Memang tak banyak pohon besar di kawasan mendekati puncak Gunung, sehingga tak banyak resapan dan simpanan air di dalam tanahnya. Mungkin Genthong berfungsi sebagai penadah dan penyimpan air. Bisa juga keberadaan Genthong ini ada hubungannya dengan Air Suci untuk upacara.

Kami sempatkan istirahat agak lama dan makn siang di candi Genthong. Melepas penat dengan berdiam di payungi  pohon-pohon kecil. Bekal nasi bungkus dan Mie Instant pun dilahap. Langsung dilahap ering tanpa perlu direbus. Hampir sejam kami di area ini. Tak terasa hari semakin sore.

Bergegas kami menuju Candi Shinta pada ketinggian 1050 meter dpl. Disambut susunan batuan berbentuk makam tepat di jalan masuk. Di pojok kanan ada altar batu yang kokoh. Candi Shinta ada di pojok mengarah ke puncak gunung. Tersisa altar di puncaknya. Tubuh dan kaki candi sudah tak nampak lagi. Karena tak ada perlengkapan dan perbekalan untuk mengina, maka  setelah mendokumentasikan  Candi Shinta, kami pun bergegas kembali. Turun menuju desa untuk kembali pulang.

Punden Berundak

Jika dicermati, candi di Gunung Penanggungan berciri khas. bagian belakang ditempelkan di dinding bukit. Dibangun berteras dan di tengah terdapat tangga. Ini mirip ciri bangunan asli Indonesia jaman megalitikhum: Punden Berundak. Diperkirakan, candi-candi ini dibangun di masa Majapahit akhir. Saat itu muncul gejala Milenarisme, pemujaan terhadap roh nenek moyang yang bersemayam di gunung. Para pemujanya berharap, dengan pemujaan itu akan muncul tokoh baru yang akan mampu menegakkan kemabli kejayan majapahit.

13786401721210939026

Puncak Penanggungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: