“Menikmati” De Groote Postweg: Gresik – Bandung

Pantura, dikenal juga sebagai De Groote Postweg atau Jalan Raya Pos.   Diresmikan Deandels tahun 1808. Membentang dari Anyer (Jawa barat) hingga Penarukan (Jawa Timur).  Hampir 1000 kilometer jaraknya. Diperkirakan, 12.000 penduduk pribumi tewas karena kerja paksa membangun jalan raya ini.  Hampir seperempat dari jalur  De Groote Postweg sudah saya lewati saat meluncur ke arah Timur  melalui jalur Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Besuki hingga Penarukan sampai tiba di Pantai pasir Putih Situbondo. Jalurnya lumayan padat, karena merupakan jalan utama menuju Bali. Bagaimana jalur ke arah Barat?

Tahun 2012,  kebetulan ada kegiatan Studi Banding ke Bandung. Tepatnya ke SMA Plus  Muthahhari. Rencananya rombongan KS atau wakil dari 27 sekolah swasta  naik 1 Bus.  Saya minta ijin pada pimpinan rombongan untuk berangkat dengan kendaraan sendiri dan akan bertemu di Bandung. Karena setelah kegiatan Studi Banding,  saya akan melanjutkan perjalanan ke rumah  saudara. Maka pada hari yang ditentukan, saya berangkat bertiga dengan Pepen (driver) dan Edy (staf di sekolah) menuju Bandung melalui jalur Pantura. Ini adalah perjalanan pertama saya menuju Bandung.

Menikmati De Groote Postweg

Berangkat pukul 06.00 dari rumah, kami meluncur menuju Porong. Masuk jalan Tol , melewati Sidoarjo, Surabaya, akhirnya tiba Exit  Tol  Manyar,  Gresik. Perjalanan melaui De Groote Postweg pun dimulai. Benar kata orang, jalur ini benar-benar padat. Sepeda Motor, mobil kecil sampai mobil kelas berat penuh sesak di sepanjang jalan. Tapi jalan yang mulus dan lumayan lebar (saat itu) menjadikan perjalanan relatif  lancar. Untungnya perjalanan ini tidak bebarengan waktu mudik atau arus balik. Kalau pas momen itu, saking padatnya kendaraan,  bisa-bisa terjebak kemacetan.

1376917202758929485

1376917245106252841

137691727923055141

Sejak  keluar  Gresik,  kanan kiri jalan dipenuhi tambak  dan laut. Kadang baunya agak amis. Khas daerah pesisir. Di daerah Lamongan sampai Tuban  tampak perahu-perahu nelayan yang ditambatkan di pantai. Begitu juga saat memasuki Jawa Tengah, melalui Sluke, Rembang sampai Juwana, perahu nelayan masih tertambat diayun-ayun gelombang. Menunggu saat tepat untuk melaut. Di sudut-sudut perkampungan nampak rumah-rumah nelayan nan sederhana. Cerminan tingkat kesejahteraan yang masih perlu perhatian.

Jalur Pantura walaupun padat dengan kontur tanah yang datar dengan  banyak tikungan nampaknya didesain agar nyaman dilalui.  Buktinya, beberapa tikungan dapat dilewati dengan kecepatan tinggi  tanpa menimbulkan goncangan berarti bagi penumpang. Ini bisa dimaklumi karena jalur Pantura ini dalam pengerjaannya setiap sekian kilometer diawasi  insinyur-insinyur Belanda.  Tentu saja, di titik tertentu, karena harus menyesuaikan kondisi alam, jalau ini kadang juga tidak mengasyikkan. .

1376917755640858631

1376917781716355342

1376921089672877258

13769211131715041555

Selepas Juwana, perjalanan dilanjutkan menuju Pati, Kudus sampai Demak. Walaupun ini perjalanan pertama melalui Pantura menuju arah Barat, karena banyak rambu-rambu di sepanjang jalan, ini sangat menolong agar tidak salah jalan. Akhirnya, kami berhenti untuk makan siang dan sholat di Semarang. Usai menyantap Soto Kudus dan  melaksanakan kewajiban, mobil pun kembali dipacu menuju arah  Pekalongan. Lagi-lagi memanfaatkan rambu-rambu warna hijau yang bertuliskan: Jakarta.

13769209212138569780

1376920944291069842

Alas Roban yang Angker

Dari Kendal menuju Pekalongan harus melawati kawasan Alas Roban yang konon merupakan salah satu Jalur Tengkorak di Jawa Tengah.  Alas artinya Hutan, berarti kawasan ini adalah hutan belantara yang dibelah untuk dibuat jalan raya. Medannya lumayan sulit. Banyak kelokan dan tanjakan curam. Untuk mengurangi resiko kecelakaan, maka saat ini sudah dibuatkan jalur alternatif di kawasan Alas Roban. Kendaraan berat dari arah Timur, biasanya memanfaatkan jalur kiri berupa jalan beton. Walaupun relatif lebih jauh, namun tidak banyak tikungan tajam dan tanjakan curam.

1376921015572962234

Alas Roban dari arah Timur (dok pribadi)

13769211421186227536

Alas Roban dari arah Barat (dok pribadi)

Di sepanjang jalur ini pula banyak sopir memarkir   kendaraan beratnya. Istirahat melepas kepenatan. Kami pun ikut-ikutan. Karena Pepen, si driver sudah mengemudi lebih dari 8 jam. Waktunya ngopi. Sambil ngopi kami sempat ngobrol dengan para sopir sampai akhirnya mereka bercerita tentang keangkeran Alas Roban. Kami bertiga hanya  bisa mendengar sampai tuntas dan selepas itu kami pun tak buang waktu. Segera beranjak meninggalkan kawasan ini sebelum petang.  Kuatir kalau kemalaman malah ketemu “seseorang” di pinggir jalan …. seperti yang diceritakan para sopir tadi……hiii..

Cadas Pangeran

Matahari semakin condong ke Barat. Mobil pun semakin cepat melaju melewati Pekalongan, Pemalang akhirnya tiba di Brebes. Kota ini dikenal sebagai penghasil Telor Asin dan Bawang Merah. Sepanjang jalan nampak berderet-deret penjual Telor Asin. Ada yang warnanya biru pucat. Ada pula yang coklat kehitaman. Ini Telor Asin bakar, kata si penjual. Rasanya memang khas. Gurih!

Ada dua jalur menuju  Jawa Barat. Lurus, melewati jalan lama De Groote Postweg menuju Cirebon atau belok kiri menuju Tol Kanci. Kami memilih Tol Kanci. Tol sepanjang 35 kilometer ini adalah bagian dari Tol Trans Jawa, menghubungkan Kanci dan Palimanan (Jawa Barat).

Turun dari Tol Kanci, ambil arah kiri menuju Bandung, melalui Sumedang. Kembali kami menyusuri De Groote Postweg.  Di jalur ini ada kawasan perbukitan yang disebut Cadas Pangeran. Historical Landmark Kabupaten Sumedang. Tanah di Sumedang ini berbukit-bukit. Saat pembangunan jalan raya De Groote Postweg, pekerja harus membelah gunung dengan peralatan seadanya. Akibatnya, banyak korban saat pembuatan jalur ini. Bupati Sumedang kala itu, Pangeran Kusumadinata IX sangat menentang kerja paksa itu. Maka dengan keberanian dan diplomasinya, maka beliau mampu memaksa Deandels untuk tidak menggunakan tenaga manusia untuk membelah bukit cadas yang keras. Pangeran Sumedang ini memaksa Deandels menggunakan kekuatan dan alat-alat militernya untuk memecah batu-batu gunung. Atas keberaniannya itu, di kawasan ini dibangun patung Sang Pangeran yang berjabatan tangan dengan Deandels. Uniknya, yang berjabatan tangan adalah tangan kiri sang  Pangeran dengan tangan kanan Deandels. Itulah simbol keberanian dan perlawana sang Pangeran. Maka jadilah tempat itu disebut sebagai Cadas Pangeran.

Malam datang saat kami menyusuri perbukitan di Cadas Pangeran. Ini sebenarnya sangat menyulitkan karena menghalangi pandangan saat mencari rambu sepanjang jalan.  Apalagi jalannan meliuk-liuk tajam. Truk-truk besar sarat muatan dan Bus antar Propinsi pun sering lalu lalang. Membuat kaget saat tiba-tiba muncul di ujung tikungan.

Alhamdulilah perjalanan pun tetap lancar. Setelah beberapa kali istirahat, makan malam dan sholat serta  bertanya pada penduduk setempat akhirnya Majalengka dan Jatinangor pun terlewati. Akhirnya pukul 02.00 dini hari tiba di Cibiru, Bandung. Kami mencari Pom Bensin. Tidur sambil menunggu rombongan datang.

SMA Plus Muthahhari

Selama perjalanan, kami memang selalu komunikasi dengan rombongan yang naik bus. Ternyata mereka lewat jalur Selatan. Lewat Pasuruan, Jombang, Madiun, Solo, Jogjakarta, Purwokerto Cilacap dan Garut.  Baru pukul 07.00 pagi, saya bertemu dengan rombongan di dekat gerbang tol Cileunyi. Akhirnya kami pun merapat untuk check in di hotel, mandi, sarapan dan persiapan ke SMA Muthahhari, di Kiaracondong, Bandung.

1376925280284200881

13769253071212043201

Banyak pelajaran dan pengalaman berharga selama di SMA Swasta kebanggan Bandung ini.  Mereka memasang brandSekolah Para Juara” di nameboard-nya.  Bukan hanya juara Olimpiade, karya tulis saja yang mereka raih. Tapi beragam kejuaraan telah diraih para siswa di Muthahhari. Inilah wujud dari pengembangan Multiple Inteligent dari seorang individu. Untuk memotivasi para siwanya, para peraih juara dibuatkan Wall of Fame. Prestasi yang diraih dipasang besar-besar di papan ini. Meneguhkan kebanggaan dan memotivasi diri untuk memburu prestasi.

1376925335497525247

Murid, begitu mereka menyebut, di sekolah ini tidak terlalu banyak. Tiap kelas tak lebih dari 25 siswa. Ini karena para guru ingin mengoptimalkan kegiatan pembelajaran di kelas. Dengan jumlah siswa yang tak terlalu banyak, proses transfer ilmu dan interaksi guru dan murid lebih terjaga.

Murid SMA Plus Muthahhari bisa unggul tidak lain karena ditunjang dengan sumber belajar yang memadai. Sarana audio visual ada di tiap kelas. Perpustakaannya, walau tak terlalu luas namun koleksi bukunya  sangat lengkap. Di perpustakaan ini pula ada foto para inspirator dan penggagas pendirian SMA ini. Salah satunya. Dr. KH. Jalalludin Rahmat, M.Sc yang dikenal sebagai Kang Jalal. Tak heran sekolah ini begitu agamis dan memiliki murid yang santun.

1376925362191828033

13769253841742913366

Hampir 3 jam, rombongan silaturahim di SMA Plus Muthahhari. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Trans Studi Bandung.  Saya hanya punya  waktu 1 jam di destinasi wisata ini. Karena hari itu juga harus melanjutkan perjalanan menuju ke rumah saudara.

1376925526194609052

1376955215690285611

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: