Pesan Pilu dari Korban Tragedi Lumpur Lapindo

1386982893781032566

Siang itu, mentari begitu terik, saya meluncur di jalan Tol sekembali dari mengantarkan dokumen KTSP ke Dinas Pendidikan Provinsi di Surabaya.  Entah kenapa, walaupun panas menyengat, sesaat keluar dari Exit  Tol Porong tiba-tiba ada keinginan menyeruak  untuk mampir ke Tanggul Lapindo. Saya pun parkir di sebuah “kavling”  yang dikelola warga.  Di pinggir tanggul ini banyak “kavling” serupa. Setelah bayar parkir, kami bergegas naik tangga bambu sederhana. Di atas tanggul, nampak hamparan hektaran lumpur yang permukaannya mengering. Di bawah lumpur itulah ribuan rumah, sawah dan “harta benda”  warga Porong terpendam. Di ujung sana, dekat bendera merah, asap dari sumur Lapindo tetap mengepul. Menandakan ada gelora di perut buminya.

1386984265596570070

1386983939867118703

13869839761604680312

1386984013986111673

Pesan

Begitu menjejakkan kaki di tanggul, beberap warga yang berprofesi sebagai tukang ojek mulai menawarkan diri. Mengajak keliling tanggul. Melihat sekaligus “mendengar”  keluh kesah dampak semburan lumpur yang sampai detik ini ternyata belum usai. Padahal sudah tujuh tahun berlalu!

Maka siang itu, saya dibonceng Pak Gori menyusuri tepian tanggul. Sepanjang jalan tak henti-hentinya Pak Gory bercerita tentang dampak semburan lumpur yang meluluh-lantakkan tanah kelahirannya. Beliau mengatakan, sampai saat ini urusannya dengan PT Lapindo Brantas belum beres. Karena masih dibayar 60% dari total ganti rugi yang mestinya diterima. Pak Gory tidak sendirian. Masih banyak warga yang senasib dengannya. Banyak warga yang menjerit kehilangan rumah, sawah, kebun dan mata pencahariannya. Memang ada sebagian yang sudah tuntas. Mereka memilih menjauh dari tanah kelahirannya, mencari kehidupan yang baru. Tapi, bagi yang urusannya belum tuntas, masih ada yang bertahan. Menunggu uluran dan belas kasih akibat semburan Lumpur yang tak pernah mereka duga sebelumnya. Itulah tragedi semburan lumpur Lapindo. Ada yang menyebutnya bencana. Yang lain mengatakan sebagai kelalaian pengeboran. Tak heran, permasalahan tak kunjung usai.

13869841631420311303

1386984192340401729

13869840581214313977

1386984101683966078

13869841351922669553

Maka tak heran, bulan Mei lalu, untuk memperingati Tujuh Tahun Bencana Lapindo, terjadi unjuk rasa. Para pengunjuk rasa membuat sebuah monumen.  Menuntut agar persoalan ganti rugi akibat semburan lumpur Lapindo segera dituntaskan. Menurut pak Gory, warga sekarang tidak peduli. Baik yang masuk PAT (Peta Area Terdampak)  yang ditangani PT Lapindo Brantas ataupun yang tidak masuk PAT dan ditangani BPLS, untuk segera dituntaskan. Itulah sedikit pesan dari Lapindo, Porong – Sidoarjo.

13869842301135917141

13869842891997767674

Sumber: Gunung Penanggungan, saksi bisu tragedi semburan lumpur Lapindo

1386984338144446331

Sumber: Indonesia…….

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: