Pilkada Jatim: Semoga Bukan Golput Pemenangnya

Hari ini, Kamis Kliwon, 29 Agustus 2013 Pemilihan Kepala Daerah Jawa Timur digelar. Diharapkan masyarakat Jawa Timur yang sudah terdaftar sebagai pemilih diharapkan berbondong-bondong mendatangi TPS dan memberikan suaranya. Namun, mampukah empat pasangan calon peserta PILKADA ini menjadi magnet agar pemilih memberikan suaranya?

Tidak bermaksud apatis atau apriori, nampaknya PILKADA JATIM akan bernasib sama dengan PILKADA di daerah lain. Kemungkinan besar GOLPUT akan unggul dibanding kandidat PILKADA. Indikasinya sangat jelas.

1. Kurang Sosialisasi? Tidak seperti biasanya,  suasana dan atmosfer PILKADA  kali ini sangat adem ayem. Tidak hanya saat masa tenang, sebelum dan selama masa kampanye pun demikian. Tidak gegap gempita. Baliho-baliho pasangan calon tidak mentereng di sisi-sisi jalan. Baik di kota-kota kecamatan. Apalagi di pelosok desa. Kampanye “blusukan”  juga hanya di titik tertentu yang hanya diikuti simpatisan pasangan yang bersangkutan.

Namun, suasana yang adem ayem ini juga ada untungnya. Pemilih mungkin tidak terlalu fanatik dengan pasangan calon tertentu. Meminimalkan konflik dan friksi horizontal. Mungkin masyarakat sudah cerdas dalam menyikapi PILKADA.  Namun, jika suasana adem ayem terbentuk karena  kurangnya sosialisasi dan munculnya apatisme, maka PILKADA JATIM 2013 ini akan sepi pengunjung.

2. PILKADA tidak membawa perubahan? Masyarakat Indonesia  sudah berulangkali mengikuti PESTA DEMOKRASI. Mereka sudah kenyang mendengarkan  janji para kandidat. Baik kandidat PILKADA atau kandidat  PEMILU. Tak ubahnya di Jawa Timur.  Agaknya, janji manis yang tak kunjung terealisasi serta tak membawa perubahan pada kehidupan para pemilih inilah yang menjadikan keengganan masyarakat untuk memberikan suaranya.

Secara pragmatis, masyarakat pemilih melihat bahwa PILKADA atau PEMILU hanya umbaran janji tanpa bukti. Walaupun hal ini tak seratus persen benar. Karena sedikit apapun pasti ada proses pembangunan selama lima tahun masa pemerintahan dari pemenang PILKADA.

3. Pemilih Pemula yang mengambang.  Potensi jumlah pemilih pemula, dalam event PILKADA merupakan “harta” yang semestinya dimanfaatkan secara maksimal oleh kandidat pasangan calon untuk meraih suara sebanyak-banyaknya. Namun nampaknya hal ini tidak maksimal dilakukan. Saya sempat bertanya pada beberapa pemilih pemula. Rata-rata mereka bingung menentukan pilihannya. Ini bisa dipahami lantaran mereka minim informasi. Jarang melihat banner pasangan calon. Tidak pernah ketemu pasangan calon saat mereka blusukan ke daerah. Bahkan, pemilih pemilih pemula ini lebih suka nonton sinetron dan acara infotainment daripada Debat Kandidat pasangan calon PILKADA  yang digelar di televisi.

Incumbent  Jadi Pemenang?

Dalam situasi dan suasana yang demikian ini, ada tentunya ada yang “tidak untung”  dan ada yang diuntungkan . Yang tidak untung  adalah pasangan calon yang “kurang dikenal” oleh masyarakat Jawa Timur. Yang diuntungkan  adalah pasangan calon yang “sudah lama dikenal” oleh masyarakat Jawa Timur.

Nah, masyarakat Jawa Timur, monggo berbondong-bondong ke TPS. Jangan lupa membawa “surat panggilan” yang sudah dibagikan KPPS. Berikan suara Anda menurut hati nurani. Semoga Jawa Timur ke depan makin lebih baik dan generasi mudanya menjadi generasi emas dan masyarakatnya lebih sejahtera.  Selamat memilih dan mencoblos.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: