“Polisi” Jajanan Sekolah

138094615224462064

Kantin harus selalu bersih

 

Saya beruntung, putri  saya Amanda,  melanjutkan pendidikan SMP-nya di sekolah yang sudah menerapkan Adiwiyata. Di Sekolah Adiwiyata,  dituntut adanya lingkungan sekolah yang sehat,  bersih dan indah. Termasuk Kantin Sekolah. Sebagai konsekuensinya, tidak saja lingkungan kantin harus selalu bersih, jajanan yang dijual pun harus sehat dan ramah lingkungan.

Mulanya memang timbul pro kontra saat para penjual makanan “diajak” untuk menjajakan jajanan yang sehat. Mereka sudah terbiasa dan enjoy dengan berjualan penganan yang mudah dikemas, harganya murah dan dari segi tekstur serta warna sangat menggoda. Intinya semua jenis makanan akan dijual sepanjang disukai oleh anak-anak.

Aturan Ketat

Begitu SMP Negeri 2 Pandaan, tempat putri saya belajar mulai menerapkan Adiwiyata, tak pelak banyak aturan yang harus ditaati oleh seluruh penjual jajanan. Baik jajanan basah, kering, maupun makanan berat.

Pertama, dilarang menjual makanan kering yang banyak mengandung MSG. Maka sejak itu, tidak ada snack-snack yang renyah dan gurih di kantin sekolah. Jajanan yang gurih dikuatirkan mengandung  MSG (vetsin) berlebihan yang akan berdampak buruk pada kesehatan.

Kedua, dilarang menjual makanan yang  menggunakan  pewarna tekstil. Pewarna tekstil umumnya menyolok. Jajanan seperti ini sangat menggoda selera anak-anak. Maka dengan kebijakan itu,  kerupuk warna-warni,  macam-macam keripik serta mie kering   tidak boleh ada di kantin sekolah. Termasuk  kudapan rumahan seperti Bakpao, Mendut, Kue Lapis,  Nogosari dan Jongkong juga minuman harus menggunakan pewarna alami.

13809461951602193604

Tanpa Plastik dan pewarna tekstil

Ketiga, tidak boleh menggunakan pembungkus plastik. Jika harus dibungkus, maka boleh menggunakan kertas atau daun. Seluruh jajanan cukup dimasukkan etalase dan tertutup dari debu dan serangga. Jika siswa membeli jajanan berupa gorengan, maka penjual wajib menyediakan kertas sebagai alas.

Keempat, Kantin Bakso dan Mie dilarang menyediakan  Saos Tomat.  Kantin hanya diperbolehkan menyediakan  kecap dan sambal. Banyak produsen Saos Tomat yang nakal. Saos Tomat diproduksi menggunakan bahan-bahan yang tak layak konsumsi seperti Tomat, Ketela, Pepaya yang hampir semuanya busuk dan diberi pewarna tekstil pengolahannya.

Keempat, dilarang menjual makanan yang tidak jelas asal-usulnya. Dulu, banyak jajanan kering yang beredar di sekolah yang tidak jelas darimana berasal.  Yang paling berbahaya adalah “remahan” mie kering. Disinyalir, mie  kering itu adalah sisa produksi dari pabrik mie  yang didaur ulang. Maka sejak ada kebijakan Adiwiyata, semua jajanan berplastik, terutama mie kering tanpa merek  tidak boleh dijual di kantin. Untuk minuman gelas harus minuman yang ada kode produksi dan tanggal kadaluwarsanya. Sedang untuk jajanan matang harus tahu siapa pembuatnya.

Kelima, dilarang berjualan saat jam belajar.

13809462701582224204

Saos Tomat, No! Kecap dan Sambel, Yes!

 

Polisi Jajanan Sekolah

Nah, agar kebijakan Adiwiyata di Kantin Sekolah bisa berjalan dengan baik, maka perlu ada pengawasan khusus dari internal sekolah. Menariknya, di sekolah ini  tidak ada staf yang khusus memantau jajanan yang ada di sekolah setiap harinya. Ternyata mereka telah menyiapkan anak-anak yang tergabung dalam ekstrakurikuler PLH (Pendidikan Lingkungan Hidup) Adiwiyata sebagai Polisi Jajanan Sekolah. Ternyata, “polisi-polisi” belia yang sudah digembleng dengan pengetahuan kesehatan makanan minuman ini sangat antusias menjalankan tugasnya. Sembari jajan saat jam istirahat, mereka pun menjalankan tugasnya.

Bila  “polisi-polisi” ini  menemukan jajanan tak sehat termasuk stand kantin yang jorok, maka mereka segera membuat catatan dan melaporkan pada internal sekolah. Maka sekolah pun akan menegur para penjual yang melanggar. Kadang, “polisi-polisi” ini tak segan-segan menegur teman sebaya yang membuang sisa makanan  sembarangan. Karena sekolah sudah menyiapkan tempat sampah yang memadai. Jumlah “polisi jajanan” ini pun sangat banyak, sehingga sekolah tak kekurangan tenaga untuk mengawasi kantin.

Harapannya dengan melibatkan siswa akan langsung menyentuh pada inti kebijakan. Unsur edukasinya kental. Tidak saja siswa sekedar menjadi pengawas tapi diharapkan mereka mampu menjadi tutor sebaya sekaligus teladan bagi rekan-rekannya. Ini yang penting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: