Prajnaparamitapuri yang Terabaikan

138648738996992065

Raden Wijaya, pendiri Majapahit menikahi ke-empat putri Kertanegara: Tribhuwana, Dyah Duhita (Mahadewi), Jayendradewi (Prajnaparamita) dan Dyah Gayatri (Rajapatni). Tribuwana  merupakan Parameswari / Ratu. Tapi, Gayatri yang termuda, terpintar  dan tercantik konon paling disayangi Raden Wijaya dan mendapat gelar Rajapatni (pendamping raja). Selain itu,  Dara Petak saudari Dara Jingga yang berasal dari seberang  juga diperistri oleh Raden Raden Wijaya sehingga lahirlah Jayanegara.

Raden Wijaya dan Dyah Gayatri mempunyai 2 putri.  Tribuwana Tunggadewi dan Rajadewi. Tribuwana Tunggadewi melahirkan Hayam Wuruk yang kelak menjadi raja besar di Majapahit. Bisa jadi, dalam perjalanan sejarah Majapahit, Dyah  Gayatrilah sebenarnya “otak”  dan pemberi arah kebijakan serta tata pemerintahan serta politik,  sehingga Majapahit mencapai kejayaannya. Maka tak salah kalau Mpu Prapanca menuliskan: Rajapatni beranak cucu raja-raja terkenal di tanah Jawa. Untuk itulah perlu dibuatkan candi makam yang megah untuk mengenang jasa-jasa dan pengorbanannya. Dan disana dibuatkan Arca Prajnaparamita sebagai lambang kemuliaan Sang Rajapatni.

Prajnaparamitapuri itulah nama candi makam yang dibangunArca Sri Rajapatni diberkahi oleh Sang pendeta JnyanawidiTelah lanjut usia , faham akan tantra, menghimpun ilmu agamaLaksana titisan Empu Barada, mengembirakan hati baginda(Negarakrtagama Pupuh 69: 1)

1386487438402939322

138648748064570258

Prajnaparamita

Dalam bahasa Sansekerta, Prajnaparamita berarti kesempurnaan dalam kebijaksanaan. Arca Prajnaparamita mempunyai ciri khas yakni dua telapak tangannya membentuk dharmacakramudra (memutar roda ajaran) atau pemberian wejangan oleh Budha untuk pertama kalinya sesudah mencapai kebudhaan.  Namun adapula arkeolog yang menyebutnya vyakhyanamudra dengan alasan bahwa arca tersebut menggambarkan sikap berbicara atau memberi penjelasan.  Arca ini digambarkan sedang duduk di atas padmasana (bunga teratai merah) ganda. Di bagian belakang arca terdapat prabhamandala (sandaran). Roman mukanya tenang, teduh dengan pandangan mata terpusat pada ujung hidung. Menunjukkan ketinggian budi Sang Rajapatni.

13864875761228288543

Sumber: Arca Prajnaparamita (id.wikipedia.org)

Candi yang Mengenaskan

Saya ditemani putri saya Amanda dan beberapa siswa beberapa waktu lalu menyusuri beberapa situs purbakala di Tulungangung. Termasuk mampir ke Prajnaparamitapuri yang lebih  dikenal sebagai Candi Gayatri. Ada yang menyebutnya Candi Boyolangu, karena terletak di Boyolangu. Saya membayangkan, bahwa Prajnaparamitapuri adalah bangunan candi yang sangat elok. Karena dari berita Negarakrtagama, candi ini dikhususkan untuk pendharmaan  Rajapatni.

Saat masih hidup, Ibu Suri ini  sangat dihormati dan dikagumi oleh baginda Hayamwuruk. Raja besar ini  tentu tak akan membangun cayta sederhana untuk nenek yang dicintainya. Saya juga membayangkan, Arca perwujudan Dyah Gayatri Rajapatni pastilah secantik Arca Prajnaparamita yang ditemukan di Candi Wayang, Singosari Malang. Yang dulu pernah dibawa ke Leiden dan sekarang replikanya ada di Museum Nasional Jakarta.

Bayangan keelokan Prajnamitapuri buyar begitu memasuki gerbang tempat candi berada. Ternyata kondisi Prajnaparamitapuri sangat mengenaskan. Candi berbahan bata merah ini sudah runtuh. Hanya tersisa kaki  candi di candi induknya. Ada sisa-sisa tangga di arah barat. Tinggalan lain yang bisa dijumpai di candi berukuran 11,40 x 11,40 meter ini adalah umpak dari batu andesit. Di salah satu umpak dituliskan angka tahun  1289 C (1367 M) yang kemungkinan dipakai sebagai tetenger tahun pembuatan candi.

1386487655708941527

Sumber: Candi Induk

13864876851829085465

1386487740418135813

1386488168791530223

Sumber: Umpak ber-Angka Tahun

Tepat di tengah reruntuhan candi induk, dinaungi cungkup sederhana ditempatkan Arca Prajnaparamita. Arca ini adalah perwujudan Dyah Gayatri Rajapatni yang kondisinya tak kalah memprihatinkan. Kepalanya hilang entah kemana. Tinggal badan arca, duduk tenang seperti sedang bersemedhi. Kalau saja arca ini utuh, mungkin akan menjadi salah satu arca “tercantik” yang pernah dibuat di jaman Majapahit. Sungguh sayang!

Tak jauh beda dengan candi induk, dua candi perwara juga hampir rata dengan tanah. Tidak nampak lagi bentuk aslinya. Lebih tepat disebut tumpukan batu. Posisinya ada di utara dan selatan candi induk. Ada beberapa umpak serta lingga  yang diletakkan begitu saja di tengah reruntuhan. Ah, sungguh memprihatinkan kondisi Prajnaparamitapuri, pendharmaan Sang Rajapatni yang telah “membesarkan” Majapahit.  Memang tidak mudah merekontruksi kembali candi ini. Karena bentuk aslinya tidak pernah diketahui. Mudah-mudahan dengan mengingatnya, Sang Rajapatni masih tersenyum di nirwana.

13864878171260192378

Sumber: Reruntuhan Cani Perwara

1386487854170139550

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: