Spektakuler, Gayatri Rajapatni Pun Tersenyum

1379037094630818047

Patung Tribuwana Tunggadewi di Halaman Taman Candra Wilwatikta

Seandainya hadir, Gayatri Rajapatni dan Tribuwana Tunggadewi akan tersenyum bahagia. Pergelaran sendratari  kolosal dalam ajang Festival Majapahit 2013 garapan STKW Surabaya  bertajuk “Surya Majapahit, Gayatri Rajapatni”, saya yang awam mengatakannya  sukses dan spektakuler. Penampilan tariannya memukau, penontonnya padat. Tak ada tempat duduk lowong di Ampitheater yang kapasitasnya 10.000 orang terebut.

Koreografi, semangat, dan keluwesan gerak para peraga,  property pendukung serta tata lampu  mampu membuat tontonan penutup di hari pertama Festival Majapahit 2013  benar-benar meriah. Ditunjang pula, sound system yang nyaman dan tidak nylekit, walaupun hentakan kendang Jawa Timuran berkali-kali mampir di telinga.  Berulang-ulang aplaus apresiasi penonton menggema di seantero Ampitheater Taman Candra Wilwatikta seakan mampu mengusir hawa dingin yang mulai menyelusup.

137903712930568079

Ampitheater berlatar Gunung Penanggungan

 

1379036362384623282

India dan Kamboja

Hari pertama Festival Majapahit 2013 di Taman Candra Wilwatikta Pandaan, menampilkan 3 negara. India, Kamboja dan Indonesia. India, sebagai  tempat asal Kitab Ramayana, tampil dengan ciri khasnya. Tabuhan musik India  rancak ditingkahi gerak lenggak-lenggok yang lincah. Ala film Bollywood. Kostumnya khas, seperti yang sering kita lihat di Film Mahabarata yang pernah diputar di stasiun TV Tanah Air.

13790363841370284799

India: Sayembara mendapatkan Shinta

 

Bertajuk The Swayamvara for Sita, tim kesenian India tampil lumayan menghibur. Inti cerita adalah sayembara mendapatkan Sita (Shinta). Banyak adegan kisah kasih Sang Rama dan Shinta. Ini adalah kisah awal dalam Kitab Ramayana. Walaupun hanya berupa gerak tari dan musik, penonton tak beranjak dan sesekali memberi aplaus untuk penampilan dari tim negeri Mahatma Gandhi ini. Dengan pengantar sinopsis  yang dibacakan MC, penonton diajak untuk memahami jalan cerita sendratari yang dipentaskan.

Kamboja tampil di urutan kedua. Tampil dengan kostum khasnya berupa baju-baju gemerlap dengan topi berujung runcing yang lucu. Sangat berbeda dengan penampil pertama, Tim Kamboja menyajikan Coronation Of Bharat dengan gerakan lemah lembut. Terkesan sedikit patah-patah. Mungkin juga ini tarian sakral keagamaan. Musiknya mendayu-ndayu. Di telinga, bunyi terompet seperti terompet Reog Ponorogo begitu dominan. Bagi saya, musik Kamboja ini demikian asing, Tapi tetap saja enak untuk dinikmati. Dengan jumlah pemain yang tak terlalu banyak, panggung terbuka Taman Candra Wilwatikta nampak terlalu luas untuk penampilan tim Kamboja. Namun, penonton tetap tak beranjak sampai pertunjukan usai. Lagi-lagi tepuk tangan meriah mengakhiri pementasan.

Surya Majapahit: Gayatri Rajapatni

Indonesia, diwakili STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) Surabaya, tampil sebagai penutup di hari pertama Festival Majapahit 2013. Jika dua penampil sebelumnya (juga penampil dari negara lainnya) membawakan episode Ramayana, maka Indonesia tampil khas dengan cerita ber-setting Majapahit, sesuai tajuk festival. Secara guyonan, bolehlah disebut ini Festival Majapahit “rasa”  Ramayana. Tapi saya bersyukur, karena berkesempatan menonton Ramayana di TCW yang konon pernah juga digelar di tempat ini tahun 1971.

1379036444938281516

Surya Majapahit, bercerita tentang proses berdirinya Majapahit setelah runtuhnya Singosari akibat serangan jayakatwang dari gelang-gelang. Empat putri Kertanegara (raja Singosari) yang diperistri Raden Wijaya harus merasakan duka nestapa yang dalam akibat peristiwa itu. Termasuk Gayatri Rajapatni, yang tercantik dan tercerdas. Namun selanjutnya, diceritakan liku-liku perjuangan Raden Wijaya yang akhirnya mampu menghancurkan Kerajaan Gelang-Gelang dan mendirikan Majapahit.

Majapahit di awal berdirinya penuh dengan berbagai macam intrik dan persoalan. Namun, Gayatri Rajapatni yang kemudian menjadi Ibu Suri sangat berkepentingan untuk mewujudkan cita-cita mempersatukan Nusantara. Seperti yang juga dicita-citakan ayahandanya: Kertanegara. Maka, di saat putrinya, Tribuwana Tunggadewi menjadi  ratu, proses kejayaan Majapahit pun dimulai.

137903716370463887

Akhirnya, muncul Sumpah Amukti Palapa, janji seorang Mahapatih di hadapan sang ratu untuk tidak berhenti mengabdi sebelum Nusantara dipersatukan. Sempat digambarkan pula di atas panggung, perang tanding  Gajah Mada dan Jabung Terewes yang mengejek Gajah Mada. Jabung Terewes menganggap Gajah Mada bermulut besar dan tak akan sanggup menjalankan sumpahnya.

Dukungan property dan jumlah penari yang demikian banyak, menjadikan Surya Majapahit benar-benar kolosal. Apalagi di setiap sesi, suara merdu pesinden dan pengisi suara selalu mengalir nyaman di telinga.  Penoton benar-benar bisa menikmati, karena gerak penari dan dukungan property mampu berbicara dan mewakili sebagian jalan cerita.

Maka, malam itu 11  September 2013, Gayatri Rajapatni dan Tribuwana Tunggadewi pun bangga dan gembira. Di tempat di mana dia dulu pernah singgah saat menemani sang Raja Hayam Wuruk sepulang blusukan dari Lumajang dipentaskan Sendratari yang dipersembahkan untuk mengenang dirinya. Di Taman Candra Wilwatikta yang luas inilah rombongan besar raja Majapahit dan seluruh Raja Jawa dan pembesar istana beristirahat sebelum berkunjung ke Jajawa: Candi Jawi yang jaraknya 500 meter di arah Selatan.

1379037190720675205

Ayo lestarikan Tarian Tradisional Nusantara, sebagai bagian dari wisata Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: