Gledekan, Permainan Mengasyikan Yang Multifungsi

Gledekan, mungkin tidak asing bagi sebagian orang.  Selain Mercon Bumbung, Bedil Pokak, Pathil Lele, Glindingan, maka Gledekan adalah permainan favorit saya dan teman-teman saat remaja dulu. Membuatnya tidak susah. Memainkannya tidak sulit. Malah sangat mengasyikkan. Bahkan, bisa jadi ajang uji nyali dan meningkatkan  adrenalin. Itu hanya bisa dijumpai pada permainan Gledekan. Boleh dikatakan, permainan ini  khas laki-laki remaja.   Inilah asyiknya  jadi anak gunung. Tidak punya  sepeda atau mobil-mobilan.  Maka, punya Gledekan  jadi idaman.

Konstruksi Kayu

Gledekan adalah sebuah alat permainan yang berbahan baku utama kayu. Gledekan  dibuat dari kayu papan atau usuk dengan panjang kira-kira 80-100 cm. Biasanya kayu-kayu dihaluskan. Di bagian depan,dibuatkan kemudi. Bahan juga dari kayu. Bentuknya mirip dengan garpu sepeda. Panjangnya kira 60-70 cm. tergantung selera. Diantara kedua kaki garpu itu diletakkan roda yang juga terbuat dari kayu yang dilapisi karet dari potongan Ban Dalam Mobil.  Kadang, ada juga yang menggunakan Klaker (Laher).  Klaker adalah Besi bulat yang sering digunakan sebagai As Roda motor/ mobil. Akselerasi roda kayu dibanding  Klaker jelas lebih baik Klaker. Tapi suaranya sangat bising saat bergerak di aspal, sehingga kurang disukai.

Bagian belakang Gledekan,  dudukan rodanya dibuat lebih rendah. Tujuannya agar posisi Gledekan agak mendongak ke atas sehingga saat meluncur di jalan menurun pengemudi tidak menunduk tapi tetap sejajar, sehingga gampang mengendalikan Gledekannya. Di bagian belakang ini umumnya terpasang dua roda.

1374680426835805778

Gledekan di Jalur Pasrepan Tosari (dok pribadi)

Balapan Gledekan

Dibanding bulan yang lain, permainan Gledekan sangat marak saat Ramadhan. Ini karena Gledekan bisa difungsikan di jalanan menurun saja. Maka, saat Ramadhan, selepas sahur dan Subuh,  jalan raya yang masih lengang  akan penuh dengan iring-iringan Gledekan yang meluncur, meliuk-liuk di jalan menurun. Berkejaran, saling bersalipan. Baik yang dikemudikan sendirian maupun beboncengan. Sungguh pengalaman tak terlupakan saat Balapan Gledekan.

Sebenarnya Gledekan tidak harus dimainkan di jalan raya beraspal. Bisa juga di jalan-jalan tanah atau berumput seperti jalan kampung, asal menurun. Tapi tentu saja lebih nyaman jika Gledekan melaju di jalan raya yang agak mulus. Apalagi saat itu mobil pun masih jarang. Maka, Gledekan akan merajalela saat menjelang fajar menyingsing.

Agar tidak bablas  saat meluncur, maka setiap Gledekan dilengkapi dengan Rem sederhana. Berbahan Karet Ban mobil yang dikaitkan dengan kayu dan diletakkan di bagian tumpuan kaki depan. Jika ingin mengurangi kecepatan, mengerem dan berhenti maka kaki kanan cukup menginjak Rem Kayu.  Maka  Gledekan akan segera berhenti.

Alat permainan Gledekan muncul karena saat itu kondisi ekonomi orangtua tidak memungkinan untuk membeli sepeda ataupun mobil-mobilan. Namun dengan keterbatasan itu akhirnya muncul kreatifitas untuk membuat alat permainan yang mengasyikkan. Walaupun setelah meluncur beberapa ratus meter harus kembali ke garis start yang terletak di atas. Turunnya meluncur naik Gledekan, naiknya jalan kaki sambil memanggul Gledekan. Begitu berulang-ulang. Tapi semua dilakukan penuh suka cita tanpa rasa lelah.

Becak Lawu

Saat ini, sangat  sulit menjumpai Gledekan di jalan-jalan di sekitar tempat tinggal saya. Tidak ada remaja yang membuat dan naik Gledekan. Mungkin salah satu alasannya karena sudah tersedia sepeda  di rumah. Atau mungkin sudah terbuai permainan lain yang lebih mengasyikkan. Namun, kalau Anda ke Bromo melewati jalur Pasrepan – Tosari atau sedang melalui jalur Magetan-Sarangan, maka Anda akan menjumpai Gledekan ini.

1374680461186260195

Becak lawu yang Unik dan Multifungsi, meluncur di keramaian lalu lintas jalur Sarangan – Magetan (dok pribadi)

Di daerah Tosari (Bromo) dan Sarangan (Lereng Gunung Lawu), Gledekan dimanfaatkan sebagai alat angkut bagi para petani/ peternak. Biasanya digunakan untuk mengangkut rumput buat pakan ternak ataupun  kayu bakar.  Saat berangkat ke ladang, Gledekan itu ditarik sambil jalan kaki. Begitu pekerjaan di ladang selesai, maka Gledekan digunakan sebagai kendaraan pulang  sekaligus untuk mengangkut hasil bumi atau apapun yang akan dibawa pulang ke rumah. Saking banyaknya petani/ peternak yang menggunakannya, maka Gledekan di Sarangan-Magetan  dikenal sebagai Becak Lawu.

Di dunia modern sekarang ini ternyata Gledekan tidak hanya sebagai alat permainan tapi telah menjadi moda transportasi ramah lingkungan dan murah meriah. Ternyata Gledekan tidak termakan jaman. Sungguh sebuah pilihan yang arif dan bijaksana dari para petani/ pertenak sederhana ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: