Kasihan: Jika Magang Kerja (Prakerin) Hanya Abal-abal!

Kemarin, saya pesan Banner untuk PSB (Penerimaan Siswa Baru) disebuah Percetakan/ Advertising. Pemiliknya lumayan saya kenal. Jadi akrab. Selesai membicaran konsep dan tetek bengek Banner, iseng-iseng saya bertanya tentang beberapa pelajar SMK yang sedang Magang (Prakerin/ Praktik Kerja Industri) di Percetakan/ Advertising itu.  Setelah bicara ke sana kemari saya jadi terperangah.

Kok, Prakerinnya seperti itu! Kesannya abal-abal!. Bayangkan, anak jurusan Multimedia, magangnya di Percetakan. Mending kalau pegang komputer. Bantu nyetting atau buat desain undangan/ banner atau pesanan lain. Kan, jurusan Multimedia minimal akrab dengan software macam Corel Draw atau Photoshop. Ini sangat bertolak belakang. Siswa Kelas XI (kelas 2) SMKN jurusan Multimedia, Prakerin di Percetakan hanya jadi tukang sablon. Bagian gunting dan melipat undangan. Ngepres plastik.. .. Jauh dari disiplin ilmunya atau program keahlian yang digelutinya. Begitu tiap hari yang dilakukan.

Usut punya usut, ternyata 6 anak magang tersebut tak satupun yang menguasai i software komputer yang seharusnya diaplikasikan di tempat magangnya. Jadi pemilik percetakan pun kesulitan memberi job yang sesuai. Apalagi, kegiatan Prakerin ini adalah permintaan mereka (dan sekolah). Pokoknya ditampung saja. Apapun yang dikerjakan. Terserah. Enam Bulan lamanya. Begitu kira-kira prmintaan sekolah!

Kondisi seperti ini ternyata tidak hanya di Percetakan teman saya. Di kantor pos, kantor-kantor pemerintah di berbagai percetakan lain, juga tersebar anak-anak yang sedang Prakerin. Sepertinya program ini adalah kewajiban yang tidak memperhatikan arti penting dari Prakerin itu sendiri yakni memberikan pengalaman kerja bagi sekaligus untuk mengaplikasikan ilmu dan ketrampilan yang selama ini dipelajari di sekolah. Coba bayangkan, jika magang di kantor pos hanya sekedar bagian nye-tempel perangko. Harus segera dicarikan solusi anak-anak ini mendapat tempat magang yang sesuai dengan bidang keahliannya

Banyak kegiatan Prakerin yang dipaksakan. Penting sudah terlaksana. Tidak peduli apakah tempat magang/ Prakerin sesuai dengan jurusan keahlian yang selama ini diikuti oleh siswa. Walau tidak semua Prakerin seperti ini. Saya kuatir kejadiannya merata di  penjuru tanah air. Mengapa?

1. Komposisi jumlah lembaga pendidikan menengah umum  (SMA dan SMK) perbandingannya ke depan diharapkan tercapai 40:60. Artinya, jumlah pelajar SMK akan lebih banyak dari SMA. Ini adalah terobosan yang baik utnuk menyiapkan tenaga siap latih (siap kerja) memasuki era “Bonus Demografi” beberapa tahun ke depan. Tapi yang patut dicermati. Apakah kebutuhan tempat magang (prakerin) juga cukup menampung kebutuhan? Saya kuatir, banyak anak SMK yang tidak mendapatkan tmpat magang yang layak. Tidak berkesempatan Magang/ Prakerin sesuai “kebutuhannya” . Ya seperti satu contoh di atas. Jurusan Multimedia magangnya di tempat Sablon. kegiatan tiap harinya, buat Undangan, buat sampul raport dan seterusnya. Mending tidak ada program keahlian Multimedia. Langsung saja jurusan Sablon. Atau jurusan Multi Talenta barangkali. Bukan berarti ketrampilan sablon, dll tidak bermanfaat. Tapi yo… mbok yao... jangan seperti itu!

2. Saat ini, sudah jadi trend banyak bermunculan sekolah-sekolah baru dengan bendera SMK. Program Keahliannya pun wah.  Otomotif, Mesin Industri, Perhotelan, Multimedia, Pertanian dan seterusnya. Sekali lagi ini adalah terobosan yang bagus. Asal betul-betul disiapkan segala infrastruktur yang ada. Terutama sarana penunjang keahlian di sekolah. Jangan-jangan hanya mengikuti trend dan sekedar mengharapkan Block Grant untuk SMK (yang konon mengucur deras) banyak sekolah baru yang tidak bertanggung jawab. Hanya menjadi SMK-SMK Sastra yang menyajikan dan memberikan teori tanpa makna. Tanpa pernah memberikan pengalaman dan pelatihan praktik di sekolah. Gara-gara tidak punya alat/ sarana. Ini termasuk pembohongan publik. Sungguh kasihan anak-anak bangsa. Jauh panggang dari api. Jauh antara harapan dengan kenyataan.

3. Mengingat terbatasnya jumlah tempat Magang/ Prakerin, maka terkadang sekolah mengambil jalan pintas. Pokoknya semua siswa kelas XI, semester 2 harus magang. Dimanapun tempatnya tidak masalah. Nah, satu hal lagi. Memilih tempat magang memang tidak mudah. Banyak sebenarnya tempat-tempat Magang/ Prakerin yang berkualitas. Tapi ada yang berbayar dan ada yang Gratis. Tentu saja. Tidak semua anak bisa ditampung disana. Kebanyakan, dari kita inginnya yang gratis-gratis. Tentu saja akhirnya dapat tempat seadanya.

Agaknya, perlu langkah-langkah solutif untuk mengantisipasi lonjakan jumlah siswa SMK yang ke depan membutuhkan tempat magang/ Prakerin. Tidak asal seluruh siswa Prakerin dan gugur kewajiban. Bukan Prakerin yang abal-abal. Tapi Prakerin yang benar-benar mampu memberi nilai tambah. Memberikan bekal ketrampilan pada anak didik sesuai program keahliannya. Mampu meninternalisasi nilai-nilai disiplin dan tanggung jawab pekerjaan serta menambah etos kerja. Termasuk juga mengantisipasi kejenuhan jumlah lulusan SMK yang tidak diimbangi dengan lowongan/ lapangan kerja karena  hanya akan menambah pengangguran usia produktif. Ini karena, lulusan SMK adalah siap kerja bukan melanjutkan ke pendidikan tinggi. Walaupun melanjutkan ke pendidikan tinggi tidak haram hukumnya bagi mereka. Ini bukan perkara mudah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: