Kawah Ijen: Amazing Live Volcano (0)

13736178861411844121

Tekad sudah bulat. Mumpung libur sekolah. Maka,  Senin 1 Juli 2013  saya kumpulkan teman-teman. “Nanti, pukul 20.00, meluncur ke Kawah Ijen, ” ajak saya. Ada 4 orang yang siap: Toriza, Wahyudi, Wiyono dan Pepen. Lainnya, bendera putih! Kali ini kami bertekad harus sampai di Kawah Ijen. Karena sebulan lalu, hanya sampai di Pintu Gerbang Kawah Ijen   saja.

Besuki – Sempol – Paltuding

Pukul 08.00, setelah semua siap termasuk perbekalan, maka kami meluncur. Hujan terus menggyur sepanjang perjalanan. Pandaan, Bangil, Pasuruan dan Probolinggo terlampaui. Kalau dulu lewat Lumajang-Jember- Banyuwangi.  Sekarang lewat rute baru. Menuju Paiton dan Besuki. Ambil arah kanan, naik menuju Arak-Arak. Mula-mula melewati perkampungan. Selebihnya hutan. Jalan lumayan bagus, hanya berkelak-kelok. Pukul23.30 tiba di Bondowoso.  Langsung meluncur ke arah Sempol. Sempat terhalang jembatan rusak di tengah kota, hingga harus cari jalan memutar. Hujan mulai reda.

Jalan menuju Sempol sangat sepi. Jalan mulai menanjak. Mula-mula ditemani lampu-lampu di perkampungan, lalu berganti dengan gelap dan hutan lebat. Selepas Sempol, jalan makin menanjak dan berkelok. Masuk kawasan perkebunan Blawan. Harus melewati Portal yang ada penjaganya. Di setiap Portal harus turun. Masuk Pos Satpam,  isi buku tamu dan tinggalkan sedikit uang rokok. Ada 3 Portal yang harus dilalui. Selepas Perkebunan Plalangan, berarti sudah dekat Paltuding.

Akhirnya, tepat pukul 01.30 dini hari tiba di Paltuding. Tak terasa, lima jam perjalanan terlampaui. Walau hujan sudah reda, tapi di sekitar masih basah. Udara dingin pun berkali-kali datang menyergap. Di parkiran ada beberapa kendaraan yang sudah datang lebih dahulu. Di sekitar gelap gulita, kecuali sorot lampu kendaraan dan Senter bergerak-gerak di kejauhan. Ada sedikit masalah saat buang air besar. Toilet terkunci. Tidak ada air pula. Maka, buang hajat di pinggir semak model rimba pun dilakukan…. satu botol besar air mineral dikorbankan …he he he

Mengejar Blue Fire

Tanpa buang waktu, masing-masing menyiapkan diri. Jaket, Penutup Kepala, Senter, Headlamp dan ransel. Air juga tidak boleh tertinggal, termasuk kamera. Setelah prepare, maka segera menuju lokasi awal pendakian. Satu orang  stand by, 4 orang naik.  Ketemu sekelompok wisatawan asing. Tiga cowok dan dua cewek dari Ceko Republik.  Semuanya sudah siap mendaki. Ranselnya gede-gede. Semuanya memakai jas hujan. Dari sebuah bilik ada seorang usia 60 an datang mendekat. Menawari turis jadi guide. Tidak pakai lama, rombongan wisman pun berangkat. Tepat pukul 02.00 dini hari. Saya dan teman-teman segera bergabung di belakang mereka.

Pelan-pelan saja,”  pesan  pak tua, guide lokal yang akhirnya saya kenal dengan nama Pak No. “Nanti kita akan melihat Blue Fire,” kata beliau ramah. Kami pun mengikuti.  100 meter pertama jalan lebar dan landai. Meter berikutnya mulai menanjak antara 20 derajat sampai 45 derajat. Berkelak-kelok pula. Saya membayangkan sangat mudah menuju kawah Ijen yang “hanya” 3 kilometer dari Paltuding.  Kenyataannya setiap 10 meter melangkah harus berhenti mengatur nafas dan meringankan kaki kemeng. Minum sepercik air. Istirahat pun berdiri, karena batu-batu pun masih basah.  Begitu seterusnya, sehingga akhirnya saya tertinggal di belakang dengan Wahyudi.

Blue Fire adalah fenomena alam yang hanya ada 2 di dunia. Di Kawah Ijen dan Islandia. Bara api biru ini muncul saat matahari tenggelam dan cahaya hilang dan sekitranya menjadi gelap gulita. Dari lubang-lubang kawah belerang  itulah Blue Fire muncul. Fiuhhh… eksotis

13736179351007007874

Blue Fire (Oliver Grundwald)

 

Setelah melewati tanjakan terjal dan tinggi, akhirnya tiba di sebuah pelataran. Ada pondok-pondok sederhan di situ. Lega-lega….Inilah Pondok Bunder. Terletak di ketinggian  2214 m dpl.  Di tempat ini para penambang Belerang transit untuk menimbang belerangnya. Karena masih dini hari, tempat ini pun sunyi. Seperti tak ada penghuninya.

Perjalanan pun berlanjut. Rute tetap tidak berubah. Naik dan  berkelak-kelok. Namun, suatu ketika, sorot Headlamp dan senter melihat jalan tanah di depan mulai mendatar. “Ini bonus barangkali,” kata saya sedikit berkelakar. Benar, memang jalan mulai rata, berkelok. kadang sedikit menurun. Kalau jalannya landai begini, sudah dari tadi sampai pikir saya. Rombongan di depan makin tak terkejar. Sempat ketemu rombongan turis asing yang turun dari gunung.

Akhirnya, tiba jua di sebuah pelataran yang gelap gulita. Saya merasakan di kanan kiri jurang menganga. Ada dorongan angin sangat kuat dari arah kiri dan kanan.  Tepat pukul 03.45 tiba di sebuah ujung, tidak ketemu seorangpun. Hanya ada batu besar. Mau melanjutkan tak tahu jalan. Akhirnya buka tenda. Apalagi butir-butir air mulai menetes. Mungkin mau hujan.

 

13736183001490920266

Di depan tenda pukul 05.30 (dok pribadi)

 

13736183291055342422

Begitu tenda siap dari kejauhan ada senter bergerak-gerak. Ternyata 2 orang anggota rombongan sudah kembali.  Di belakangnya  rombongan turis Ceko juga menguntiti. “Dapat Blue Fire,” tanya saya. “Nihil, asap belerangnya mengamuk bikin batuk-batuk dan tidak bisa lewat,” sahut Toriza. “Ya sudah, gak papa.”  Tidak ada yang bisa dilakukan lagi kecuali masuk tenda dan beristirahat. Dan akhirnya… hujan pun mengguyur deras. “Very Good, ” ucap salah seorang turis saat tahu kami bawa tenda. Mereka berlima hanya bisa mencari ceruk di sebelah batu besar untuk istirahat dan melawan dingin.

 

Kawah Ijen Yang Eksotis

Ternyata alam masih bersabahat. Hujan akhirnya mereda, tinggal  rintik-rintik. Angin kencang pun lewat. Kabut tebal mulai menipis. Perlahan kegelapan berangsur jadi terang. Hmm… akhirnya pemandangan depan tenda pun berubah cepat. Walaupun, Blue Fire dan Sun Rise terlewatkan, alam masih menyajikan keindahan.

Subhanallah…….. Kawah Ijen: Amazing Live Volcano. Warna Hijau Toska, Kawah Belerang seluas 5 hektar mulai nampak. Asap mengepul dari lubang Solfatar membubung tinggi. Pagi yang indah di Kawah Ijen.  Sungguh luar biasa pemandangannya…..Maka, begitu cuaca makin terang, jalan setapak dan jurang-jurang pun mulai kelihatan. Tanpa buang waktu, momen-momen indah pun harus diabadikan. saya pun mendekat ke arah Asap Belerang yang muncul dari kawah yang melambai-lambai di kejauhan. Berlari kecil bareng dengan Turis Ceko yang jadi teman seperjalanan. Tak heran, setiap tahun lebih dari 16 ribu turis naik ke Kawah Ijen untuk menikmati keindahan alamnya.

13736184121854181392

Kawah kehidupan penambang belerang (dok pribadi)

 

13736184832047418767

13736185601463502172

jalan menuju Kawah ijen (dok pribadi)

 

 

 

Penambang Belerang

Seiring waktu, bentang alam di Kawah ijen makin terlihat. Guratan permukaan bumi begitu memikat walau kabut seluruhnya lewat.  Kehidupan pun makin menggeliat. Pagi itu satu demi satu pencari belerang mulai berdatangan. Memikul dua keranjang memasuki pelataran dan menuruni jalan terjal menuju kawah. Mereka adalah lelaki perkasa yang sangat luar biasa.

1373618584887364085

Jauh dari tenda (dok pribadi)

 

 

1373618909608630762

Kerja keras memikul Belerang di Punggung Gunung (dok pribadi)

Bongkar Tenda

Lebih dari dua jam saya dan teman-teman ada di pelataran Kawah Ijen. Maksud hati ingin berlama-lama atau turun ke kawah sekalian. Namun dengan berbagai pertimbangan, pukul 08.00 harus turun ke Paltuding.

1373619162240621562

13736190241224934358

13736191171014944077

Danau asam sulfur pekat seluas 5 hektar (dok pribadi)

 

 

1373619214877413963

1373620495661366976

Hati-hati, jurang di kanan kiri (dok pribadi)

 

Bersyukur, hari itu bisa menjejakkan kaki di Kawah Ijen, Banyuwangi. Kawah Belerang berwarna Hijau Toska di ketinggian   2386 meter dpl   yang sudah lama mengundang. Selain eksotisnya pemandangan, di tempat itu kita juga banyak belajar dan bersyukur. Belajar tentang perjuangan hidup para penambang belerang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: