Leitmotiv: Panduan “Membaca” Relief

 

13737821562063838624

Berkunjung ke objek wisata purbakala pasti ketemu candi, arca juga relief.  Ada relief yang terpahat berderet-deret panjang. Seperti di Borobudur atau Prambanan. Seringpula, relief dipahatkan dalam satu  atau dua adegan. Mengingat sempitnya dinding candi.  Nah, seringkali relief-relief  indah yang terpahat di dinding candi itu hanya dinikmati sambil lalu, tanpa sempat tahu “jalan  ceritanya”. Padahal, arkeolog telah mengidentifikasi bahwa ternyata potongan adegan pada relief itu mewakili sebuah narasi  yang panjang.  Entah itu relief cerita dengan tema tertentu pada karya sastra atau relief bernafaskan keagamaan.  Dengan “membaca”  satu atau dua adegan pada panil relief  maka diharapkan dengan segera para pengunjung atau penganut ritual agama  dapat mengetahui narasi cerita  yang dipahatkan  oleh sang seniman.

Relief  Pandu

Nah, karena adegan relief  pada satu relief itu dijadikan patokan atau panduan, maka relief  itu disebut leitmotiv atau “relief pandu” . Pemandu untuk memahami cerita aslinya. Relief pandu  sering dijumpai di candi-candi juga goa-goa pertapaan di wilayah Jawa Timur dan sebagian candi Jawa Tengah. Ini lantaran terbatasnya ruang untuk memahat relief.   Tapi tidak semua relief di candi Jawa Timur pendek-pendek. Malah, relief di Candi  Jawi, Prigen, Pasuruan,  menggambarkan sebuah kisah panjang dari awal sampai akhir cerita.

Adapun Relief  Pandu yang sudah diidentifikasi antara lain:  Garudeya, Ramayana, Kresnayana, Sri Tanjung, Panji, Mintaraga (Episode Arjuna Wiwaha), Tantri Kamandaka/ Angling Darma, Navaruci, Sudhamala dan Bhismasvarga.  Setiap relief pandu itu dipahatkan dengan ciri yang khas sehingga dengan “membaca” pahatan tokoh dan adegan maka dapat diketahui Karya Sastra atau cerita tertentu yang diacunya.

Garudeya

Cerita Garudeya bisa dijumpai pada tiga panil di kaki Candi Kidal, Malang. Digambarkan di sana “Garuda sedang mendukung Naga”, “Garuda mendukung Guci Kamandalu yang berisi air suci Amertamanthana” dan “Garuda sedang mendukung seorang wanita, yakni Vinata ibunya”. Kadang, digambarkan pula sebagai “Sekelompok naga”, seperti di Candi Sukuh, Karanganyar.  Adapun relief Garudeya yang besar  digambarkan di pelataran Candi Cetho, juga di Karanganyar.  Inti ceritanya adalah pencarian air suci untuk pembebasan seorang  ibu.

1373782233873528985

Geruda membawa Kendi Kamandalau di Candi Jago Malang (dok pribadi)

 

1373782272322830476

Sekelompk naga di Candi Sukuh, Karanganyar (dok pribadi)

1373782966704447342

Garudeya di Candi Cetho, Karanganyar Jawa Tengah (dok pribadi)

 

Sudhamala

Relief Sudhamala bercerita tentang upaya  Sadewa, salah satu satria kembar Pendawa yang  meruwat (membebaskan) kutukan pada Dewi Uma (istri Bethara Guru). Dewi Uma dikutuk suaminya lantaran tak mampu menahan kemarahan saat sang suami minta dilayani pada saat yang tidak tepat. Mungkin lagi nggak mood…  Karena Dewi Uma marah luar biasa, maka Dewi Uma dikutuk menjadi Bethari Durga, seorang raksasa wanita (raksasi) yang kemudian menyamar menjadi Dewi Kunti dan minta pada Sadewa untuk membebaskannya.

Leitmotiv untuk Sudhamala antara lain: “Tokoh Ksatria dengan rambut Supit Urang sedang menyembah raksasi” atau “Tokoh Ksatria yang diikat di pohon dimana di sekitarnya terdapat figur raksasa”. Ini bisa dijumpai di Candi Sukuh dan Candi Cetho Karanganyar, Jawa Tengah.

13737823072045055712

Sadewa diikat di Pohon, di Candi Sukuh (dok pribadi)

 

1373782346855759218

Arjunawiwaha dan Mintaraga

Cerita Arjunawiwaha umumnya dipahatkan dalam adegan “Dua Ksatria saling memanah” atau “Dua Ksatria  diantara babi hutan”. Sedangkan Mintaraga yang merupakan bagian dari cerita Arjunawiwaha sering dipahatkan dalam adegan “Pertapa pria sedang digoda dua perempuan”. Relief ini bisa dijumpai di Goa Candi Kendalisada Gunung Penanggungan dan Goa Pasir serta  Goa Selomangleng Tulungagung

13737823772118292545

Pertapa dikelilingi putri di Goa Pasir Tulungagung (dok pribadi)

 

Ramayana

Ramayana bercerita tentang Rama dan Shinta dengan balatentara kera yang dipimpin Hanoman untuk melawan Dasamuka. Relief Pandu adegan ini bisa dijumpai di Candi Bajang Ratu, Trowulan Mojokerto. Di sana digambarkan terjadi “Pertarungan antara Kera dan Raksasa”.

13737823961034990280

Ramayana di Candi Bajang Ratu, Kera melawan Raksasa (dok pribadi)

 

Cerita Panji

Cerita Panji banyak digambarkan dalam adegan “Seorang Ksatria bertopi Tekes yang diiringi pengikutnya, kadang-kadang dengan punakawan”.  Kadang digambarkan pula sebagai “Seorang Ksatria dengan putri dan dayang-dayang”.  Adegan Relief  Panji bisa dijumpai di dinding Candi Kendalisada dan Candi Mirigambar, Tulungagung.

13737825561292914239

Ksatria bertopi tekes di Candi Miri Gambara Tulungagung (dok pribadi)

 

13737825311469331828

Relief Cerita Panji di Candi Kendalisada (dok pribadi)

 

Tantri Kamandaka/ Anglingdarma

Tantri Kamandaka adalah cerita tentang binatang yang bisa bercakap-cakap. Sejenis Fabel. Leitmotiv-nya berupa pahatan “Hewan-hewan apapun jenisnya”  atau “Hewan dan manusia yang seakan bercakap-cakap”.

1373782577413315848

Tantri Kamandaka di Patirtaan/ kolam Candi Penataran, Blitar (dok pribadi)

13737825921288945696

Anglingdarma di kaki Candi Jago Malang (dok pribadi)

 

Sri Tanjung

Relief  Sri Tanjung, sering dipahatkan dengan wujud seorang wanita yang sedang naik Ikan Lumba-Lumba. Ada yang menyebut Buaya Putih?. Ceritanya, Sri Tanjung yang tak bersalah dibunuh suaminya Raden Sidapaksa akibat fitnah Raja Sulakrama. Karena Sri Tanjung belum waktunya mati, maka roh-nya ditolak Yama, sang Dewa Maut. Akhirnya dia dihidupkan lagi sehingga di ujung cerita Sri Tanjung dapat hidup kembali bersama suaminya setelah Sulakrama si tukang fitnah dibunuh oleh Raden Sidapaksa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: