Menikmati Kabut Senja dan Garudeya di Candi Cetho

1369794242763610752

Kabut di Candi cetho (dok pribadi)

 

 

Hari menjelang sore. Buru-buru turun dari Candi Sukuh. Belok kanan, melaju menyelusuri jalan beraspal kasar. Sepeninggal desa-desa, akhirnya tiba di sebuah kawasan asri. Jalan mendaki. Di kiri terhampar gundukan bukit  bertekstur hijau. Segar dipandang mata. Itulah kebun teh Kemuning. Jalan semakin menanjak. Perlu waspada dan ekstra hati.hati. Bahkan, mendekati lokasi,  di depan mata tanjakan menjulang. Akhirnya, tak sampai 30 menit, tiba di kawasan Candi Cetho.

 

1369794263378599749

Kebun teh Kemuning (dok pribadi)

 

1369794411847113380

 



Sore itu di  Desa Cetho,  Kelurahan Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar, cuaca mendung. Awan mau jatuh. Bergegas setelah bayar tiket, kami berempat mulai menaiki teras-teras Candi Cetho.  Teras-teras ini memanjang 190 meter ke belakang. Lebarnya 30 meter. Terletak di ketinggian 1496 dari permukaan laut. Di Lereng Barat Gunung Lawu. Melihat struktur bangunannya yang berteras-teras/ berundak-undak mengingatkan pada peninggalan masa akhir Majapahit (abad 14-15) yang  kembali menganut konsep jaman Megalithikum. Bahkan bentuk candi induknya tak jauh beda dengan Candi Sukuh.

Teras Candi Cetho
Secara keseluruhan, ada 13 Teras di Candi Cetho. Ini adalah hasil pemugaran tahun 1975/1976 oleh Sujono Humardani yang merupakan orang kepercayaan pemimpin Orde Baru. Banyak arkeolog yang menganggap bahwa pemugaran ini sangat jauh dari bentuk asli Candi Cetho. Hanya di Teras VII, yang merupakan teras terpenting yang konon masih seperti aslinya.

 

Van der Vlis tercatat sebagai peneliti pertama Candi Cetho di tahun 1842. Kemudian dilanjutkan arkeolog Belanda lainnya seperti W.F Stutterheim, K.C Crucq, dan A.J Bernet Kempers. Riboet Darmosetopo juga pernah melakukan penelitian di kawasan ini.

 

13697943381896689946

 

1369794443617788880

 

Teras I -VI
Mula-mula  harus melewati 35 tangga di teras I.. Lalu  26 anak tangga lagi. Disusul 7 anak tangga. Ada beberapa arca yang berfungsi menjaga tiap-tiap teras. Baru akhirnya tiba di Teras IV. Disini terdapat Gapura Bentar I Candi Cetho. Begitu memasuki pelataran, kanan kiri tamannya asri. Nampak di  kejauhan, kabut berarak menyelimuti kawasan candi. Pemandangan yang indah di sore hari. Hmm ……….sambutan alam yang menyejukkan  di Candi Cetho.

 

Kaki melangkah menuju teras V. Hanya tersisa reruntuhan gapura kecil. Di Teras VI terdapat sebuah petilasan yang disebut Punden Eyang Krincing Wesi. Konon, Eyang Krincing Wesi adalah leluhur / cikal bakal dari penduduk di kawasan Candi Cetho.

 

Teras VII
Teras VII menyisakan tinggalan yang luar biasa sekaligus menunjukkan bahwa Candi Cetho adalah warisan masa Hindu.  Di pelataran ini  ada ornamen Lingga (phalus/ alat kelamin laki-laki) atau Kalacakra yang luar biasa besar. Ornamen itu dirangkai dengan susunan batu-batu  berbentuk segitiga. Kemudian disambung lagi dengan susunan batu dibelakangnya yang berbentuk kontur Burung Garuda yang mengembangkan sayapnya. Di atasnya terdapat arca Kura-kura. Di beberapa sudut juga terdapat Matahari bersinar yng merupakan simbol dari Majapahit: Surya Majapahit.

 

13697944681542479404

Teras VII dengan relief Garudeya dan Kalacakra serta Surya Majapahit (dok pribadi)

 

1369794659267500899

 

Di dalam susunan batu berbentuk segitiga ini terdapat pahatan-pahatan bentuk binatang berupa: 3 ekor Katak, Mimi, Ketam, Seekor Belut dan 3 ekor Kadal. Menurut Bernet Kempers,  itu merupakan rangkaian angka tahun yang diterjemahkan menjadi 1373 Saka atau 1451 Masehi.
Relief Lingga pada Teras VII  mengandung 3 makna Filosofis. Pertama ini merupakan kepercayaan Jawa Kuno yang sudah mentradisi di masyarakat. Kedua, manusia pada dasarnya lahir karena ada pertemuan antara Lingga dan Yoni. Ketiga, simbol ini ada hubungannya dengan kepercayaan. untuk menghalau  roh-roh jahat atau makhluk halus yang tak kasat mata. Adanya Lingga/ Kalacakra, menyebabkan Candi Cetho juga disebut Candi Lanang.

 

GARUDEYA
Susunan batu menyerupai Burung Garuda  tak lain merupakan penggambaran cerita Garudeya. Cerita pencarian Tirta Amerta (air suci/ air kehidupan) Garuda adalah kendaraan Dewa Wisnuyang yang melambangkan dunia atas.  Kura-kurayang merupakan titisan Wisnumerupakan simbol dunia bawah. Kura-kura dianggap binatang sakti yang mampu menyelami samudera untuk mendapatkanair kehidupan .
Begitulah indahnya relief dan penorama di kawasan Cetho yang berkabut lembut. Candi Cetho sendiri dalam bahasa Jawa artinya JELAS. Dari lokasi ini memang, nampak JELAS ke berbagai arah. Ke arah utara terhampar Kota Karanganyar dan Solo (40km) dengan Gunung Merbabu dan Merapi di kejauhan. Di Barat dan Timur pemandangan hijau indah dipandang. Sedangkan di Selatan, Gunung Lawu berdiri kokoh menyimpan sejuta misteri

13697945091068978742

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: