Menikmati Perjalanan Ke Gunung Ijen, Banyuwangi

13717152851173097490

Lelaki Perkasa Dari Kawah Ijen (dok pribadi)

 

Tak terasa, lebih dari 2 jam saya dan teman-teman menghabiskan waktu di Pulau Merah dan Teluk Pancer. Untungnya matahari agak malu-malu, sehingga siang itu tak begitu menyengat.   Maka, pukul 12.30, perjalanan pun dilanjutkan. Rencananya ke beberapa pantai terdekat. Sukamade atau Rajegwesi.  Tapi kata petugas rescue, jalan ke sana rusak berat. Labih baik naik perahu boat. Waaa.. naik perahu boat, di Laut Selatan pula.  Enggak lah! Ombaknya besar dan… gak bisa berenang! Akhirnya,  mengunjungi Gunung Ijen jadi pilihan.

Kendaraan pun melaju menyusuri jalan keluar dari Pesanggaran, kembali ke Srono. Lalu tiba di  Rogojampi dan Kabat. Mendekati kota Banyuwangi, ada pertigaan arah kiri. Ada petunjuk: Wisata Kampung Osing dan Gunung Ijen. Tanpa perlu bertanya, meluncur mengikuti jalan berkelok-kelok yang makin lama makin menanjak. Kanan kiri masih banyak rumah penduduk. Tujuannya adalah  Kecamatan  Licin. Selepas Licin, jalanan mulai sepi dan masuk perkebunan kemudian hutan belantara.

13717151101324203069

Bukit dikepras jadi jalan raya (dok pribadi)

 

Mendung yang bergelayut mulai pagi akhirnya pun tumpah. Hujan deras sepanjang jalan. Kabut sesekali menutup pemandangan. Apalagi jalan terus naik tajam dan berkelak-kelok. Di kanan kiri jalan, flora khas hutan tropis memagari jalan. Pohon-pohon besar usia ratusan tahun tegak berdiri. Akhirnya tiba di sebuah  bukit yang tengahnya dikepras untuk jalan raya. Sebenarnya takut longsor juga saat melaluinya. Hampir 3 jam, sejak serangkat dari Pulau Merah, akhirnya tiba di sebuah pelataran luas. Hujan pun mulai reda.

PALTUDING

Pelataran ini disebut PALTUDING. Gerbang utama memasuki Cagar Alam Taman Wisata Kawah Ijen sekaligus Pos PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam). Udara dingin mulai menyergap. Terlihat kabut saat kita berucap. Kalau di jalan tadi sepi, ternyata manusianya pada berkumpul disini. Ada yang ngopi dan nge Teh, di kedai pojok parkiran. Ada pula yang makan bakso dengan kuah panas. Sungguh cocok di cuaca mendung dan udara dingin begini.

1371715142338118978

Pelataran Luas PALTUDING (dok pribadi)

1371715169634719035

1371715382789411873

Segera saya bergegas ke pintu gerbang. Loket tidak ada yang jaga. Dan ada Banner di Gapura bertuliskan : PENUTUPAN SEMENTARA:  Kegiatan Pendakian, Penelitian dan Penambangan Belerang di Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Dalam Bahasa Indonesia dan Inggris.  Tapi… kok dari arah gunung banyak anak-anak muda berbondong-bondong turun gunung. Berbasah-basah pula. Termasuk juga para penambang Belerang.

Maksud hati sebenarnya akan mendaki dan mengintip eksotisnya Kawah Ijen. Tapi, waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. “Percuma mas, di sana nanti gelap gulita. Karena perjalanan ke Kawah Ijen dari Paltuding kira-kira 2 jam lebih“, kata penjual souvenir Belerang. Sebaiknya kalau naik ke kawah pagi-pagi buta atau sebelum subuh. Naik bareng dengan penambang Belerang.  Sehingga dapat menikmati Sunrise. Akhirnya niat untuk melihat Kawah Ijen pun ditangguhkan. Mau menginap, jelas tidak mungkin karena besok hari kerja he he he….

1371715208618241930

Turun dari Kawah Ijen (dok pribadi)

 

1371715254361255689

13717153321773981985

Maka, sore itu  waktu dihabiskan dengan berkeliling di kawasan PALTUDING, 3 Km dari kawah Ijen. Ada beberapa guest house/ pondok wisata untuk bermalam. Di tempat ini pula, para penambang Belerang mengumpulkan Belerang hasil galian di Kawah Ijen. Mereka biasanya berangkat pagi-pagi.  Setelah menggali mereka mengangkut Belerang ke tempat ini. Rata-rata sekali angkut 80 kilogram. Sehari, para penambang belerang melakukan pengangkutan Belerang sebanyak dua kali. Jika, per kilo harga Belerang berkisar 600 rupiah. Maka, per hari sudah bisa dihitung penghasilan mereka.

Tapi, penghasilan seperti itu impas dengan peluh dan resiko yang harus dihadapi. Selain medan penambangan yang terjal, curam dan jalan yang berbahaya, mereka juga harus kuat melawan bau asap Belerang yang menyengat. Seperti halnya penambang belerang di Gunung Welirang, Pasuruan. Gigi dan rambut para penambang akan rusak. Giginya mula-mula akan terkena plak kuning yang berubah jadi coklat dan akhirnya gigi pun rontok. Konon, ada penelitian, ukuran jantung para penambang lebih besar dari ukuran jantung manusia normal.

13717155711974272888

Meninggalkan Paltuding disambut Kabut di Pucuk-pucuk Pinus (dok pribadi)

Hampir satu jam menghabiskan waktu di PALTUDING, maka sudah waktunya beranjak. Pulang ke Pasuruan. Lewat jalur semula, turun ke Banyuwangi jelas makin jauh. Pilihannya. turun lewat jalur ke arah Kecamatan Sempol, menuju Bondowoso. Walaupun jalan relatif lebih sempit, karena kanan kiri penuh semak lebat, tapi pemandangan di perjalanan turun sangat indah. Mula-mula vegetasi khas puncak gunung. Berupa hamparan savana dan kayu Pinus yang jarang-jarang.  Sempat mampir di sebuah sungai,  yang airnya meluncur deras dari atas bukit. Airnya yang   kuning pucat, meliuk di bebatuan,  yang lumayan elok dipandang. Mungkin ini berasal dari danau di kawah Ijen.  Lantaran berbau belerang. Banyak pe;lancong yang turun ke Bondowoso, mapir ke sungai ini. Sekedar untuk bernasis ria.

1371715422680737941

Sungai deras dari Kawah Ijen ? (dok pribadi)

1371715454389071075

1371715489151685632

BLAWAN

Selepas dari kawasan hutan,  lalu masuk perkebunan. dikelola PTPN. Tercatat ada  Perkebunan Blawan dan Perkebunan Plalangan. Mula-mula, tanamannya jenis kayua-kayuan, kemudian Kebun Kopi dan Sayuran. Agak turun beralih jadi kebun Teh.  Jadi sepanjang perjalanan turun, hijau sepanjang mata memandang. Jalan raya  di wilayah perkebunan relatif mulus. Namun begitu mendekati perkampungan, malah banyak jalan berlubang-lubang. Perlu ekstra hati-hati dan mungkin tidak nyaman kalau digunakan jalur naik.  Akhirnya sampai di perkampungan SEMPOL.

O Iya, jarak Banyuwangi ke Paltuding relatif lebih dekat dibanding dari Bondowoso. Untuk backpackeran ke Kawah Ijen akan sangat menantang karena dari Banyuwangi ke Licin ada angkutan. Dari Licin ke Paltuding bisa naik mobil pengangkut Belerang, murah meriah. Sedang dari Bondowoso, ada angkutan sampai Sempol. Dari Sempol ke Paltuding, naik  ojek sekitar 40-50  ribu.

1371715538636703107

Perkebunan Blawan (dok pribadi)

13717156112039153830

Maka, tuntas sudah keliling sebagian Banyuwangi. Pagi  menikmati Pantai Pulau Merah, sorenya naik ke kawasan Kawah Ijen. “Kapan-kapan kesini lagi mas, kata seorang pelancong dari Surabaya yang baru turun dari Kawah Ijen,” sambil bercerita kalau Danau Kawah Ijen  yang berwarna Hijau Toska sangat menawan. Atau melihat Blue Fire (Api Biru) yang tak ada duanya di dunia. Hmmm.. iming-iming yang menantang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: