Terkesan Sudut-sudut Wisata Jogjakarta Nan Menawan

13686261872113336069

Pantai indrayanti… mirip Bali? (dok pribadi)

 

Hari sudah menjelang  sore saat tiba di Klaten. Sempat menyantap Sop Ayam Pak Min yang memang lezat.  Begitu ada petunjuk menuju arah Gunung Kidul, segera belok ke kiri. Menyusuri jalan-jalan kabupaten yang tidak terlalu padat. Tujuan kali ini adalah ke  Indrayanti, pantai di Gunung Kidul. Sudah jadi tekad dari rumah, kunjungan ke Jogjakarta kali ini tidak seperti lazimnya. Malioboro, Keraton, Taman Pintar, Borobudur sementara ditinggalkan. Macetnya minta ampun.

 

Karena petunjuk jalan tak lengkap, terpaksa harus berulang kali berhenti untuk bertanya. Sempat tercatat nama Trucuk, Bayat, Nglipar, Wonosari,  dan Kemiri dilewati. Sempat bertemu  juga baliho besar tertulis Goa Pindul… Hmm ….ini juga tujuan menarik.  Kapan-kapan deh, sementara dilewati dulu. Akhirnya tiba di kawasan Pantai Baron. Sempat berpapasan dengan bus-bus besar yang menghabiskan jalan. Harus mengalah  biar tidak cedera. Setelah bayar tiket,  5 ribu per kepala,  baru tahu kalau sudah masuk deretan pantai  Gunung Kidul.  Pantai Baron dilewati, begitu juga Pantai Kukup, dan Pantai Krakal. Jalanan mulus tapi  sepi. Sebenarnya ada keinginan untuk satu per satu menikmati pantai ini. Tapi mentari makin jatuh tinggal seperempatan.

 

Setelah Pantai Sundak, akhirnya tiba di Pantai Indrayanti. Tak dinyana, kalau di jalanan tadi sepi ternyata manusianya pada kumpul di sini. Suasananya sibuk. Parkir mobil dan motor penuh. Tanpa buang waktu, segera berbaur menuju pantainya. Wow.. pasirnya putih. Memanjang dari Barat ke Timur.  Payung warna-warni  berdiri  beberapa titik pantai.  Beberapa tikar digelar. Di ujung Timur  ada bukit besar yang membatasi pemandangan. Di barat  ada cafe, restoran dan penginapan yang memanjakan. Melihat suasananya, sepintas mirip-mirip pantai di Bali!

 

1368626233823225254

Sisi lain pantai Indrayanti (dok pribadi)

 

136862626340727043

Bermain air…. (dok pribadi)

 

 

Ombak dikejauhan melambai-lambai. Kadang terlihat meninggi. Tapi, di bibir pantai air surut. Pengunjung pun asyik bermain air. Ada yang sekedar jalan-jalan di atas batu karang. Beberapa anak tampak bermain pasir. Riang gembira. Kami menikmati suasana pantai dengan semangkok bakso. Nikmat!. Hmm …..sore yang indah di Pantai Indrayanti.  Kata penjual Bakso, nama pantai ini adalah Pulang syawal. Indrayanti, adalah nama perintis dan pemilik  restoran dan cafe di pantai Pulang Syawal. Tapi nama Indrayanti nampaknya lebih “menjual” dan lebih keren dibanding Pulang Syawal.

 

Karena hari makin gelap, maka kami segera bergegas. Mencari penginapan untuk bermalam.  Yang ada di angan-angan hanya satu. Kaliurang!. Dataran tinggi di Jogjakarta yang konon sudah dikenal sejak jaman Belanda jadi penguasa. Segera kami meluncur. Tapi  tidak lewat jalur berangkat. Kata tukang parkir, ikuti saja jalan terusan, maka akan  sampai di Wonosari dan  menuju Jogjakarta.

 

Karena tak tahu arah, terpaksa berkali-kali harus bertanya. Akhirnya begitu lepas dari Ring Road Jogjakarta,  ketemu jalur menuju Kaliurang, Sleman Jogjakarta. Jalan lebar,  menanjak tak ada habisnya. Mula-mula melewati keramaian dan deretan toko-toko. Begitu mendekati puncak, mulai berkelak-kelok. Malam makin pekat. Jalanan makin sepi. Kanan kiri dipenuhi villa dan homestay.  Diputuskan bermalam di penginapan sederhana. 80 ribu sekamar untuk berdua. Pesan 2 kamar karena kami berempat. Nekad mandi walau tak ada air panas. Untung di meja tersedia teh panas. Udara dingin mulai menyelusup. Mencubit-cubit kulit yang lelah. Akhirnya tak ada canda karena semua terlelap.

 

Sholat subuh sudah ditunaikan. Minta air panas pada pemilik villa. Ngopi dan ngeteh di pagi hari sungguh nikmat, Melawan hawa dingin Kaliurang yang kadang menyengat. Begitu mentari muncul kami pun beranjak. Naik menuju puncak.  Sempat beli gorengan dan kudapan bungkus daun pisang yang masih  hangat.  Mirip-mirip lemper. Nikmat dan hemat. 500 rupiah per buah.

 

1368626398257420181

Gardu Pandang Merapi… sayang masih terkunci (dok pribadi)

 

13686264222013461772

G. Merapi dari Gardu Pandang kedua (dok pribadi)

 

Tujuan pertama mengunjugi Gardu Pandang Merapi. Tempatnya indah dengan taman tertata rapi. Sayangnya Gardu Pandang  masih terkunci. Alternatifnya pilih Gardu Pandang kedua yang terletak di bibir jurang. Dari tempat ini nampak Merapi yang berdiri tenang. Jurang di bawah termasuk kawasan Turgo. Jalur Wedhus Gembel (awan panas) dan aliran lahar saat Merapi erupsi. Sekembali dari Gardu Pandang, kami lewat sebuah jembatan. Di ujungnya menjumpai sebuah Bungker. Dulu, Bungker ini digunakan saat ada Wedhus Gembel menuruni lereng gunung. Tapi sekarang Bungker mulai jadi kenangan. Kita masih teringat. Ada  korban Merapi yang tewas di dalam Bungker. Penduduk lereng Merapi sedikit trauma dengan Bungker.

 

1368626448235362595

Bungker untuk darurat Merapi (dok pribadi)

 

Jam menunjukkan pukul 07.00 pagi. Keliling di sekitaran Kaliurang sangat menyenangkan. Udaranya segar dan bersih. Banyak rumah-rumah kuno. Konturnya berbukit. Banyak objek-objek yang layak dikunjungi. Ada Museum Ulen Sentalu yang konon merupakan Museum Budaya Jawa. Banyak menyimpan barang-barang seni dari Keraton Jogjakarta. Tiket masuknya 25 ribu rupiah. Karena masih pagi, petugas loketnya belum ada. Jadi tidak jadi memasukinya.

 

13686264911467612874

Ullen Sentalu (dok pribadi)

 

Begitu pula dengan Museum Merapi. Arsitekturnya menarik hati. Dibangun di sebuah pelataran luas  dengan latar belakang Gunung Merapi. Sungguh pemandangan yang penuh sensasi. Apalagi bentuk bangunannya yang unik. Dari depan bangunan ini mirip sebuah gunung. Atau sebuah tugu.  Dari pojok kiri belakang mirip-mirip sebuah Bahtera. Atau  mungkin juga mirip pesawat ruang angkasa… he he he lebay!

 

Lag-lagi, karena masih pagi. Petugas belum tiba. Loket belum dibuka. Hanya melongok-longok melihat dalamnya. Kami pun mengitari bangunan museum. Di belakang ternyata terdapat sebuah arena. Bertrap-trap. Entahlah.. mungkin tempat untuk sebuah pertunjukkan. Sayangnya, tidak ada petugas yang  siap untuk berbagi cerita.

 

136862651673469740

Museum Merapi dengan pelataran luas dan latar belakang G. Merapi (dok pribadi)

 

13686265472076377001

Mirip Tugu, Gunung lengkap Tangga Masuk sebuah karya Arsitektur nan Indah (dok pribadi)

 

13686265671286966083

Museum Merapi dari Pojok kiri belakang mirip Pesawat Angkasa Luar? (dok pribadi)

 

 

Turun dari halaman Museum Merapi, berpapasan dengan beberapa Jeep Adventure yang mulai berdatangan.  Jeep-jeep kuno ini lumayan kinclong. Body-nya bersih. Roda-rodanya Radial asli, bukan Radial= Radi Alus (agak halus).  Setirnya ada di kiri.  Dilihat jenisnya ada yang CJ-7 dan Jeep jaman Perang Dunia Ke-2. Ternyata mereka yang melayani Lava Tour. Termasuk ke Kinahrejo tempat rumah Mbah Marijan dan Cangkringan yang menyisakan  aliran lahar yng sudah mengering. Ongkosnya 300-350 ribu. Lengkap ke seluruh penjuru Kalirang dan Kaliadem.

 

13686265911911563105

Jeep Adventure…siap mengantar Anda jelajah Kaliurang dan Lava Tour Kaliadem (dok pribadi0

Akhirnya pagi itu kami putuskan untuk ke Kinahrejo. Mengunjugi rumah seorang tua yang telah tiada. Mbah Marijan namanya. Tahun 2006 kami sudah sowan dan mengunjunginya. Banyak kenangan yang tak terlupakan. Entahlah, beberapa waktu terakhir ini, tiba-tiba ada keinginan kuat untuk berkunjung ke sana. Hanya bertemu dengan Istri Mbah Marijan dan bekas-bekas rumah beliau yang luluh lantak diterjang Merapi yang dijaganya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: