Belajar dari Tragedi

13673281031890804959

Penyumbang Sedimentasi, lahan sayuran di Cangar Batu Malang

 

 

Tahun 2002 terjadi bencana hebat di Lereng Barat Laut  Gunung Welirang. Saat itu, tiba-tiba saja  ada air bah (banjir bandang)  menggelontor kawasan wisata Air Panas Padusan–Pacet  Mojokerto. Anak-anak kecil yang sedang riang bermain di sungai kecil tak menduga jika tiba-tiba gulungan air deras disertai lumpur dan batu-batu sebesar mobil Carry bergelombang-gelombang menyapu bersih semuanya. Bahkan mereka yang sedang berendam di kolam air panas pun tak menduga bakal terseret air.

Sedetik kemudian yang tersisa hanya ratapan, tangisan dan lumpur setinggi lutut disela-sela batu sebesar mobil. Puluhan jiwa melayang. Prihatin  dan trenyuh membayangkannya apalagi melihatnya dengan mata kepala sendiri. Mayat-mayat, potongan-potongan tubuh manusia,  orang-orang yang cacat seumur hidup membuat kita seakan tersadar apa yang sebenarnya terjadi.  Mengapa terjadi banjir? Hanya satu jawabnya. Hutan telah gundul! Bahkan, Pak Mar’ie Muhammad –pimpinan PMI saat itu- mengatakan banjir di Pacet bukan sekedar bencana alam! Tapi akibat ulah manusia yang sembrono dalam mengelola  alam.

Di tahun 2013 ini, ada kabar dari Lereng Selatan Gunung Welirang. Lahan pertanian sayuran di kawasan hulu Sungai Brantas sering longsor di musim hujan. Akibatnya, material longsoran masuk aliran sungai Brantas. Disinyalir tiap hektar kawasan pertanian itu menyumbang sekitar 60 meter kubik material tanah ke sungai. Kesimpulan ini diperoleh setelah ada tim yang memantau kawasan arboretum, kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo dan kawasan hulu Sungai Brantas. Tim Pemantauan melibatkan Dewan Sumber Daya Air Jawa Timur, Perum Perhutani, dan TKPSDA wilayah Sungai Brantas.

13673272661562243824

Arboretum, Kawasan Sumber Brantas (dok pribadi)

1367328181134566834

Alih fungsi hutan lindung menjadi areal pertanian sangat berbahaya (dok pribadi)


Lebih jauh diberitakan, akibat dari kiriman material dari hulu Sungai Brantas itu, kapasitas tampungan Waduh Sengguruh, Kepanjen yang berfungsi melindungi Waduk Sutami Karangkates dari sedimentasi hanya tinggal 4,8%. Artinya, jika dibiarkan Waduk Sengguruh yang jaraknya 50 km dari hulu sungai Brantas akan segera penuh dengan sedimen. Bila dibiarkan, maka Waduk Sengguruh dan Waduk Sutami  yang berfungsi mengendalikan pasokan air DAS (Daerah Aliran Sungai) Brantas untuk pengendalian banjir, pembangkit energi listrik, air baku industri/ domestik akan terganggu. Otomatis pertumbuhan ekonomi sepanjang aliran DAS Brantas, bahkan seluruh jawa Timur akan terganggu.(jasatirta.co.id).

Dua contoh kasus yang berbeda, tapi sebabnya sama. Jika ditelusuri, penyebab banjir memang bermacam-macam. Di daerah hilir dan sepanjang aliran sungai, banjir  erat hubungannya dengan  pendangkalan sungai, aliran sungai dan drainase yang tidak normal (air tidak dapat langsung ke laut). Termasuk juga kurangnya daerah resapan di pemukiman penduduk, serta banyaknya sumbatan sampah.  Akibatnya air meluap. Tambak-tambak gagal panen. Rumah-rumah terbenam.  Bibir sungai tergerus air dan jalan-jalan rusak. Saat banjir kemacetan di mana-mana. Jaringan komunikasi putus, listrik padam dan banyak akibat lainnya.

Di daerah hulu, sebab utama dari banjir adalah hutan gundul. Tidak adanya pohon-pohon menyebabkan  hilangnya daerah resapan. Air hujan yang tidak terserap akan langsung menuju sungai.  Tak heran, saat di hulu hujan deras, maka setiap saat bisa saja terjadi erosi/ longsor yang diikuti  banjir bandang dan banjir kiriman ke daerah hilir. Jika tidak banjir pun, kiriman material dari kawasan hulu, secara perlahan akan menjadikan sedimentasi di waduk-waduk penampungan.

Gundulnya hutan, terutama di kawasan Lereng Gunung Welirang disebabkan  perambahan, penebangan  dan penjarahan, serta beralih fungsinya hutan lindung menjadi lahan pertanian sayuran. Penebangan hutan, disinyalir dilakukan oleh masyarakat di sekitar kawasan hutan.  Hal ini diduga akibat di masyarakat muncul kebebasan yang tidak terkendali dan kebablasan (reformasi yang salah kaprah). Salah satu  sasarannya adalah hutan disekitar masyarakat itu tinggal. Ada anggapan bahwa mereka merasa ikut memiliki hutan tersebut, karena hutan adalah warisan dari nenek moyang! Sehingga terjadilah penebangan-penebangan liar.

Disamping itu, kerusakan hutan atau gundulnya hutan belakangan ini disinyalir terjadi karena Perhutani tidak memiliki kebijakan yang  jelas dalam mengelola hutan, Juga tidak adanya tindakan hukum yang tegas untuk menindak penebang-penebang liar/ pencuri kayu. Akibatnya, tanpa rasa takut para blandong dengan seenak perutnya menebang pohon tanpa perlu berfikir akibat hukumnya atau bencana yang mungkin terjadinya. Sinyalemen bahwa ada oknum Perhutani ikut bermain dalam kasus illegal logging juga patut dicermati.

13673283071523441899

Kawasan hulu sungai yang sudah jadi lahan pertanian (dok pribadi)

Mengingat dampak yang mengerikan akibat hutan gundul maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

Pertama, ada gerakan moral dari seluruh komponen masyarakat untuk secara akftif ikut dalam pengelolaan dan pelestarian lingkungan (termasuk hutan). Bentuknya berupa bersih-bersih sungai, membuang sampah pada tempatnya (terutama tidak disungai) dan terutama tidak menebang pohon sembarangan.

Kedua, kucuran dana yang jelas bagi pengelolaan lingkungan hidup/ hutan

Ketiga, sanksi hukum yang jelas dan tegas bagi pelanggar/ pencemar lingkungan termasuk penebang/ pencuri kayu,

Keempat, monitoring serta penyuluhan secara periodik oleh Perhutani, Tahura, BKSDA  pada masyarakat di sekitar hutan.

Kelima, menggerakkan dan menyadarkan seluruh elemen masyarakat untuk  merasa memiliki hutan diantaranya  melalui PHBM (Penanaman Hutan Bersama Masyarakat),

Keenam, nabung pohon melalui aktifitas Penghijauan dan Reboisasi.

Ketujuh,  konservasi di hulu sungai untuk mengembalikan fungsi hutan dari lahan sayuran menjadi hutan lindung. Selain untuk meningkatkan areal resapan air juga mengendalikan erosi.

Semua itu bisa terealisasi bila semua pihak duduk bersama untuk berbicara dengan kepala dingin. Berbicara dengan hati, mengedepankan persamaan pandangan dan kepentingan, agar hutan mendapatkan perlakuan sebagaimana layaknya sehingga bencana yang mengancam dapat dihindarkan. Semoga.


 

 

13673282571339202999

Ketersediaan air tergantung banyaknya pohon yang kita tanam (dok pribadi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: