Eksotisnya Arsitektur Jawa-Eropa di Keraton Surakarta (2)

1367798086978544211

Bagian dari Kedathon Surakarta (dok pribadi)

Tinggal selangkah sebenarnya untuk memasuki kompleks istana (Kedathon), tempat raja bertahta. Masuk lewat Kori Kamendungan, di sebelah bangsal tempat mobil antik dan Kereta Kencana di simpan. Namun, itu hanya pintu khusus untuk tamu-tamu penting. Pengunjung jika ingin masuk ke kompleks Kedathon harus berjalan 200 meter ke arah timur dan masuk melalui pintu samping. Jangan lupa. Bayar tiket masuk lagi!

1367798118591546423

13677981431005103265

Begitu masuk kompleks Kedathon, kita akan disuguhi dengan lorong panjang yang merupakan teras bangunan berdenah persegi panjang. Ruangan di dalam bangunan ini tidak bersekat. Bagian timur dan barat diperuntukkan sebagai museum untuk  menyimpan koleksi milik Keraton.

O iya, Keraton Surakarta merupakan kelanjutan dari Keraton Kartasura yang dibangun setelah peritiwa Geger Pecinan tahun 1742.  Geger Pecinan adalah pemberontakan orang-orang Cina yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi, putra Pangeran Teposono. Teposono adalah putra Susuhunan Hamangkurat II. Pada peritiwa geger Pecinan itu, Keraton Kartasura berhasil direbut oleh Raden Mas Garendi (Sunan Kuning). Susuhunan Pakubuwono II berikut pengawal dan abdi dalem setia menyingkir ke Ponorogo, Jawa Timur. Tapi akhirnya, keraton dapat direbut kembali oleh PB II. Namun kondisi keraton rusak parah. Diputuskan untuk memindah keraton. Ada tiga pilihan yakni: Kadilopo, Sonosewu dan Dusun Sala (Solo). Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, Dusun Sala yang tanahnya berawa tapi ada tempat yang tanahnya “wangi” (Tolowangi) yang dipilih  dijadikan keraton. Karena dibangun di Dusun Sala, Keraton Surakarta juga dikenal sebagai Keraton Sala (Solo).

Adapun sebagai persyaratan berdirinya keraton baru di Dusun Sala harus disiapkan syarat antara lain: Gong Kyai Sekar Delima, Sirah Tledek yakni uang sebanyak “seleksa ringgit” dan Daun Lumbu serta Bunga Delima  Seta. Bunga Delima Seta dan Daun Lumbu dimasukkan ke dalam sumber air (kedung) sehingga Dusun Sala yang berawa, airnya surut akhirnya mengering. Disitulah didirikan keraton Surakarta sebagai penerus Keraton Kartasura. Perpindahan ini ditandai dengan sinengkalan “Kombuling Pudya Kapyarsihing Nata” atau Rabu Pahing, tanggal 17 Februari 1745.

Memasuki lokasi museum keraton, pertama akan menjumpai diorama perjuangan Pangeran Diponegeoro melawan VOC. Digambarkan Pangeran Diponegeoro naik kuda dan didampingi panglimanya  Sentot Alibasyah dengan latar belakang Goa Selarong. Mengingatkan peda Java Oorlog (Perang Jawa) tahun 1825-1830. Kehebatan dan perjuangan Pangeran Diponegeoro yang mampu menghebohkan kerajaan Belanda dan mengisnpirasi perjuangan di tempat lain di Nusantara. Setelah itu kita akan disuguhi beraneka koleksi keraton mulai dari Kereta Kencana yang sudah sangat renta. Pusaka berupa alat-alat perang. Termasuk Koleksi Tandu dan alat-alat keseharian yang sering digunakan di Keraton. Ada pula keramik Cina yang berjajar rapi. Dan di pojok ruangan dipajang beberapa patung. Paling mencolok adalah Kyai Rajamala yang merupakan patung hiasan ujung kapal yang sepertinya masih dikeramatkan.

13677981692034839598

Goa Selarong (dok pribadi)

136779819684870652

13677982271937891157

Koleksi bangunan sebelah barat didominasi dengan aolat-alat kesenian Jawa, foto-foto raja yang pernah berkuasa termasuk koleksi kelengkapan rumah tangga. Ada juga koleksi-koleksi fragmen Candi dan diorama saat raja sedang menghadiri upacara kerajaan.

13677985031848067008

Kereta Renta Berselimut debu (dok pribadi

13677982591500664384

Paku Buwono XI (dok pribadi)

Selepas menikmati koleksi museum, kita memasuki kawasan Kori Sri Manganti , lalu kompleks Kedathon. Di halaman kedaton terhampar pasir hitam dari pantai selatan yang dinaungi oleh pohon-pohon Sawo Kecik  (Manikara Kauki, Famili Sapotaceace). Kedathon memiliki bangunan yang disebut Sasana Sewaka, nDalem Ageng Prabasuya, Sasana Handrawina dan Panggung Sangga Buwana. Menariknya, di teras bangunan Kedathon dihisasi dengan patung-patung bergaya Eropa. Konon, Pangeran Mangkubumi termasuk yang merancang kompleks keraton Surakarta ini. Pangeran  Mangkubumi kelak akan menjadi Sultan Hamengkuwubowo I yang bertahta di Yogyakarta. Tak heran, keraton Surakarta dan Yogyakarta memiliki rancangan yang hampir sama..

1367798549390933366

Halaman berpasir hitam dinaungi Pohon Sawo kecik (dok pribadi)

13677985751809375467

13677985961545589120

Panggung Sangga Buwana (dok pribadi)

Sasana Sewaka adalah Pendopo Kedathon. Tempat upacara-upacara kebesaran. Di sebelah baratnya adalah nDalem Ageng Prabasuyasa yakni bangunan paling penting dan inti dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Di tempat ini bersemayam pusak-pusaka utama keraton dan singhasana raja berada.

Dilihat dari ornamen hiasan dan perabotannya, keraton Surakarta banyak disuplai dari Eropa. Ada perabot yang dibeli maupun hadiah dari raja-raja di Eropa. Tapi, dari konsep bangunannya, keraton Surakarta sangat memperhatikan tradisi dan filosofi yang berlaku dalam kehidupan masyarakat jawa. Tak heran, keraton Surakarta dapat dikategorikan contoh terbaik  dari sebuah desain arsitektur bercorak tradisonal Jawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: