Fashion Carnival: Jadi Ajang Kampanye Moral, Bukan Ajang Hura-hura

13673178081289169070

Smile……Peserta Fashion Carnival (dok pribadi)

Jember Fashion Carnival (JFC) yang digagas oleh Dynand Fariz, merupakan even karnaval terheboh yang pernah di gelar di tanah air. Tahun kemarin merupakan perhelatan yang ke-12. Nampaknya, virus karnaval ini mulai menular di seantero Nusantara. Terlebih di Jawa Timur. Hampir di setiap Kabupaten/ Kota setiap tahunnya menggelar model even yang sama. Mungkin hanya namanya saja yang berbeda. Dan ini tidak ada salahnya.

Tak terkecuali di Kabupaten Pasuruan yang relatif dekat dengan Jember. Perhelatan Fashion Carnival atau kadang disebut  Fashion On The Street, sudah dua kali dilaksanakan. Di Malang juga menggelar even yang sama, hanya menitik beratkan pada pawai bunga. Banyuwangi, tetangga dekat Jember tak mau kalah, menggelar  Etno Carnival yang sukses luar biasa. Dan sekali lagi, sah-sah saja setiap wilayah menggelar even yang “mirip-mirip” JFC yang sudah mendunia. Karena  even seperti ini merupakan media efektif  untuk mengenalkan potensi daerah. Apalagi jika media sudah mem-blow up-nya. Niscaya, penikmat acara tidak sebatas yang hadir di arena tapi sudah melanglang ke belahan daerah yang lain. Namun, ada beberapa catatan yang sempat terekam sehubungan dengan ajang Fashion Carnival ini.

13673184041175361935

Made in JFC ?? (dok pribadi)

 

Pertama, seyogyanya  Fashion Carnival mampu menggugah kreatifitas dan ide-ide cerdas  para pelaku seni, pelaku wisata dan masyarakat serta personil yang terlibat didalamnya. Maksudnya, adanya kegiatan Fashion Carnival tidak disikapi dengan jalan pintas. Instant. Cukup rental kostum ke JFC  Jember atau ke daerah lain.  Ini sangat disayangkan, karena pada akhirnya tim yang tampil hanya sekedar peraga tanpa makna. Para peraga berlenggak-lenggok di jalan raya dan di catwalk hanya menampilkan karya orang lain yang bukan timnya. Berbeda dengan kostum Fashion yang didesain dan dikerjakan secara bersama-sama oleh tim peserta. Muncul kreatifitas tak terbatas di dalamnya. Dan yang terpenting adalah, libatkan generasi muda dalam kegiatan kreatif itu.

Selain itu orisinalitas kostum hasil kreatifitas sendiri akan lebih dihargai daripada  memakai karya orang lain. Sungguh, saya sangat menghargai dan mengapresiasi tim juri yang melihat orisinalitas ini sebagai poin penting dalam penilaian. Ternyata, hasil kerja tim sekolah kami  yang tidak “mewah”  mampu menyabet Juara Kedua diantara belasan peserta yang ikut even ini.  Walaupun secara “harga” hasil kreatifitas sendiri jauh lebih murah daripada menyewa.

1367318461846791706

Kupu-kupu yang manis… (dok pribadi)

 

Kedua, seyogyanya tampilan Fashion Carnival dimaknai sebagai pembawa  pesan moral dan tidak sekedar ajang obral-obral (uang). Diharapkan, dengan tampilan apik dan gemulai di jalan raya, mampu menggugah kesadaran masyarakat untuk memahami simbol-simbol dan pesan yang hendak disampaikan. Contohnya, dengan mengusung “Animal”, tim kami mencoba menyuarakan pentingnya penyelamatan burung-burung langka yang ada di Indoensia. Agaknya, pesan ini mengena. Karena sepanjang jalan penonton masih mengenal burung langka:  Elang Jawa dan Burung Merak serta  Kepodang.  Agaknya hal yang sama juga dilakukan peserta lain. Ada yang menyuarakan tentang kehidupan bawah laut (Underwater), perusakan hutan (The Forest) dan sebagainya. Pada titik inilah Fashion Carnival tercapai maksudnya.

13673181302132548625

Burung langka: Elang Jawa (dok pribadi)

13673182251264569487

Kepodang yang mulai hilang (dok pribadi)

 

13673181711534179985

Langkah kaki si Burung Merak (dok pribadi)

 

Ketiga,  ajang Fashion Carnival layak dijadikan sebagai “Agenda Wisata” daerah yang diharapkan mampu mendatangkan wisatawan domestik dan asing untuk berkunjung. Jember sudah berhasil melaksanakannya. Jember bisa berhasil karena banyak  faktor yang berperan di dalamnya. Diantaranya, even JFC dirancang jauh hari dengan melibatkan stakeholder yang ada. Pelajar, mahasiswa, masyarakat dan aparat PEMDA dari awal sudah terlibat dalam kegiatan ini. Mereka dilibatkan dalam pengadaan kostum. Bahkan, pelatihan In House Training dilaksanakan cuma-cuma hampir 6 bulan lamanya. Ini  karena tidak semua stakeholder pernah mencicipi pendidikan di bidang fashion.

1367318360227082339

Forest.. selamtkan hutan (dok pribadi)

 

Begitu juga koordinasi dengan instansi teknis baik yang  langsung maupun tidak  langsung terlibat dalm even, semisal Kepolisian, Satpol PP, DLLAJR, Dinas Pendidikan dan sebagainya perlu dilaksanakan secara intens dan serius. Artinya, jika sebuah daerah hendak menggelar even Fashion Carnival, jauh-jauh hari sudah merencanakan sehingga pelaksanaanya mampu menambah nilai jual suatu daerah sekaligus menambah pundi-pundi  daerah. jangan malah adanya Fashion carnival menimbulkan masalah baru. Kemacetan dan kesemrawutan dan caci maki di sana sini. Bila itu terjadi, untuk apa menggelar Fashion Carnival.

Keempat, jadikan Fashion Carnival untuk kegiatan bermanfaat. Bukan sekedar obral-obral (uang) atau hura-hura.

13673184932073186855

Ofisial… seluruh kru Fashion Carnival (dok pribadi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: