Jejak Ki Hajar Dewantara: Lihatlah Anak Sebagai Mawar

1367375543995835945

Bila engkau melihat anak bangsa, lihatlah sebagaimana mawar

,jika engkau melihat mawar, janganlah engkau pandang durinya,

sebab jika engkau pandang durinya, engkau akan membayangkan tempat sampah dan lubang pembakarannya

maka lihatlah mawarnya…

dan jika engkau melihat mawarnya maka engkau akan menjadi penjaga taman

(Ki Hajar Dewantara)

Besok 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ini salah satu bentuk penghargaan bagi Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan sekaligus  Pahlawan Nasional yang warisannya sangat luar biasa bagi bangsa dan negara. Warisan pertama Ki Hajar adalah Perguruan Taman Siswa yang sampai saat ini tetap eksis menjadi salah satu garda terdepan pendidikan tanah air. Warisan kedua yang tak ternilai adalah gagasan, pikiran, semangat juang dan daya kritisnya termasuk karya-karya tulisnya,  pasti tak akan dilupakan oleh siapapun.

Sebagai alumni SMP (Taman Dewasa) yang dikelola Taman Siswa di tahun 80-an, saya pernah merasakan bagaimana model pendidikan ala Taman Siswa. Tidak banyak yang berbeda dengan  sekolah umum, tapi ada yang khas yakni Pendidikan Ketamansiswaa. Dari Ki Moeljadi, yang asli Jogja, saya banyak mendapat ilmu tentang ajaran-ajaran Taman Siswa. Sistem kekeluargaannya begitu mengemuka. Pernah suatu ketika, ada lubang pagar sekolah yang ambrol cukup panjang. Mungkin mau beli tidak ada dana. Maka setiap siswa  diminta sukarela  membawa batu ke sekolah. Saat itu karena ke sekolah jalan kaki, ya tiap hari enjoy saja membawa batu yang diambil di sepanjang jalan. Syukurlah, pada akhirnya lubang pun tertutup. Sungguh pengalaman yang indah dan tak terlupakan, bisa membantu sekolah. (Panggilan Ki untuk guru pria, Ni untuk guru wanita lajang, Nyi untuk guru wanita sudah menikah merupakan sapaan khas di Taman Siswa. Guru disebut Pamong.)

Dalam praktiknya, Taman Siswa menerapkan apa yang disebut sebagai Sistem Among. Dari bahasa Jawa artinya ngemong yang maknanya mendampingi, membantu dengan jiwa penuh pengabdian.Cara mendidik sistem among meletakkan siswa pada kodratnya. Anak-anak harus dituntun dan dibantu untuk tumbuh kembang sesuai keunikan, bakat dan minatnya masing-masing.

Hubungan antara pamong dan siswa harus dilandasi cinta kasih, saling percaya, tidak otoriter  dan siswa selain sebagi objek juga harus ditampilkan sekaligus  sebagai subjek. Disinilah ajaran Tut Wuri Handayani dijadikan pegangan.Tut Wuri bermakna, pamong diharapkan memberi kebebasan pada anak untuk berbuat sesuai keinginannya sepanjang tidak melanggar norma yang ada. Handayani artinya menjaga ketertiban dan kedamaian hidup bersama dengan jalan meluruskan bilamana ada pelanggaran. Siswa sebagai subjek karena memiliki kebebasan dan sebagai objek karena harus tunduk kewajiban dan norma-norma. Inilah hakekat dari: Lihatlah Anak Sebagai Mawar!

Ajaran Tri A: Asah Asih Asuh ajaran Taman Siswa yang sampai sekarang masih saya ingat dengan jelas dan selalu saya sampaikan pada murid-murid saya, walaupun saya mengajar di sekolah umum. Saling Asah, mengajak anak untuk saling berkompetisi secara sehat. Asih saling mengasihi sebagai sesama anak bangsa. Hindari kebencian, cuek dan tawuran. Asuh, saling mengingatkan dan membimbing.Termasuk juga Handarbeni, rasa memiliki -sense of belonging– selalu saya sampaikan, bahwa sekolah ini milik bersama. Dibangun bersama-sama dan untuk kebaikan bersama.  Untuk itu harus selalu dijaga dan dirawat bersama (Hangopeni).

Yang paling menggelitik saya adalah ucapan Ki Hajar: Opor Bebek Mateng Saka Awake Dewek. Memasak bebek, tidak perlu minyak pun matang sendiri. Maknanya anak harus mandiri. Tidak boleh selalu tergantung pada orang lain, termasuk orangtua secara terus menerus. Sugesti yang luar biasa dari seorang Ki Hajar Dewantara.

Als Ik Een Nederlander Was , artinya “Andaikata Aku Seorang Belanda”  adalah tulisan Ki Hajar Dewantara yang sangat menggetarkan. Tulisan kritis itu sangat menusuk dan  membuat malu Pemerintah  Kerajaan Belanda yang saat itu akan merayakan kemerdekaannya dengan meminta  bangsa dan rakyat Indonesia untuk ikut serta merayakannya. Sungguh tindakan yang keterlaluan menurut RM Soewardi Soeryaningrat, nama asli Ki Hajar Dewantara. Akhirnya sejarah pun mencatat, Soewardi pun ditangkap dan dibuang. Walaupun sudah sering ditangkap dan diasingkan Belanda, tapi kiprahnya tak berhenti untuk memajukan bangsanya.Sikap berani karena benar  inilah yang patut diteladani oleh setiap generasi muda.

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Jangan sampai Ki Hajar Dewantara Menangis melihat fenomena pendidikan di Indonesia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: