Jagoan di Jalan Raya

Sport Jantung yang satu ini memang unik. Masuk “wahana”.  Lalu duduk manis menunggu  penumpang penuh.  Sambil bersandar bisa menimati musik atau video yang diputar di lacar kaca. Kadang satu dua pedagang asongan, hilir mudik berteriak-teriak di dekat telinga menawarkan dagangannya. “Permen  … permen.. tahu-tahu.. Lumpia ..Kacang-kacang”.  Kadang ada yang menawarkan koran,   buku bacaan, buku saku dan buku latihan menggambar.  Tak sampai sepuluh menit parkir, “olahraga” pun dimulai. Ya, Anda sedang naik Bus. Entah Bus Kota,  Busway, AKDP atau AKAP,  sama saja. Sopirnya suka ngawur!

13641637562102441418

Salip menyalip, berebut penumpang (dok pribadi)

 

Bagi beberapa orang, naik Bus adalah pilihan perjalanan yang menyenangkan. Tapi bagi yang lain -mungkin trauma- perjalanan naik Bus akan dihindari. Bahkan jarak hampir 300 Km dipaksakan naik motor, lantaran alternatif angkutan lain tidak tersedia. “Amit-amit, jangan sampai naik Bus!” kata tetangga saya yang antipati dengan si bongsor ini.

Memang, sering ngeri saat naik Bus antar kota yang penuh sesak. Entah karena berebut penumpang, mengejar waktu (yang jelas mengejar setoran) para sopir harus saling berebut di jalan. Berebut penumpang dengan dengan sesama Bus atau mobil angkutan lain. Juga berebut jalan dengan pengendara lain. Pada saat seperti itulah, Bus melaju kencang seperti tanpa kendali. Sopir ngebut, seenak perutnya sendiri. Tanpa memperhatikan penumpang yang  sport jantung. Tanpa memikirkan kendaraan lain yang yang sedang lalu lalang di jalan. Tak heran, kadangkala sering terjadi tabrakan yang melibatkan Bus. Gara-gara kecepatan tinggi, jalan sempit atau terhalang, Bus harus memotong ke kanan. Ambil jatah jalan kendaraan dari arah berlawanan. Sopir Bus, kayaknya tenang saja. Tapi, pasti , sopir kendaraan dari berlawanan akan mengumpat. Misuh-misuh. Inilah arogansi si Jagoan Jalan Raya. Mentang-mentang badannya gede, yang kecil-kecil harus minggir. Bus biasanya mau mengalah kalau yang datang dari arah berlawanan Truk Tronton atau Trailer. Nah, kalau ketemu sama besarnya baru keder. Baru diinjak remnya.

1364163697919231910

Bus memotong jalur ke kanan menghindari sepeda..

 

1364163855411347820

Avanza hitam keluar bahu jalan daripada ditumbuk Jagoan Jalan Raya (dok pribadi)

1364163895732498437

Si bongsor melaju tenang tanpa rasa bersalah telah mengganggu orang lain (dok pribadi)

 

Banyak pelanggaran yang dilakukan sopir Bus (juga sopir angkutan lain) di jalan raya. Melanggar markah, berhenti mendadak,  lalu menurunkan atau menaikkan penumpang di sembarang tempat termasuk pelanggaran “biasa”  bagi sopir Bus. Penumpang penuh, jelas rejeki pagi awak bus, tapi penumpang yang overload jelas berbahaya bagi kendaraan itu sendiri. Tapi, yang mengherankan, penumpang penuh atau minim, si sopir tetap saja ngebut. Mungkin sudah tradisi. Miris!

Coba kita amati peristiwa yang lain. Kendaraan apa  yang sering nyelonong di Palang Pintu Kereta Api? Paling sering Bus!  Tanpa menghiraukan antrean atau bahaya, Bus meluncur saja di sisi kanan dan parkir tepat di depan Palang Pintu Kereta yang masih tertutup. Akibatnya, mobil yang lain ikut-ikutan. Begitu, palang pintu terangkat, Bus ndusel-ndusel memotong jalur ke kiri, mencari kesempatan pertama lolos dari antrean. Dasar!

Fenomena Bus sebagai raja jalanan nampaknya akan selalu  hadir di tengah hiruk pikuk lalu lintas di Indonesia.  Banyak kejadian pelanggaran lalu lintas yang melibatkan Bus. Akibatnya bahkan fatal. Banyak korban luka dan tewas. Tapi, terus saja berulang. Konon, paling banyak bukan faktor kendaraan tapi human error. Namun sampai sejauh ini, belum nampak  langkah konkret menertibkan sopir-sopir bus yang nakal ini. Masih saja dijumpai sopir-sopir yang arogan. Seyogyanya, sekali saja sopir melakukan pelanggaran berat, cabut SIM, selamanya!  Selesai urusan. Tapi apakah semudah itu?(Mungkin juga cari SIM Palsu he he he he)

Memang tidak mudah mengatasi kelakuan sopir Bus yang ugal-ugalan  ini. Banyak faktor. Kejar setoran. Kehabisan waktu di jalan. Kelelahan dan ngantuk juga sering jadi biang masalah. Bahkan,  “kompetensi” sopir yang tidak memenuhi syarat, lantaran begitu mudahnya jadi sopir Bus. Enaknya lagi,  mungkin banyak perusahaan (PO) yang mengasuransikan  kendaraannya. Harapannya, saat nabrak, ringsek dan  lumat sekalipun tetap dapat ganti rugi. Perkara kronologi kejadian di jalan raya , bisa saja di atur.

Ada sih, peluang untuk mengingatkan sopir saat melaju kencang. “Pak…, pak.. jangan ngebut pak!”  Paling seketika laju Bus menurun. Sopir akan melirik Anda dan Anda akan di-esemi (senyum sinis) oleh si sopir. Bahkan, di dalam kabin dan kaca belakang sering tertulis nomor HP/ telepon yang bisa dihubungi bila ada keluhan atau pelanggaran atau sekedar untuk booking Bus? Apakah itu sudah dimanfaatkan? Apakah keluhan yang masuk sudah ditanggapi? Siapa yang tahu?

13641642661621570536

Bus yang tertib. Hari hujan, jalan pelan-pelan. Menyalakan tanda bahaya. Lengkap dengan nomor HP dan telepon (dok pribadi)

 

Nah, melihat kondisi ini agaknya, petugas lalu lintas di jalan yang harus lebih tegas. Sekecil apapun pelanggarannya,  harus ditindak. Siapapun itu, termasuk sopir Bus. Berani??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: