Mengintip Pendidikan Vokasi di Australia

Diperkirakan antara  tahun 2014 – 2035, Indonesia ketiban rejeki nomplok nan langka yakni Bonus Demografi. Di kurun waktu tersebut, jumlah angka usia produktif demikian membludak. Kita wajib bersyukur jika membludaknya usia produktif tersebut betul-betul berwujud SDM yang unggul. Artinya, proses pembangunan makin lancar. Ekonomi meningkat. Mudah-mudahan rakyat makin sejahtera. Bila sebaliknya, SDM yang ada tidak berkualitas, angka pengangguran melonjak, niscaya makin luruh dan terpuruk negeri tercinta. Seiring  menumpuknya penggangguran, permasalahan ekonomi, sosial, keamanan segera datang bertubi-tubi. Semoga saja tidak!

Nah, persoalan peningkatan kualitas SDM tidak lepas dari dunia pendidikan. Dalam jangka pendek, permasalahan yang harus segera dientas adalah memperbaiki kondisi lulusan SMA yang secara TEORI harus ke perguruan tinggi, namun FAKTA-nya harus berjibaku di dunia kerja. Lha kalau mau kuliah tidak mampu, memang mau kemana?

13643466591670313230

Margaret River Senior High School (dok Presentasi Angela McCoy)

 

 

Beruntung, beberapa waktu lalu saya berkesempatan menghadiri undangan PSF (Putra Sampoerna Foundation) di TLC (Teacher Learning Center) Pasuruan yang menghadirkan Mrs. Angela Mc Coy dari MRSH (Margaret River Senior High School), Perth Australia. Ibu Angela saat itu menjabat Level Three Classroom Teacher, Media & Publication Coordinator sekaligus Sister School Exchange Program Coordinator.  Pertemuan ini sebagai tindak lanjut sekaligus kunjungan balik setelah kolega saya, Prija Jatmika dan rekan-rekan dari provinsi lain, yang mendapat kesempatan melaksanakan studi komparasi di MRSH, Perth Australia, selama seminggu. Dari bincang-bincang itu dapat saya serap bahwa MRSH sebagai sekolah maju di Perth Australia, ternyata juga telah menyelenggarakan pendidikan vokasional bagi siswa-siswinya  yang memproyeksikan dirinya tidak kuliah tapi berminat untuk bekerja.

1364350722928378372

Tim Studi Banding Ke MRSH, Perth Australia (dok Prija Jatmika)

 

 

Margaret River Senior High School (MRSH), terletak di Negara Bagian Perth.  Pembelajaran dimulai dari kelas 8 sampai kelas 12. Kelas 8-10 disebut Lower School dan Kelas 11-12 disebut Upper School. Di tingkat Lower School dan Upper School ada beberapa mata pelajaran meliputi Maths, English, Studies of Society and Environtment (SOSE), Science, Languages, Physical Education and Health Education. Bedanya, kalau di Lower ada 7 pelajaran wajib dan 2 pilihan. Di Upper ada 5 wajib dan 2 pilihan. Bandingkan dengan di Indonesia. Di kelas 10 Sekolah Menengah Atas, hampir 15 mata pelajaran!

13643508531639319248

Ketrampilan Pertukangan (dok Prija Jatmika)

13643508938956656

Ketrampilan Perkayuan (dok Prija Jatmika)

1364350938198806492

Ketrampilan Perkayuan (dok Prija Jatmika)

 

Saya tidak berpanjang lebar tentang sekolah ini walaupun banyak hal menarik di dalamnya. Namun yang paling menarik adalah pendidikan vokasional yang mulai dikenalkan pada siswa yang benrencana tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Program vokasional ini disebut VET (Vocational Education & Training). Kadang disebut juga VETiS : VET in Schools, Pendidikan Vokasional dan Pelatihan di Sekolah.

Jadi, pada saat siswa memasuki kelas 11 (Upper School), berdasarkan interview dan kuesioner  yang diberikan, para siswa mulai dipilah-pilah. Bagi yang akan melanjutkan ke pendidikan tinggi akan memperoleh pelajaran reguler seperti yang digariskan oleh kurikulum. Sedangkan siswa yang benar-benar tidak melanjutkan kuliah, diarahkan mengikuti VETiS.

Program Vetis meliputi pendidikan vokasional dengan bidang-bidang ketrampilan antara lain pertanian, peternakan sapi, pertukangan, perkayuan, memasak, menjahit sampai memproduksi wine yang diekspor ke Eropa. Sekolah ini bisa melakukan aktifitas pembelajaran yang demikian bagus lantaran berbagai sarana penunjang  memang sangat memadai. Termasuk gurunya juga mumpuni.

1364351169407110887

Kegiatan di MRSH Perth (dok Presentasi Angela McCoy)

 

1364351899513868900

Kegiatan Vokasional di MRSH (dok Presentasi Angela McCoy)

 

Sepintas, kalau dicermati, model sekolah seperti ini mengingatkan kita pada kurikulum 1984 yang dilaksanakan setengah hati. Di kurikulum 1984 ada 2 program. Program A dan Program B. Program A meliputi jurusan A1 (ilmu Fisik), A2 (Ilmu Biologi), A3 (Ilmu Sosial) dan A4(Ilmu Budaya). Program B direncanakan bagi mereka yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Praktiknya, saat itu, saya yang mengalami Kurikulum 1984 di SMA, hanya ada Program A saja. Program B-nya kabur entah kemana.

Nah, ternyata, konseptor pendidikan di Autralia, khususnya di MRSH  Perth, sangat memahami bahwa siswa yang mengenyam pendidikan tidak seluruhnya siap untuk melanjutkan kuliah. Banyak diantara mereka yang berkehendak untuk selepas SMA bekerja, mengisi bidang-bidang yang mereka minati. Untuk itu pembekalan bagi siswa yang akan melanjutkan ke dunia kerja dilakukan dengan serius. Selain sarana lengkap, banyak program penunjang juga dilaksanakan.

 

Program VETiS kegiatan pendidikan dan pelatihannya disesuaikan dengan kebutuhan dan akses ke dunia kerja dan industri. Agar lebih optimal,  program VETiS juga ditunjang dengan Program Workplace Learning Course yang lebih menekankan pada pengembangan pengetahuan, skills  serta nilai-nilai sikap  yang dibutuhkan saat bekerja.

Untuk lebih memperkuat proses pembinaan siswa dan kegiatan pembelajaran dibentuk bagian yang disebut  Student Service dan Career Development Centre. Student Service sangat multiguna karena menangani seluruh kebutuhan siswa. Mulai mencatat prestasi siswa, kenakalan siswa, bimbingan konseling dan bimbingan karir. Kalau di Indonesia dikenal sebagai BP/BK.

Sedangkan Career Development Centre, lebih fokus menangani penyaluran tenaga-tenaga kerja dari siswa-siswa yang lulus dan ingin bekerja. Kalau di SMK mungkin dikenal sebagai BKK. Sehingga, dengan pola kemitraan yang baik, tidak banyak kesulitan bagi alumni dari MRSH untuk memasuki dunia kerja di Australia.  Yang lebih menguntungkan lagi ternyata, walaupun alumni MRSH yang awalnya merencanakan tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi, namun suatu ketika jika ada keinginan dan kesempatan, ternyata ijazah mereka juga masih diakui dan diijinkan untuk masuk di perguruan tinggi di Australia.

Kesimpulannya, untuk menselaraskan dunia pendidikan dengan dunia kerja ternyata juga sudah dilakukan di MRSH, Perth Australia. Kita tidak perlu apriori.  Memang, tidak selamanya yang ada di luar itu baik. Tapi faktanya, di Australia, rakyatnya lebih makmur dari sebagian besar rakyat kita. Bahkan, Australia, sampai saat ini masih menjadi idaman bagi imigran-imigran Asia Selatan dan Timur Tengah yang ingin mengadu nasib di sana. Artinya, secara kasat mata, peluang kerja dan kesejahteraan di Australia lebih menjanjikan. Ini tidak bisa dilepaskan dari proses pendidikan di Australia selangkah lebih maju dari kita dalam menyiapkan anak didik ke dunia kerja, khususnya di jenjang SMA. Kalau konsep pendidikan vokasional ini bisa diadopsi di Indonesia, bukan mustahil Bonus Demografi yang akan segera hadir di bumi pertiwi ini menjadi berkah bukan malapetaka.

 

Terima Kasih :

1. Mrs. Angela McCoy & MRSH Perth Australia

2. Mr. Prija Jatmika

3. MRSH (www.margaretrivershs.wa.edu.au)

Artikel ini Repost dari Artikel “Pendidikan Vokasional Ala Perth, Australia” yang gagal tayang di Kompasiana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: