Risih Dengan Vandalisme!

 

1366543721929424315

Corat-Coret di Objek Wisata bikin sakit mata (dok pribadi)

Wikipedia mendeskripsikan: Vandalisme adalah  sikap dan kebiasaan yang dialamatkan kepada bangsa Vandal – zaman Romawi Kuno.  Bangsa ini  kejam, suka merusak dan melakukan penistaan terhadap segala sesuatu yang indah atau terpuji. Vandalisme berasal dari kata bahasa Inggris: vandalism artinya:  perusakan,  sifat suka merusak atau bersifat merusak).

Gejala Vandalisme sering dijumpai  setelah dilaksanakan Ujian Nasional. Makin menjadi-jadi sesaat setelah pengumuman pelulusan. Corat-coret seragam, sebagai bentuk luapan kegembiraan. Mungkin juga pelampiasan dendam! Namun  tanpa kita sadari,  sebenarnya gejala vandalisme sering kita jumpai dalam kehidupan keseharian. Dekat dengan rumah dan pekerjaan kita.

Banyak alasan  bagi mereka untuk ber-vandal-ria. Sekedar narsis, iseng, atau menunjukkan eksistensi. Ada juga yang ingin  menyampaikan pesan, kritikan, umpatan bahkan hujatan. Ada juga lho yang sekedar mengukir kenangan. Cinta kasih antara dua insan, yang harus diabadikan.

Media yang digunakan pun beragam. Tembok rumah, gardu, ruko, kamar mandi sekolah,  kayu, batu, bangku, pohon,batu candi bahkan buah-buahan. Pokoknya, sak ketemunya!

1366543828968809180

Pembuat Perdamaian atau Pembuat Rusuh (kotor?) (dok pribadi)


Banyak anak-anak muda yang bangga dengan Gank-nya. Mereka unjuk gigi dengan semprot sana-semprot sini. Mungkin  untuk menunjukkan eksistensinya atau sebagai “penguasa” di suatu tempat atau wilayah.  Mereka perlu memproklamirkan nama Gank-nya di tembok ruko, rumah atau jembatan. Pokoknya, disembarang tempat yang “terbaca” oleh khalayak. Tujuannya, daerah kekuasaanya  dikenal oleh kelompok lain.

Selain di keramaian, vandalisme juga sering dijumpai di sekolah. Siswa juga siswi, asyik corat-coret meja dan bangku. Mungkin lagi jam kosong. Tidak ada guru di kelas. Bahkan, untuk melampiaskan kejengkelan atau sekedar titip salam mereka memanfaatkan kamar mandi untuk ber-vandal-ria. Sunguh menyedihkan melihat sikap pelajar seperti ini. Sepertinya, pendidikan karakter hanya sekedar hafalan. Rasa handarbeni (memiliki), hangopeni (memelihara) yang selalu digembar-gemborkan guru di depan kelas atau saat upacara bendera tidak pernah merasuk dalam hati.

13665438641371123500

Tembok kamar mandi pun dihujat (dok pribadi)

 

13665440041388547668

Kasihan si pohon Palm (dok pribadi)


Lebih miris lagi ketika Anda sedang menikmati keindahan hutan. Banyak anak muda yang mengaku Pecinta Alam, malah sibuk merusak pohon. Maunya titip pesa.  Titip jejak  atau ingin dikenal orang. Tangan jahat mereka dengan pongahnya  menorehkan semprotan cat atau menguliti batang pohon. Sikap demikian inii tentunya hanya dimiliki Pecinta Alam abal-abal!

Nah, ada lagi anak muda (atau juga mungkin orangtua) yang kurang kerjaan. Sempat-sempatnya mengorek-ngorek dinding batu andesit sebuah candi. Menorehkan sebuah nama yang sebenarnya tak bermakna apa apa, tapi malah merusak keindahan. Mereka tidak sempat berfikir bahwa ulahnya termasuk perusakan cagar budaya yng bisa dihukum pidana!

Ada juga  vandalisme yang menggelikan. Tidak ada rotan akar pun jadi. Saat tidak menemukan tembok, kayu, batu, maka buah pun diukir.  Mungkin mood-nya sudah tinggi untuk meninggalkan pesan. Sehingga buah Maja yang pahit pun mersakan sakit akibat torehan belati.

1366544042867520205

Cagar Budaya tak kuasa menahan siksa (dok pribadi)

 

1366544069319962337

13665440941051420814

Buah Maja yang Pahit pun menjadi getir. (dok pribadi)


Sebenarnya, sudah banyak  tempat bagi anak-anak kratif untuk mengekspresikan dirinya. Mural dan Grafitti di tembok-tembok kota dan pagar sekolah biasanya sudah tersedia. Namun,  tidak semuanya bisa bervandal-ria di sana. Akibatnya mereka melampiskannya di sembarang tempat tanpa merasa bersalah. Termasuk corat-coret baju sekolah. Ini bukan masalah sederhana. Agaknya, proses pendidikan kita harus lebih bermakna. lebih mengdepankan sikap, afektif, attitude daripada sekedar nilai, angka atau kognitif semata. Ternyata pekerjaan rumah kita masih banyak di depan mata.

Percaya atau tidak. ternyata vandalisme juga sudah diwariskan oleh nenek  moyang kita. Entahlah apa yang mereka tuliskan. Tidak biasanya batu bata merah untuk bahan pembuatan candi ditulisi demikian. Kalau ingin membuat prasasti atau menuliskan Angka Tahun umumnya tulisannya beraturan. Apakah ini vandalisme atau ada titipan pesan dari masa lalu? Tentunya saya harus belajar pada ahli epigrafi terlebih dahulu! Tapi yang jelas, vandalisme bukan warisan atau keturunan. Itu adalah sikap perilaku yang perlu diluruskan.

13665441202082515720

Vandalisme atau inskripsi? Pecahan bata di reruntuhan Situs Gurah Kediri (dok pribadi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: