Save Me: Tangis Pilu Si Orangutan

 

136485613813845008

Selamakan Kami…..Please! (dok teguh hariawan)

Duahari terakhir, ada kabar saling bertolak belakang muncul dari bumi Kalimantan. WWF Indonesia menemukan jejak badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di Kalimantan. Temuan ini telah dikonfirmasi secara ilmiah oleh ahli badak dari WWF Indonesia serta Universitas Mulawarman, diantaranya Dr Chandradewana Boer. (Kompas.com: Yunanto Wiji Utomo | Kamis, 28 Maret 2013 | 16:52 WIB. Ini kabar gembiranya.

Kabar dukanya, alih fungsi lahan hutan menjadi kawasan perkebunan sawit atau Hutan Tanaman Industri (HTI) membuat orangutan ‘tergusur’ dan dipaksa pindah ke area sempit yang ‘disediakan’ perusahaan perkebunan atau HTI (Kompas.com: Fifi Dwi Pratiwi | Minggu, 31 Maret 2013 | 20:25 WIB).

Senang, setelah membaca beritapertama. Namun, setelah membaca berita kedua,saya langsung menerawang. Dulu, di tiang listrik depan rumah, tiap pagi banyak bertengger Burung Gereja. Sekarang satu pun tidak kelihatan ekornya. Begitu juga di pohon-pohon,di kebun belakang rumah, ocehan Gelatik, Kutilang, Trucukan termasuk si imut Cipret sudah sangat jarang, bahkan sudah tidak pernah terdengar. Termasuk Burung Manyar ,sang arsitek alam, sudah tidak pernah lagi membangun sarangnya di pohon-pohon. Dulu sangat mudah menemui sarangnya yang bergelantungan di pohon-pohon dekat rumah..

 

Begitu juga dulu saat mendaki Gunung Welirang, Gunung Ringgit atau Gunung Penanggungan, kokok Ayam Hutan (orang desa saya menyebutnya Ayam Alas) masih sering terdengar. Gerombolan Kijang dan Menjangan (rusa) kadang juga nampaksedang merumput. lembah. Kemarin, saat ketemu para penambang Belerang di Gunung Welirang, yang kesehariannya tinggal di gunung, saya sempat menanyakan hewan-hewan itu. Apa jawabnya? Jangankan Ayam Hutan, Kijang atau Menjangan, Trenggiling saja sudah tidak pernah lewat. ”Di hutan sudah tidak ada, Mas. Hanya kawanan kera yang masih sering menampakkan diri” kata pak penambang Belerang. Benarkah? Kemana? Pindah? Punah? Atau? Jangan-jangan, Kancil pun hanya ada di buku cerita, tinggal kenangan dan hanya jadi sebuah lagu:

Si Kancil Anak Nakal

 

Suka Mencuri Timun………..

Itulah kondisi di Hutan Kawasan Pegunungan Anjasmara, yang menaungi Gunung Ringgit, Gunung Wlirang dan Arjuno.

Kembali Ke Orangutan. Sebagai salah satu mamalia, ordo primata, keberadaan Orangutan dilindungi Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Bahkan, keberadaan Orangutan digolongkan Critically Endangered oleh IUCN. Makhluk yang keberadaannya sudah sangat-sangat memprihatinkan.

Semestinya, keberadaan Orangutan yang hanya ada di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan dan beberapa kebun binatang ini mendapatkan perhatian lebih dan layak. Tidak hanya oleh pecinta fauna. Tapi juga oleh seluruh lapisan masyarakat  dan pemerintah. Terutama masyarakat yang kesehariannya selalu bersinggungan dengan habitat asli si Orangutan. Ini bukan lantaran karena kekerabatan mamalia ini sangat dekat dengan manusia (konon 95% DNA-nya mirip). Juga bukan karena Teori Darwin dalam bukunya Descent of Man, yang dipersepsikan dan disalah artikan sebagai evolusi manusia. Bukan. Tetapi semata-semata karena untuk kepentingan konservasi yakni pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan pelestarian;

Seharusnya bangsa ini harus sering-sering menengok ke belakang dan mengingat kembali. Harimau Jawa, hanya tinggal nama. Elang Jawa dan Jalak Bali jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Belum fauna yanglain. Sunguh riskan, kalau Orangutan, yang jumlahnya tinggal sedikit, harus tergusur dari habitatnya. Penggusuran dari habitat aslinya jelas berdampak luas bagi si Orangutan. Yang paling dikuatirkan adalah perkembangbiakkannya yang terhambat lantaran sumber makanan alami yang terbatas. Masa hamil Orangutan 8-9 bulan, seperti manusia. Jika, kondisinya terus-menerus seperti itu. Siapa yang menjamin Orangutan tidak punah?

Namun gejalaini  sudah nampak di depan mata. Konon, Taman Nasional Kutai (TNK), Kutai Timur, Kalimantan Timur merupakan habitatbagi 2000 lebih Orangutan. Namun kegiatan ”mencari” Orangutanoleh tim Journalist Field Trip Taman Nasional Kutai (TNK),menyisakan kepedihan. Selama sehari semalam di TNK, hanya menemukan satu primata! Mungkin yang lain ngumpet kali yach!

Begitulah,jika TNK yang di tahun 1934 luasnya 2 juta hektar, menyusut jadi306 hektar di tahun 1936 dantahun 1971 ”dipangkas lagi”seluas 106 ribu ha. 60 ribu ha untuk HPH dan sisanya untuk perluasan industri dan gas. Artinya, semakin tahun areal tempat hidup Orangutan semakin berkurang. Bahkan seperti yang tertulis di awal, Alih fungsi lahan hutan menjadi kawasan perkebunan sawit atau Hutan Tanaman Industri (HTI) membuat Orangutan ‘tergusur’ dan dipaksa pindah ke area sempit yang ‘disediakan’ perusahaan perkebunan. Apalagi, Orangutan juga termasuk binatang yang sering diburu dan diperjualbelikan. Komplet sudah masalahnya.

Kondisi seperti ini tentu saja tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Bila orang miskin yang bermukim dibantaran sungai saja demo jika digusur. Maka, seandainya manusia juga mengerti ”bahasa” binatang maka peristiwa penggusuran Orangutan dari habitatnya tidak akan terjadi. Sayangnya manusia tidak seperti Nabi Sulaiman yang mengerti bahasa binatang. Akibatnya, tangis pilu Orangutan di hutan Sumatera dan Kalimantan tidak pernah sampai ke telinga dan masuk ke hati. Jeritan Orangutan itu kalah dengan hiruk pikuk kepentingan-kepentingan yang semuanya menjurus pada uang. Jika sudah demikian, mungkin sudah saatnya si Orangutan keluar hutan. Protes dengan berjalan-jalandi keramaian, agar disorot media, sambil membawa pamflet bertuliskan: SAVE ME! ……….SAVE ME!…………… SAVE ME!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: