Seandainya Dahlan Iskan Jadi Mendikbud!

Demi Indonesia!

Karut marut Ujian Nasional (UN) sudah terhampar di depan mata.  Cacian, hujatan,  rasa kecewa, amarah, bahkan guyonan atau apapun itu tentang UN, sering bersliweran di jagat maya. Itu belum stress dan  galau yang dialami para siswa yang UN-nya tertunda. Komplet lah.

Dalam situasi seperti ini,  seyogyanya Presiden harus mengambil sikap. Mungkin, beliau juga sudah melakukan. Mungkin masih menimbang-nimbang. Sambil menunggu UN tingkat SMP dan SD berlalu. Apa itu? Kita tunggu!

Salah satu alternatifnya adalah harus ada Mendikbud yang baru. Bukan meragukan kapasitas Pak Nuh.  Tapi dalam situasi “darurat” seperti ini, di Kemendikbud harus ada nahkoda yang baru. Semrawutnya UN,  ibarat penyakit, termasuk stadium IV. Mungkin penyembuhannya harus operasi besar, kemoterapi atau amputasi. Belum lagi isu Kurikulum 2013. Bisa jadi ini bumerang kedua bagi jajaran Kemendikbud juga pemerintahan SBY. Nah, hak prerogratif  presiden dipertaruhkan. Apalagi 2014 sudah di depan mata.

Siapa alternatifnya? Bagaimana kalau Dahlan Iskan (DI).  Track record Pak DI dalam membenahi kesemrawutan, karut marut, atau apapun namanya tidak perlu diragukan. Walau kadang ada orang bilang itu berlebihan. Atau sekedar pencitraan. Tapi saya percaya. Dahlan Iskan bekerja tulus. Demi Indonesia

Dahlan Iskan, arek Takeran Magetan, di kalangan jurnalis dikenal sebagai  ”dewa penyelamat” JAWAPOS. Kerja kerasnya yang tak kenal lelah dan kenal waktu membuat harian nasional yang terbit dari Surabaya itu sekarang menggurita. Mungkin hanya KOMPAS yang jadi saingan utamanya.

Terobosan-terobosan jurnalistik dan jurnalistrik Dahlan Iskan juga mampu memberi penerangan bagi warga yang sudah lama antre sambungan PLN. Bahkan dengan kepiawaiaannya mampu menyediakan sumber-sumber  listrik baru dan menyambungkan listrik ke daerah-daerah yang selama ini gelap.

Begitu pula kiprahnya dan terobosannya di BUMN. Sudah banyak menjadikan perusahaan-perusahaan plat merah yang semaput jadi bangkit. Yang masih hidup jadi lebih meneguk untung.

Nah, mengingat kondisi dunia pendidikan yang sudah diambang  semaput. Harus ada orang baru yang penuh ide dan terobosan untuk membenahinya. Mengapa harus DI?

1. Pak DI telinganya lebar. Suka mendengar keluhan masyarakat. Dari seluruh pelosok negeri. Masukan-masukan, kritikan tentang isu-isu pendidikan pasti akan dicerna dengan hati dan pikiran jernih oleh beliau. Sudah cukup banyak yang berteriak. Tentang UKG, Ujan Nasional, bahkan Kurikulum 2013. Tapi sampai detik ini, jajaran kementerian pendidikan bergeming. Tak mau tahu. Tak mau mendengar. Duuhhhh!

2. Hobi blusukannya menjadikan Dahlan Iskan tahu kondisi pendidikan di LAPANGAN.  Ibaratnya:  ajaran 5W dan 1H -nya dunia pendidikan sangat dipahmi oleh Dahlan Iskan.

3. Dahlan Iskan bukan tipe pekerja kantoran atau duduk manis di belakang meja. Salah satu sebab semrawutnya UN adalah laporan Asal Bapak Senang (SBS) dari petinggi-petinggi di kementrian pada Pak Nuh. Begitu percayanya Pak Nuh dengan laporan: Siap Pak… Siap Pak.  Padahal semuanya kosong.  Seandainya Pak Nuh menyempatkan turun blusukan ke 6 percetakan jauh hari sebelum UN digelar. Mungkin jalan cerita UN jadi lain.

4. Kaya terobosan. Dahlan Iskan,  termasuk manusia yang cerdas dan tegas. Banyak akal dan terobosan. kadang terkesan grusa-grusu dalam mengambil keputusan. Tapi, dalam situasi pendidikan seperti memang diperlukan  langkah-langkah cerdas dan tegas. Saya percaya, untuk mengatasi dunia pendidikan, Dahlan Iskan tidak akan mengambil langkah seperti naik TUXUCI melewati Tawangmangu  menuju Magetan.

5. Memilih bawahan yang kapabel. Saat Dahlan Iskan jadi menteri BUMN, atmosfer di kementrian ini serta perusahaan-perusahaan plat merah di bawahnya berubah total. Banyak direktur-direktur baru yang direkrut. Banyak anak-anak muda yang diberi kesempatan untuk berbicara dan bekerja. Yang diutamakan bukanlah sekedar gelar atau formalitas. Tapi kapabilitas dalam menangani permasalahan yang dinomorsatukan.

6. Jaringan luas. Dengan mengguritanya media milik Dahlan Iskan, informasi apapun di penjuru negeri dapat segera diperoleh. Ini adalah bahan utama penyelesaian masalah. Apakah masalah pendidikan itu ada di HULU atau HILIR. Jika di hulu, otomatis kebijakan harus dilakukan di HULU. Perbaikan gedung sekolah, pelatihan guru, peningkatan kualitas dan kuantitas media pembelajaran.  Mungkin setelah ini selesai baru ada kebijakan di HILIR. Seperti UN ini

Saya kira masih banyak hal yang sudah dilakukan oleh Dahlan Iskan,  tamatan Aliyah di Magetan ini,  di berbagai jabatan yang pernah dipercayakan kepadanya. Ini mungkin saatnya, Dahlan Iskan diuji lagi. Mengatasi karut marut dunia pendidikan. Bukan demi 2014. Tapi Demi Indonesia. Tapi semua itu tergantung pada SBY, pak Presiden yang  kemarin saya kunjungi rumahnya di Pacitan sana. Mari pak, diselesaikan gonjang ganjing ini. Agar seperti sepoi-sepoinya angin di Pantai Teleng Ria. Atau seperti tenangnya jalan-jalan di Pacitan.

Apa Pak Dahlan Iskan Mau?

Apa Pak SBY berkenan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: