Sultan Sulu: Ganyang Malaysia!

Sultan Sulu adalah pemimpin pemberani. Seperti Soekarno. Untuk mempertahankan kedaulatan, kehormatan dan merebut tanah air berani mengambil resiko apapun. Termasuk pertumpahan darah. “Kami akan mempertahankan Sabah sampai titik darah penghabisan,” kata Sultan Sulu, tegas! “Tempat ini milik kami, kmi akan tetap berada disini”

Malaysia telah memperoleh pelajaran berharga. Pelajaran sangat berharga, dari “Negara” kecil yang pemimpinnya bernyali Besar:  Kesultanan Sulu. Tidak dari negara Besar, tapi pemimpinnya kecil  nyalinya. Malaysia pernah tersenyum sinis dengan negara Besar tersebut karena tak berdaya mengangkat muka. Mereka telah memenangkan sebuah pertikaian dengan diplomasi dan keragu-raguan orang lain.  Padahal, peristiwa di Ambalat, Karang Unarang, lepasnya Sipadan dan Ligitan. Juga klaim Reog, Batik, Rendang, Rasa Sayange oleh Malaysia menunjukkan bahwa Malaysia seharusnya diganjar seperti yang telah dilakukan oleh Sultan Sulu dan rakyat setianya.

Kita belum tahu, mungkin sudah puluhan kali selama puluhan tahun, Sulu sudah berupaya mengembalikan haknya atas tanah Sabah. Rekaman sejarah jelas berpihak pada kesultanan Sulu bahwa wilayah itu mulanya adalah milik sah Sultan Sulu yang dicaplok dan dipinjam Inggris. Dasar imperialis, boro-boro mengembalikan, malah menanam Bom Waktu yang akhirnya meletus juga.Kita juga tidak pernah tahu apakah referendum rakyat Sabah benar-benar juga menginginkan bergabung dengan Malaysia, karena keturunan suku-suku dari Kesultan Sulu juga beranak pinak disana.

Upaya negoisasi, diplomasi dan mediasi pastilah sudah dilakukan oleh Kesultanan  Sulu untuk mendapatkan Sabah kembali. Alasan karena Kesultanan Sulu tidak dilibatkan sebagi penengah konflik Moro dan Filipina, hanya satu dari sekian alasan bagi Sultan Sulu untuk sekarang meminta kembali tanah Sabah. Boleh jadi, itu hanya alasan, karena saat ini Moro pun berdiri di belakang Sultan.

Pelajaran berharga yang bisa diperoleh dari peristiwa ini adalah, meminta kembali hak merupakan kehormatan yang harus dijalankan apapun resikonya. Apalagi yang menyangkut kedaulatan wilayah. Tak disangka, lagi-lagi peristiwa di Pulau Kalimantan mengungkit kembali peristiwa besar masa silam: Ganyang Malaysia. Hanya Soekarno dan Sultan Sulu – Sultan Jamalul Kiram- yang berani!.

Malaysia mungkin perlu belajar dari Jenderal Pershing yang pernah merasakan dahsyatnya perlawanan orang Moro , Sulu dalam perang  di Gunung Bagsak tahun 1913. Semoga, kedua belah pihak segera menghentikan pertikaian. Malaysia segera menarik dari medan tempur, jika citranya tak ingin hancur. Hanya untuk membungkam 200 militan sulu saja mereka perlu menurunkan 3 Batalyon tempur.

13625240921870038879

sumber foto : http://tausug-global.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: