Susahnya Mengais Rupiah di Puncak Welirang

1366590078637545026

Menuju Puncak Welirang (dok pribadi)

 

Embun baru saja turun . Membasahi ilalang dan semak serta daun-daun pinus merkussi. Angin gunung mengalir perlahan menyusuri lembah dan hilang di puncak-puncak pohon. Mendesau, melagukan lagu khas alam bebas. Sementara mentari baru muncul di ufuk timur. Sinarnya menyelusup  diantara kabut asap kawah belerang yang baunya menyengat. Bau busuk khas uap belerang, yang siapapun pasti akan terbatuk-batuk, kecuali si penambang belerang.

Pagi itu, seperti hari-hari sebelumnya tampak kesibukan di puncak Gunung Welirang. Di ketinggian 3000 meter dari permukaan laut (mdpl) penambang belerang yang setia dengan pekerjaannya tampak  bergelut dengan asap yang baunya busuk menusuk dengan memakai masker kain seadanya. Mereka  mendongkel bekuan  cairan kuning belerang yang telah mengeras. Suhu udara yang dingin  kadang mencapai 1 derajat, membuat mereka  sekali-sekali menggigil. Tapi, tanpa banyak cakap, mereka terus menggali dan mengumpulkan endapan belerang  yang keluar dari lubang-lubang kawah (pawonan).

13665901421349320548

Di dekat kawah, Lubang Solfator (Pawonan) (dok pribadi)

Lubang Solfator penghasil belerang di Gunung Welirang, jumlahnya puluhan. Nampak seperti lubang-lubang berasap yang bertebaran di lereng bukit berkemiringan sekitar tujuh puluh derajat. Dengan kaki dibalut sandal karet dari ban bekas, para penambang yang kebanyakan berasal dari Desa Pecalukan dan Jatiarjo, Kecamatan Prigen,  berdiri kokoh di pinggir lubang kawah tanpa takut terpeleset. Jangan  kaget, tatkala melihat gigi mereka ketika tertawa. Email giginya berselaput plak kuning, coklat  kehitaman. Bahkan beberapa penambang “senior”  gusinya nampak ompong, lantaran giginya sudah pada tanggal! Itulah akibat kontaminasi uap belerang! “Menawi lirang niki mboten dipendet, gununge saget mbledos, mas !” kata salah seorang penambang yang menjelaskan jika  belerang tidak diambil, gunungnya akan meletus. Itulah sebabnya kegiatan penambangan belerang tetap berlangsung hingga hari ini walau resiko yang dihadapi sangat besar.

1366590203551521548

Lubang Kawah penghasil belerang (dok pribadi)

Arjuno Lalijiwo

Bagi kaum muda, mendaki gunung  boleh dikata sebagai “agenda wajib”.  Tak heran, kala liburan tiba,  di beberapa puncak gunung dipenuhi anak-anak manusia. Bak Mall di kota-kota besar. Sebut saja, Gunung Penanggungan, Gunung Lawu, Gunung Sindoro, Gunung Semeru, Gunung Ijen juga Gunung Welirang & Gunung Arjuno. Apalagi Gunung Bromo yang relatif mudah dijangkau!

Berbeda dengan gunung-gunung lainnya, mendaki  Gunung Welirang selain untuk menikmati panorama alamnya yang eksotis serta kecantikan kawahnya yang aktif mengepulkan uap belerang, kita juga akan menemui sisi kehidupan menarik penambang belerang. Cerminan sosok manusia yang pantang menyerah, ulet dan rela hidup di gunung untuk melangsungkan hidup dan kehidupannya!

1366590371266421978

Eksotisnya Gunung Welirang, View dari Tretes – Prigen, arah Utara (dok pribadi)

 

1366590393893490721

Kepulan asap belerang Gunung Welirang, View dari Cangar Batu, arah selatan (dok pribadi)

Gunung Welirang terletak di Kabupaten Pasuruan. Selain Welirang, di kawasan ini ada empat  puncak lainnya. Gunung Arjuno (3339 mdpl) di arah timur dan G. Ringgit di Timur Laut. Dua puncak Gunung Kembar  (2800 mdpl) terletak antara Welirang-Arjuno. Sedang puthuk Limas ada jauh di Utara. Di lerengnya terhampar kawasan hutan lindung Arjuno Lali Jiwo yang luasnya mencapai 4960 ha, di bawah pengawasan Kesatuan Pemangkuan (KPH) Pasuruan. Vegetasinya khas hutan tropis. Diantaranya Anggrung, Sengon, Sono, dan Mahoni. Di beberapa petak didominasi Kaliandra.  Di kawasan mendekati puncak dapat ditemui Pinus dan Edelweeis. Rusa, Kijang dan Kancil merupakan herbivora yang sering dijumpai. Predator semacam anjing hutan kadang berkeliaran di kawasan ini. Konon, beberapa tahun lampau Harimau Jawa masih bisa ditemukan. Sekarang entah masih ada atau tidak?!

Untuk mendaki Gunung Welirang  ada beberapa rute alternatif. Paling populer, lewat gerbang Wana Wisata dan Bumi Perkemahan Kakek Bodo Tretes Prigen.. Rute lainnya melewati Kebun Teh Wonosari Lawang yang langsung ke Puncak Arjuno atau lewat daerah Cangar   (Batu- Pacet) akan sampai di Lembah Kijang (lembah antara Arjuno-Welirang).  Rute pendakian lewat Kakek Bodo akan menyusuri jalan makadam  selebar 3-4 meter dengan jalur berkelok-kelok.  Dulu, lebarnya tak lebih dari 1,5 meter. Karena saat ini  pengangkutan belerang menggunakan kendaraan roda empat, maka badan jalan diperlebar.  Setelah melintasi bekas ladang penduduk, jalanan akan merambah hutan Kaliandra. Jalanan yang cukup lebar dan tidak terhalang semak, membuat leluasa saat melangkah. Namun, kemiringan medan yang terus  menanjak jelas menguras tenaga serta makin memacu detak jantung.

Setibanya di Pet Bocor –kira-kira satu jam perjalanandari pintu gerbang-disarankan menambahpersedian air. Tempat istirahat yang nyaman, sekaligus untuk menambah persediaan air berikutnya adadi Kokopan. Kata Kokopan berasal dari bahasa Jawa, yaitu ngokop yang berarti meminum air langsung dari sumber air. Di tempat ini selain tanahnya agak lapang lengkap dengan batuan untuk bersandar, juga terdapat mata air yangairnya jernih mengalir disela-sela bebatuan. Ada penduduk lokal menyebut tempat ini dengan sebutan Reco, karena dulu pernah ditemukan Arca di tempat ini.

Pondok Lirang

Dua jam perjalanan dari Kokopan, akan sampai di lembah  yang dikenal sebagai  Pondok Lirang. Disebut Pondok Lirang karena di areal inilah berdiri belasan pondok sederhana. Berangka bambu, beratap rumput dan daun-daun kering (welit). Jika dilongok ke dalam akan terlihat jelaga hitam yang tebal menempel di langit-langit pondok!. Inilah tempat tinggal para penambang selama bekerja di gunung. Tak heran, disekitar pondok yang dipayungi pohon pinus, banyak dijumpai tumpukan belerang berwarna kuning kemerahan. Bentuknya sangat artistik. Berbentuk kotak laksana kubus. Ada yang mengerucut  seperti kristal atau patahan stalagtit. Namun banyak juga  yang berupa bongkahan-bongkahan biasa.

13665902611725338507

Seorang pendaki di depan Gubuk Welit milik penambang (dok pribadi)

 

Biasanya tempat ini digunakan oleh pendaki sebagai base camp setelah menempuh perjalanan antara 5-6 jam dari pintu gerbang sebelum melanjutkan pendakian  ke puncak Welirang atau puncak Arjuno yang masih memerlukan 2 hingga 3 jam.  Pendaki bisa tinggal di pondok-pondok yang kebetulan kosong karena ditinggal penghuninya yang turun gunung. Kebutuhan akan air tak perlu dikuatirkan, karena persediaan dalam bak air yang berasal dari mata air cukup melimpah. Ada musholah kecil yang berdiri di belakang pondok.  Sayangnya masih ada segelintir anak muda yang kurang peduli lingkungan.  Sampah plastik bekas mie instant, Aqua atau rafia banyak berserakan. Ini juga ditemui di beberapa tempat sepanjang perjalanan . Bahkan, Vandalisme dengan aksi corat-coret batu dan menyayat kayu masih saja dijumpai.

Untuk mengatasi hawa dingin di waktu malam, cukup dibuat perapian di depan pondok. Kebiasaan ini tidak membuat para penambang kuatir pondoknya ikut terbakar. Yang perlu diwaspadai adalah tikus-tikus yang menggerayangi tas dan perbekalan.

Saat fajar menyingsing, udara dingin menusuk sumsum tak begitu dihiraukan oleh penambang belerang. Berbekal  linggis dan berkalung sarung dengan cekatan mereka menapaki jalan setapak menuju puncak Welirang. Tak lupa mereka membawa keranjang. Beberapa penambang lain  tampak membawa gerobak kecil beroda dua. Jika diamati, gerobak kecil tersebut dibuat dengan “cerdas” untuk melintasi medan tanjakan, berkelak-kelok, naik turun  dan berbatu-batu. Pemanfaatan karet ban bekas sebagai pegas disudut-sudut gerobak, memudahkan mengendalikan gerobak. Ini masih dilengkapi “rem mekanik” dari kayu. Jika  model  gerobak sampah di kota yang digunakan niscaya  yang mengendalikan akan dibuat pontang-panting  tak karuan. Dan jangan heran bila saat naik ke kawah (puncak), gerobak “kecil” tersebut tidak didorong tapi dipanggul di bahu, menyisir jalan disisi-sisi jurang.!

Setelah melewati jalan setapak di bibir jurang, sampailah di pelataran Welirang. Sejauh mata memandang nampak hamparan tanah lapang dibatasi  bukit-bukit kecil dan lubang kepundan dengan  batu-batu gunung berwarna hitam yang berserakan, kadang diselingi pohon kerdil yang terkenal dengan nama Manis Rejo merupakan panorama yang mempesona. Pohon kerdil inilah yang sering menggoda  pendaki untuk mendongkelnya. Batangnya yang keras, kecil bercabang-cabang, meliuk-liuk secara alamiah, dengan daun-daun kecil berwarna kuning, merah serta hijau memang cocok untuk bonsai. Tapi jangan harap bonsai itu dapat tumbuh di lingkungan yang baru, Apalagi di kota. Sebab, habitat yang sesuai kemungkinan besar cuma di  puncak gunung. Sebagai gantinya, pendaki biasanya memanfaatkan ranting-ranting  pohon kering kemudian  dicelupkan ke cairan belerang sebagai “souvenir” khas Gunung Welirang.

1366590331389244960

Kawah Jero (Jero=dalam/ besar) (dok pribadi)

 

Setelah melewati pelataran Welirang ini,  arah ke kanan menuju Kawah Jero (Kawah Besar) dan ke puncak Welirang. Ke kiri, menuju Kawah Plupuh tempat penambangan belerang. Jalan menuju puncak Welirang ini tidaklah terlalu sulit. Setelah melewati bukit kecil dan menyusuri bibir kawah, sampailah di puncak tertinggi Gunung Welirang. Jika pandangan di lepas ke penjuru angin, akan tampak kawasan perkebunan Batu/ Junggo dengan terasering-nya, atau hamparan hutan di lereng gunung Anjasmara. Juga akan tampak daerah Pacet dan sekitarnya. Bila cuaca cerah, semburat merah biasan cahaya mentari yang mengintip di batas cakrawala akan dapat dinikmati dengan sempurna. Atau kalau mau beburu Sunrise, disinilah tempatnya. Sungguh suatu pemandangan yang tak terlupakan serta menambah kesadaran kita akan kebesaran dan nikmat yang tak ternilai dari Yang Kuasa

Sebelum ke lokasi penambangan belerang, ada sebuah tempat yang dikenal sebagai Goa Sakri. Semacam goa kecil (liang) di bawah bukit kecil yang cocok untuk beristirahat. Letaknya di sebelah kanan jalan menuju Kawah Plupuh. Pemandangan  Kawah Plupuh lain lagi. Lerengnya dipenuhi uap belerang yang keluar dari lubang-lubang kawah (pawonan). Uap-uap belerang yang mengalir dari perut bumi itulah yang kemudian menyublim menjadi biji belerang. Jika diamati, proses sublimasi gas belerang menajdi belerang memerlukan teknik tersendiri. Dengan ketrampilan yang sudah turun-temurun, penambang belerang dari Desa Pecalukan mampu mengubah gas belerang menjadi sublimat (biji) belerang. Caranya dengan membuat sebuah cekungan/ terowongan sedemikian rupa sehingga gas belerang yang keluar dari lubang akan berbentuk cairan belerang. Selanjutnya cairan tersebut akan membeku saat sudah keluar dari lubang. Jika tidak diperlakukan demikian, yang keluar dari perut bumi hanya berupa gas belerang saja.

Sublimat belerang tersebut  kemudian didongkel dan diangkut menuju pondok. Setelah ditimbang kemudian ditumpuk selanjutnya diangkut menuju desa. Untuk mencapai target, para penambang kadang harus tinggal selama seminggu di gunung, baru setelah itu menyetorkan belerangnya pada koperasi. Koperasi RAKSA di Kelurahan Pecalukan, Kecamatan Prigen adalah satu-satunya koperasi yang menampung sekaligus memasarkan belerang. Jika beberapa tahun lampau untuk mengangkut belerang masih menggunakan keranjang atau diangkut kuda, saat ini koperasi sudah menggunakan dua buah Jeep untuk mengangkut belerang, sekaligus penambangnya.  Dalam sehari rata-rata penambang memperoleh hasil antara 50 rb sampai 70 ribu. Tergantung berapa banyak belerang yang berhasil mereka gali dan bawa hari itu.

1366590465466329288

Jeep milik Koperasi Raksa untuk mengangkut Belerang (dok pribadi)

Pekerjaan sebagai penambang bukanlah pekerjaan ringan. Selain harus melawan ganasnya alam, penambang harus mengatasi paparan gas belerang (SO2 dan SO3) yang selalu merubungi mereka saat menggali. Karena pekatnya asap belerang, mereka tidak mungkin bernafas dengan hidung. Maka, mereka melakukan apa yang disebut “ngeses”. Bernafas melalui mulut. Untuk mengatasi gas belerang tidak memakai masker, cukup kain seadanya yang diikat melingkar antara mulut dan leher.  Pernah ada penelitian, jantung para penambang yang sudah puluhan tahun bekerja lebih besar volumenya lebih besar dari jantung normal.

Begitulah, demi sesuap nasi, agar asap dapur di rumah tetap mengepul dan anak-anak bisa terbayar biaya sekolahnya, ada sosok manusia perkasa yang rela bekerja di gunung. Bergelut dengan asap beracun. Menggali dan memikul belerang puluhan kilogram demi mengais rupiah yang sangat berharga. Potret kerasnya kehidupan rakyat bawah!.

1366590508234268741

Manusia Perkasa dari Puncak Welirang (dok pribadi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: