Tersangka Sepanjang Masa

Anda mungkin pernah mendengar cerita saat masih kecil dulu. Cerita  tentang si Fulan, pengembala kambing sekaligus juragan kambing yang sukses.  Orangnya ngocol. Suka Humor. Pinter dan tidak pandir.  Nah… karena suka humor inilah menyebabkan si Fulan ketiban masalah.

Ceritanya:

Sebagai anak dusun, Fulan termasuk beruntung karena mewarisi hewan ternak dari orangtuanya. Tak tanggung-tanggung. 50 Ekor! Nah, tiap hari kesibukan si Fulan adalah menggembala kambing di luar kampung.  Di pinggir hutan. Suatu ketika, saat duduk di bawah pohon Mahoni, menunggu kambing-kambingnya makan rumput, dia dapat ide. Cling…!(yang jelas bukan ide gravitasi seperti Issac Newton… he he he)

Fulan bangkit dari duduk. tanpa ba bi bu. Dia berlari menuju ke arah desa sambil berteriak keras. “Tolong…tolong… ada harimau..harimau.. tolong”, teriak Fulan sekencang-kencangnya. Ekspresinya betul-betul  ketakutan. Seketika geger seisi kampung! Ibu-ibu di dapur pada melongok keluar rumah. Laki-laki,  tua muda segera keluar rumah, ikut berlari mengejar si Fulan. Yang disawah sontak kaget menghentikan kegiatannya. Mereka juga meninggalkan bajak dan sapinya yang melenguh-lenguh.

Setelah berlari dan sampai di depan rumahnya,  Fulan jatuh terduduk  Nafasnya terengah-engah. Penduduk berkerumun di sekelilingnya. Mencari tahu dan mempertegas apa yang terjadi. “Aaa..da Harimau, di pinggir hutan. Ma…a..u ….menerkam kambing saya!”  kata Fulan tergagap. Dia melap keringatnya bercucuran dengan sarung yang menggatung di lehernya.

Pak Polo (Kepala Kampung) yang juga hadir mengambil inisiatif. “Ayo kita ke tempat penggembelaan di pinggir hutan. Mengusir harimau!”  Segera berbondong-bondong penduduk, dengan “senjata” masing-masing menuju arah yang ditunjuk si Fulan. Sesampai di tempat yang dimaksud. Tampak, kambing-kambing si Fulan sedang asyik merumput. Bahkan yang sudah kekenyangan tampak bermalasan. Tidur-tiduran berbaring di bawah pohon. Sambil memamah biak!

Penduduk menyebar dalam kelompok-kelompok.  Mereka siaga dengan senjata masing-masing. Mencari tahu seteliti-telitinya.  Mencari Harimau, yang disebut si Fulan.  Sejam, dua jam tak seorangpun yang melihat jejak harimau. Mereka pun berkumpul kembali dan kemudian pulang mengabarkan pada si Fulan kalau Harimau telah pergi. Setelah penduduk bubar, Fulan senyam senyum. Humor-nya berhasil. Sambil cengengesan dia masuk rumah. Dia terkekeh-kekeh karena sudah mampu “mengganggu”  ketenangan seisi kampung dengan cerita “humor”-nya. Tidak mempertimbangkan apakah humornya itu melanggar etika, melanggar adat, atau melanggar hukum. Yang penting happy!

Seminggu, dua minggu, sebulan. Tidak ada berita yang menghebohkan lagi di kampung. Tiba-tiba penyakit lama si Fulan kambuh. Sama seperti kejadian pertama. Di siang bolong, tiba-tiba saja dia berlarian dari tempat penggembalaan sambil berteriak, “Ada..macan..macan.. tolong… Harimau..Harimau!”. Lagi-lagi penduduk kampung dengan sikap dan jiwa solidaritas yang tinggi berbondong-bondong ke pinggir hutan mencari si Macan alias Harimau yang katanya akan menerkam kambing. Lagi-lagi nihil. Kawanan kambing aman-aman saja.  Penduduk pun masih percaya cerita si Fulan kalau ada harimau turun gunung dan mencari mangsa ke pinggir kampung. Padahal di gunung masih banyak hewan-hewan yang jadi musuh alami si harimau.

Dua kali sudah si Fulan tersenyum penuh kemenangan. Membohongi seluruh penghuni kampung. Membuat gaduh seisi kampung dengan bercerita kalau ada Harimau. Padahal, dua kali dikejar, tak seekorpun si belang atau si totol-totol muncul. Sekali lagi, “humor” si Fulan  berhasil.

Nah, sebulan kemudian. Fulan lagi-lagi asyik menggembala kambing agak masuk dalam hutan. Sambil menunggu kambingnya merumput, dia pun tidur-tiduran. Semilir angin membuatnya  sebentar kemudian terlelap. Tiba-tiba, di kaget lantaran kambing-kambingnya berlarian semburat ke segala arah sambil mengeluarkan suara sekencang-kencangnya. “Embekkkk ….embeeekkkkkk”.

Fulan duduk dan mengerjap-ngerjapkan mata. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih. Dilihatnya, kambing-kambingnya berlarian ke sana- kemari tak terkendali. Dia heran. Ada apa gerangan? Dia memutar pandangan ke segala arah. Dan… nampak di kejauhan, Seekor Harimau Belang sedang menyantap anak kambing-nya hidup-hidup,. Fulan pucat pasi. Dia pun menggigil ketakutan. Bahkan seketika celananya basah. Terkencing-kencing. Tanpa ba bi bu.. tanpa memikirkan kambing-kambingnya.. Dia berteriak dan berlari menuju arah kampung

Tolooooong… ada harimau… Toloooooong ada macaan,” teriak Fulan kencang sambil berlari masuk kampung. Keringatnya bercucuran.  Dia berharap. Penduduk kampung berbondong-bondong keluar rumah dan mau mengusir Harimau yang sudah menerkam kambingnya.

Tapi kali ini dia kecele. Tak seorangpun terusik dengan teriakan si Fulan. Ibu-ibu tetap memasak di dapur. Ada yang menjemur pakaian. Bapak-bapak juga tetap asyik nongkr0ng di balai-balai rumah. Walaupun melihat si Fulan berlari dan  berteriak-teriak.

Kali ini penduduk kampung sudah cerdas. Dua kali mereka dikibuli oleh si Fulan dengan cerita tentang Harimaunya. Dan mereka menduga, kali ini pun Fulan pasti sedang bergurau. Mengeluarkan sense of humor-nya tentang Harimau. Padahal kali ini, sang Harimau benar-benar muncul dan menerkam anak kambing milik si Fulan.

Begitulah akhirnya. Fulan menyadari bahwa humornya yang kebablasan telah merugikan dirinya sendiri. Peristiwa yang serius dan sungguh terjadi dianggap bualan semata karena sebelumnya si Fulan sudah mempecundangi penduduk kampung.

Nah, dari kejadian itu dapat disarikan. Kalau kali ini Kompasiana di-hack oleh sahabat akun Raiso. Maka, kalau di kemudian hari ada hacker lain yang usil dan meretas akun-akun di kompasiana. Siapa tersangkanya… ya, kita sudah tahu jawabnya… yang jelas bukan si Fulan atau si Harimau.

Sekali berbohong… ya seterusnya dianggap berbohong…

Sekali meretas… lain waktu orang lain meretas.. ya tetap saja dianggap yang meretas… aduh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: