Tradisi “Sedekah Bumi”, Ungkapan Syukur Limpahan Rejeki

Prigen, Kabupaten Pasuruan, merupakan salah satu andalan tujuan wisata Jawa Timur. Lokasinya di lereng utara Gunung Welirang. Tapatnya, agak ke bawah dari lokasi Wisata Tretes. Di kawasan wisata Prigen ini terhampar aneka objek wisata. Baik peninggalan purbakala, wisata alam maupun objek wisata dengan sentuhan modern semacam Taman Safari II. Namun, ada satu tradisi dan atraksi budaya dua tahunan yang patut untuk ditengok Atraksi ini begitu gegap gempita dan menunjukkan semangat yang luar biasa dari masayarakat Prigen dalam mensyukuri nikmat serta limpahan rejeki dari Yang Maha Kuasa.  Tradisi dan atraksi budaya ini disebut sebagai “Sedekah Bumi” 223a92463a34a193c753b9df7ce06576

Sumber: Maskot dengan Aneka Kue dari Prigen Barat (dok pribadi)

****

SejarahKelurahan Prigen tidak dapat dipisahkan dari tokoh legendaris MBAH ANDAN BUMI, keturunan darah biru masa Mataram Kuno.Beliau bermuhibah ke wilayah timur untuk mendirikan padepokan/ perguruan MACAN PUTIH. ANDAN BUMI juga mempunyai arti ANDAN ( Ondo Bhs. Jawa yang berarti sarana/ alat / pancikan/ trap-trapan untuk menuju ke tempat yang lebih atas,dan BUMI (daratan/ tempat). Konon pada masa itu apabila padepokan-padepokan diwilayah bawah jika menuju ke pertapaan INDRAKILA selalu melewati kawasan PRIGEN , dan sebagai pertanda bahwa wilayah tersebut adalah akses jalan yang dilalui selalu ditanami pohon Senikir

Sampai sekarang PESAREAN/ makam MBAH ANDAN BUMI berdampingan bersama istrinya berada di barat Masjid Jami ‘AL FIRDAUS, di kompleks Makam Islam Kelurahan Prigen, dan sering diziarahi karena merupakan TOKOH LEGENDARIS dan leluhur KELURAHAN PRIGEN.

Nama Prigen ada 5 versi. Versi pertama, konon, nama Prigen muncul dari nama yang diberikan oleh Asmoro Bumi/ Andan Bumi. Saat itu wilayah Prigen diserang pageblug berupa penyakit yang mematikan. Pagi sakit, sore meninggal. Sore sakit, pagi meninggal. Melihat kondisi masyarakat yang memprihatinkan, Asmoro Bumi berikhtiar dengan puasa ngebleng selama 40 hari mohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa. Akhirnya petunjuk pun diperoleh dan masyarakat desa terbebas dari penyakit mematikan.

Namun saat melakukan tirakat puasa itulah, Asmoro Bumi mengalami sakit perut yang luar biasa. Perih karena menahan haus dan lapar. Untuk mengatasinya, diambilnya kain panjang untuk mengikat perut yang disebut Stagen. Dari dua kata itulah kemudian Asmoro Bumi menamakan Dusun yang ditempatinya dengan nama Prigen. Perih yang kemudian diikat dengan kain Setagen, menjadi PRIGEN.

Versi kedua,Prigen merupakan sebutan bagi tempat yang masih angker (wingit). Asal katanya adalah PERI (makhluk halus/ hantu) MANGGEN (berdiam di tempat tersebut). Ada pula yang mengartikan PERI sak ENGGEN ENGGEN(dimana-mana), karena waktu itu kawasan ini masih berujud hutan belantara (ALAS GUNG LEWANG LEWUNG, JALMO MORO JALMO MATI) Karena keangkerannya itulah maka tempat yang masih dihuni oleh Peri(makhluk halus) tersebut disebut Prigen.

Sedangkan versi ketiga menyatakan bahwa Prigen berasal dari suku kata PE RI GI AN. Konon, saat itu wilayah Tretes masih disebut Coban Tretes dan Wilayah Prigen. Disebut Perigian artinya adalah Pesumuran tempat untuk mengambil air/ tempat untuk menimba ILMU.

Versi keempat, nama Prigen juga sering dihubung-hubungkan dengan bunga berwarna kuning yang konon banyak tumbuh di wilayah Prigen yaitu SENIKIR (Chrisantenum Lt.). Daunnya memiliki rasa pahit/gerit, berbau menyengat namun disukai ROJOKOYO (kambing/lembu). Berbunga besar warna kuning menyala. Sampai saat ini flora tersebut hanyatumbuh di daerah dataran tinggi di wilayah Prigen dan sekitarnya .

Versi kelimamenyatakan bahwa Prigen berasal dari kata Pri dan Gen. Pri adalah suku kata dari prihatin sedangkan gen adalah suku kata dari panggenan (tempat) yang kemudian membentuk akronim PRIGEN yang berarti tempat (panggenan) untuk Prihatin, melakukan kegitan laku ritual, tirakat guna mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa.

Prosesi Sedekah Bumi

Adapun tradisi Sedekah Bumi di Kelurahan Prigen, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, rutin digelar tiap 2 tahun sekali. Tepatnya di hari Minggu Pahing, Bulan Besar (bulan kalender Jawa). Biasanya jatuh antara bulan  September – Desember. Kegiatan ini diikuti oleh 4 lingkungan (pedukuhan) yakni. Lingkungan Ngemplak, Lingkungan Prigen Timur, Lingkungan Prigen Barat dan Lingkungan Rekesan. Sejak 4 tahun terakhir, pedukuhan Tretes juga mengirimkan “utusannya” untuk mengikuti prosesi Sedekah Bumi di Kelurahan Prigen. Ini lantaran, pedukuhan Tretes juga punya kegiatan Sedekah Bumi Tahunan yang digelar tiap Jumat Pahing, Bulan Besar.

4a9912e600cf2f393c03dc05bdb98269

Sumber: Maskot dan Aneka Penganan dari Prigen Barat (dok pribadi)

Setiap lingkungan, sesuai tradisi yang sudah berjalan sejak jaman pra kemerdekaan, masing-masing akan menyiapkan Ancak dan Maskot. Ancak adalah tempat untuk meletakkan segala hasil bumi, aneka masakan dan kue yang akan diarak dari pedukuhan menuju Pendopo Kelurahan. Maskot merupakan ikon, semacam patung yang dibuat oleh masing-masing pedukuhan sebagai daya pikat bagi penonton sepanjang jalan. Mengingatkan pada Ogoh-Ogohpada perayaan Nyepi.

0fe78ac468e754cdbad25db9d37c853a

Sumber: Ancak dari Rekesan (dok pribadi)

Ancak dan maskot dari masing-masing pedukuhan memiliki kualitas dan kuantias yang berbeda. Tergantung dari kemampuan finansial dan cita rasa seni para pemudanya. Tapi semua itu bertujuan sama: mensyukuri nikmat dan rejeki yang telah mereka peroleh dari ”bumi” Prigen. Dan Sedekah Bumi adalah saat yang tepat untuk ikut berbagi dengan sesama melalui aneka masakan, hasil bumi serta macam-macam penganan untuk dikendurikan dan diperebutkan saat tiba di pendopo Kelurahan. Tentu saja Ancak dan Maskot ini sudah dipersiapkan jauh hari sebelum hari H. Bahkan, Maskot yang bagus dibuat selama sebulan menjelang acara pawai. Khusus untuk Pedukuhan Rekesan, satu hari sebelum arak-arak Ancak dan maskot, ritualSedekah Bumidiawalii dengan memotong seekor Sapi jantan yang dagingnya dimasak bersama-sama. Hasil masakan itu akan diatur sedemikian rupa dengan aneka ikan laut, ayam panggang utuh dan penganan lain di atas Ancak.

4d25fb549f9d48ec02533ed7ac41b9f8

Sumber: Maskot dari Lingkungan Rekesan (dok pribadi)

fb9d4eab4c80b35ed7d2e23657646bbb

Sumber: Ancak dari Rekesan (dok pribadi)

Dapat dibayangkan betapa sibuknyamasyarakat Prigen sehari menjelang prosesi Sedekah Bumi. Ibu-Ibu giat memasak di dapur. Goreng ikan laut dan daging. Merebus telor. Memanggang ayam utuh (ingkung). Membuat kue. Para pemuda tak kalah heboh. Mulai pagi menyiapkan Ancak dan finishing Maskot. Karenamalam hari, semua harus siap. Termasuk penataan aneka makanan. Begitu juga di pendopo Kelurahan, sehari sebelum prosesi digelar Khotmul Qur’an, Pembacaan Yasin dan Tahlil yang melibatkan seluruh warga masyarakat. Pada hari H, prosesi dimulai sekitar pukul 07.00. Masing-masing Ancak dan Maskot diberangkatkan menuju Pendopo Kelurahan. Sesuai kesepakatan, urutan Ancak yang masuk pertama ke Pendopo adalah dari Lingkungan Ngemplak diikuti Prigen Timur, Prigen Barat dan terakhir lingkungan Rekesan. Iring-iringan ini biasanya membuat macet jalan utama Tretes – Pandaan. Lantaran penonton membludak dan tumplek blek di pinggir jalan.

8dfae3185a31e70b030320322f7e1b3a

Sumber: Utusan dari Lingkungan Tretes

Sesampai di lokasi Pendopo, iring-iringan Ancak akan diterima oleh Lurah dan sesepuh Desa. Bila seluruh Ancak sudah terkumpul di lapangan tempat kenduri, segera diadakan doa bersama. Uniknya, saat-saat itulah yang genting. Para pengunjung yang sudah mengikuti prosesi dari pagi sudah tidak sabar lagi. Doa belum selesai, mereka sudah berebut isi Ancak. Kadang tanpa memperhatikan bahaya yang timbul.

8e489b2ef13af2d4fe633d6e7730410e

Sumber: Atraksi yang mampu menarik Wisman (dok pribadi)

Ada pesan dari sesepuh, bahwa masyarakat Prigen dilarang untuk ikut berebut isi Ancak. Semua makanan yang tersaji di Ancak hanya boleh diambil oleh orang lain, di luar masyarakat Prigen. Memang, tidak lucu kalau yang selamatan juga ikut mengambil penganan. Kan, di rumah masing-masing makanan melimpah! Acara berebut Ancak merupakan acara puncak Sedekah Bumi di kelurahan Prigen. Namun, sesuai pesan leluhur, malam harinya di tempat tersebut juga digelar Wayang Kulit semalam suntuk. Begitulah, tradisi dan atraksi Sedekah Bumi di Kelurahan Prigen, nampaknya akan tetap lestari. Disamping sebagai kearifan budaya lokal, nampaknya potensi wisatanya juga makin menonjol.

Catatan : Dokumentasi Lingkungan Ngemplak dan Prigen Timur  hilang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: