Vandalisme, Konvoi-isme & Anarkisme: Salah Satu Dampak Ujian Nasional?

Setelah dihelat 4 hari,  Ujian Nasional (UN) tingkat dikmen (pendidikan menengah) pun selesai. Tersisa  kepenatan dan setumpuk cerita. Mulai dari tegangnya siswa di hari pertama yang mungkin  membayangkan sulitnya soal UN. Mungkin  juga sekedar takut salah menyobek perforasi lembar jawaban (LJUN).  Padahal, dengan tipisnya kertas, dicuil sedikit, tarik, lepaslah Cover Naskah Soal dengan Lembar Jawaban yang masing-masing “dihubungkan” dengan barcode.

Teringat  pula aktifitas pengawas mengisi daftar hadir dan berita acara yang tahun ini dilengkapi Pakta Integritas. Bahkan, selama 3 hari berturut-turut, kita disibukkan juga dengan hitung-mengitung soal “bekas” UN.  Lembar demi lembar. Tak boleh ada yang tertinggal. Harus  komplet, dikumpulkan lengkap di sub rayon dan rayon (Dinas Pendidikan Kabupaten/ Kota). Maklum,  selama 3 hari itu 11 provinsi belum UN. Sehingga soal bekas UN harus “diamankan”.  Ndilahah… di hari ke-empat, soal-soal tidak perlu lagi dihitung dan dikumpulkan ke Dinas. Cukup disimpan di sekolah. Lho kok………. Tapi lumayan.. menghilangkan capek dan mengurangi  pekerjaan 3 hari yang sia-sia. Bingung!

Sesuai rencana, 25 Mei adalah tanggal diumumkannya hasil UN yang diikuti dengan pengumuman pelulusan. Nilai Sekolah (NS) yang sudah dikirim ke pusat akan digabungkan dengan Nilai  Ujian Nasional (NUN)  untuk  memperoleh Nilai Akhir (NA). Ketentuannya: 40% NS + 60% NUN = NA. Untuk LULUS, Nilai Akhir (NA) tiap mata pelajaran tidak boleh ada yang dibawah  4,0.  Rata-rata NA untuk 6 mata pelajaran minimal 5,5.   Di bawah itu, tidak lulus!

Dapat dipastikan, siswa yang lulus akan bersorak gembira. Guru pun matanya berkaca-kaca. Orangtua ikut mengucap Alhamdulilah. Sujud syukur. Mensyukuri keberhasilan telah melewati gerbang Ujian Nasional. Dampak ikutannya jelas. Vandalisme!!

Walaupun sudah diwanti-wanti, tapi pesan (bahkan ancaman) dari sekolah tak digubris.  Siswa-siswi  yang dinyatakan lulus akan segera pesta pora. Diambilnya cat semprot -Phylox- yang sudah disiapkan. Corat-coret pun melanda.  Puas dengan mencoret baju. Punggung dan dada, pesta pun dilanjutkan. Konvoi keliling kota!

Itulah aksi vandalisme yang selalu mewarnai hari pertama pengumuman pelulusan sekolah. Mengapa selalu terjadi walau sudah diwanti-wanti? Banyak alasannya. Mereka menganggap itu sebagai salah satu bentuk paling ekspresif meluapkan kegembiraan setelah berhasil melampau gerbang Ujian Nasional. Yang menurut mereka kadang menyiksa. Betapa tidak. 5-6 bulan berturut-turut mereka harus menyiapkan diri semaksimal mungkin menghadapi UN. Hampir tiap hari mengikuti Program Intensif belajar (PIB)/ Driil Soal demi UN.  Bahkan, mereka harus mengeluarkan duit dan tenaga ekstra mengikuti Bimbingan Belajar agar lulus Ujian Nasional. Pokoknya, apa yang dilakukan oleh siswa kelas 3 adalah Harus Siap Ujian Nasional.

Mendekati hari H, kegiatan makin padat. Ujian Praktik harus dilakukan. Dilanjutkan dengan Ujian Sekolah. Setelah Pra UN kelar,  kembali ke rutinitas semula.  Driil Soal tiap hari dan Try Out secara periodik.  Tak heran, menjelang UN ada fenomena kesurupan masal. Lha.. bagaimana nggak kesurupan kalau siswanya spaneng.. stres.. cemas.. jenuh… Untungnya banyak sekolah yang kreatif. Untuk menurunkan tensi, digelar istighotsah, rekreatif, outbond sampai hypnoterapi dan ESQ. Semuanya untuk mengimbangi kegiatan fisik belajar yang melelahkan.

Maka tak heran, begitu hasil UN diumumkan. Mereka bersorak gembira. Plong…….!!! Akibatnya muncul euforia : Vandalisme dan Konvoi-isme. Corat-coret dan tanda tangan di seragam sekolah yang diikuti dengan konvoi. Padahal mereka juga tahu dan paham. Aksi tersebut tak ada gunanya. Lebih baik seragam-seragam itu dikumpulkan. Diberikan ke adik kelas yang membutuhkan. Atau disalurkan ke Panti Asuhan. Tapi itulah kenyataannya. Ujian Nasional selalu seakan diwarnai aksi balas dendam.

Bagaimana yang tidak lulus? Biasanya lebih parah. Siswi biasanya berteriak dan menangis histeris. kadang meraung-raung. Lalu limbung. Semaput! Bahkan konon ada peserta UN yang tidak  lulus bunuh diri.

Banyak orang mengatakan, tidak lulus hukan berarti kiamat! Memang enak ngomongnya karena nggak pernah merasakan. Coba kalau yang ngomong pernah nggak lulus. Mungkin lain yang disampaikan. Maka tak heran, begitu dinyatakan tidak lulus, muncul aksi Anarki. Merusak sekolah sendiri. Pot diinjak. Tempat sampah disepak. Kaca jendela kelas dipecah.  Gurupun dimaki. Pokoknya, keluar semua sumpah serapah disertai dengan merusak yang ada didepan mata. Miris! Ada juga sih yang mau menerima kenyataan dengan lapang dada. Itu tergantung bagaimana sekolah menyampaikan dan menyikapinya.

Jika hanya menghasilkan Vandalisme plus Konvoi-isme serta Anarkisme, untuk apa ada Ujian Nasional. Pendidikan Karakter yang digembar-gemborkan seakan-akan tidak ada jejaknya. Anak-anak lupa dengan tata krama. Sopan santun sudah tergerus dengan percuma. Maka, seyogyanya hal-hal seperti ini perlu dikaji lagi. Apa dan mengapanya. Salah satunya adalah, kembalikan UN yang  Iilmiah dan Alamiah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: