Menyelaraskan Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja melalui Program Pariwisata di Sekolah

Dulu ada paradigma, yang mengacu pada keputusanMendikbud No. 061/U/1993 tentang kurikulum Sekolah Menengah Umum. Dinyatakan bahwa SMA bertujuan untuk menyiapkan peserta didik ke jenjang perguruan tinggi (PT) dan terjun ke masyarakat. Ini merupakan salah satu distorsipendidikan yang mestinya sejak awal harus disadari oleh penentu kebijakan pendidikan di negeri ini. Ada 2 hal yang harus dijawab. Apakah memang seluruh peserta didik secara intelektual dan finansial mampu melanjutkan ke perguruan tinggi (PT)? Bagaimanakah menyiapkan peserta didik untuk terjun ke masyarakat.? Jawabanpertanyaan pertama sangat jelas. Tidak mungkin! Jawaban untuk pertanyaan kedua, tergantung dari kebijakan dan inovasi sekolah masing-masing. Untuk SMA : selesaikan materi (target kurkulum), anak lulus ujian akhir (nasional dan sekolah), selesai sudah urusan. Perkara anak mau sekolah lagi atau bekerja, tergantung pada mereka sendiri.

Kenyataannya, hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan lulusan SMA yang melanjutkan ke PT. Alasannya, banyak kendala yang harus dihadapi lulusan SMA. Diantaranya “kursi” di PT yang memang terbatas dan biaya pendidikan yang relatif tinggi, Alternatifnya, banyak lulusan yang berinisiatif mencari kerja. Pilihan bekerja bukan tanpa kendala. Pasalnya : Pendidikan di SMA tidak dipersiapkan dengan ketrampilan khusus yang mengarah ke dunia kerja. Seperti halnya pendidikan di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) yang sudah menggariskan keseimbangan antara Teori dan Praktik sehingga diharapkan mampu membekali siswa untuk bersaing di bursa kerja. Akibatnya banyak lulusan SMA tidak terserap di dunia kerja, lantaran kalah bersaingdengan mereka yang mempunyai sertifikat keahlian dan skills.

Distorsi ini seyogyanya dapat dihilangkan atau paling tidak diminimalkan dengan cara pelaksanaan pendidikan di SMA perlumodifikasi yang bersifat lokal yang bertujuan memberdayakan lulusan SMAagar jika tidak dapat meneruskan ke PT dapat terserap di dunia kerja..

1362149393756640112

SMA yang Mensinergikan Kognitif dan Skill (dok pribadi)

Sejalan dengan hal tersebut di SMA Sejahtera Prigen yang secara geografis berlokasi di daerah Tujuan WisataPrigen (Tretes, Kaki Gunung Welirang) Kabupaten Pasuruan dengan alasan logis sejak 10 tahun terakhir telah menjadi pioneer dengan mencanangkan Program Plus Pariwisata dan Perhotelan yang diintegrasikan dalam kurikulum sekolah baik intrakurikuler, ekstrakurikuler dan kegiatan insidental. Hal tersebut dimaksudkan untuk tercapainya perkembangan dan pertumbuhan setiap sektor kehidupan dimana tuntutan peningkatan kualitas pendidikan yang semakin kuat dan bermuara pada perbaikan kualitas SDM khususnya lulusan SMA.

Tahun 2006 membawa angin segar dalam dunia pendidikan khususnya dengan terbitnya PERMENDIKNAS No. 22/ 2006, Nomor 23/ 2006 dan Nomor 24/ 2006. Permendiknas Nomor 22/ 2006 tentang Standar Isi (Kurikulum) menyuratkan dan mensyaratkan adanya MUATAN LOKAL dan KETRAMPILAN/ Bahasa Asing (lain) dalam pendidikan di SMA. Kebijakan PERMENDIKNAS inimakin menambah semangat SMA Sejahtera Prigen untuk berbenah meningkatkan kualitas Program Plus Pariwisata dan Perhotelan, dan semakin percaya diri dalam inovasi pengelolaan sekolah yang telah dirintis dan telah mengalami berbagai macam tantangan dan cobaan. Baik dari segi finansial, kurikulum, kegiatan belajar mengajar, praktik dan sebagainya.

Program Pariwisata dan Perhotelan dipilih dengan alasan: Tretes -Prigen memiliki potensi geografis sebagai daerah tujuan wisata, menjamurnya hotel-hotel dan restoran baru, kebutuhan tenaga trampil di bidang pariwisata dan perhotelan yang terus meningkat., membuka peluang kerja yang lebih besar bagi lulusan SMAyang tidak melanjutkan ke PT, kultur masyarakatsetempat yang mengenal pariwisata dan perhotelan sebagai pilihan pekerjaan, serta menunjang Program Pemerintah dalam bidang pariwisata.

1362148084292338729

Pelatihan FB Service di SMA (dok pribadi)

Bagaimana konkretnya kegiatan penyelarasan dunia pendidikan dan dunia kerja ini di SMA Sejahtera Prigen? Dalam kegiatan intrakurikuler, siswa belajar mata pelajaran Muatan Lokal : Pariwisata dan Perhotelan dengan durasi 2 jam per minggu. SedangMata pelajaran Bahasa Asing adalah Bahasa Jepang. Materinya meliputi Kepariwisataan, Dasar Perhotelan, House Keeping (Room Division), FB Service dan Front Office. Secara berjenjang, materi tersbut diberikan mulai kelas X sampai kelas XII. Sebagai pengajar adalah praktisi perhotelan yang direkrut dari hotel sekitar. Bukan sekedar praktisi. Tapi pegawai hotel yang memiliki kualifikasi asesor dari Dinas Pariwisata Provinsi.

13621485041022171654

Native Bahasa Jepang untuk Memotivasi Belajar (dok pribadi)

Untuk menunjang kemampuan Bahasa Jepang, selain gurunya aktif di MGMP Bahasa Jepang dan selalu mengikuti kegiatan Japan Foundation, sekali waktu sekolah juga memberi kesempatan bagi penutur asli Bahasa Jepang  untuk hadir sekolah. Kehadiran native Bahasa Jepang ini mampu memotivasi siswa untuk lebih giat berlatih dan belajar Bahasa Jepang.

13621482371161322587

Hasil eskul Fruits & Vegetables Carving (dok pribadi)

Sebagai penunjang kegiatan pariwisata dan perhotelan, diadakan pula kegiatan ekstrakurikuler bercirikan pariwisata. Namanya eskul Fruits & Vegetables Carving. Dengan eskul Fruits & Vegetables Carving, siswa belajar bagaimana mengukir buah sebagai penghias hidangan atau sajian. Untuk lebih  memotivasi siswa, pada saat tertentu diadakan lomba Fruits Carving dan lomba masakan tradisionil untuk merangsang mereka menampilkan karya terbaik.

13621482821303843241

Lomba Fruits Carving dan Masakan Tradisional (dok pribadi)

 

Nah, tak kalah pentingnya adalah kegiatan peningkatan skills. Karena di sekolah kegiatan praktik terbatas pada demonstrasi, maka pada saat tertentu siswa harus mengikuti kegiatan magang (On The Job Training) di hotel atau restoran. Magang sangat bermanfaat untuk pembentukan karakter siswa. Mereka akan lebih bertanggung jawab, lebih disiplin, dan memiliki etos kerja. Bagaimana tidak disiplin. Kalau telat datang di hotel, jelas tidak sekedar kena marah. Bisa-bisa kena Surat Peringatan (SP). Bila terus telat ya dikeluarkan dari tempat magang (OJT). Manfaat lain, selain untuk lebih mengenal dunia kerja siswa juga beruntung mendapatkan sertifikat. Bisa digunakan kelak saat melamar pekerjaan.

Keuntungan lain, siswa-siswa yang selesai magang dan memiliki kinerja baik, maka pada saat hari minggu, hari besar atau saat hotel fully booked, high season, hotel tidak perlu tambah pegawai. Cukup memanggilcasual dari siswa-siswa yang pernah magang. Siswa bekerja part time. Belajar dan Bekerja. Lumayan buat tambah uang saku. Hotel pun untung. Tidak perlu kontrak pegawai baru. Ya, kalau hotel ramai terus. Kalau sepi, bisa jadi pegawainya akan makan gaji buta.

Ini adalah potret dari sebuah proses pendidikan di sebuah SMA yang berlokasi di Lereng Gunung Welirang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. SMA ini berikhtiar untuk mensinergikan antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Mereka mengusung program plus Pariwisata dan perhotelan dengan menjalin kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri di sekitarnya. Model kemitraan seperti inilah yang semestinya diusung dalam kurikulum 2013. Ada keseimbangan antara kognitif (pengetahuan), afektif (sikap/ perilaku) dan psikomotorik (skill), khususnya bagi siswa SMA. Bukan jamannya lagi berbicara  SMA hanya dan harus ke perguruan tinggi, karena memang faktanya tidak seperti itu. Bilamana dilaksanakan secara serius, keselarasan antara dunia pendidikan dan dunia kerja benar-benar terwujud. Semoga.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: