UN yang Alamiah dan Ilmiah

Lama sudah berharap. Ujian Nasional yang alamiah dan ilmiah. Tidak seperti kemarin, hari-hari ini dan  besok. Tapi inilah Indonesia. Walaupun tidak pernah ke Finlandia, Australia atau Jepang, Amerika apalagi, dibandingkan negara- negara maju tersebut agaknya Ujian Nasional di Indonesia yang paling menghebohkan. Dalam ruangan ujian, soalnya 5 macam. Tahun ini 20 macam! Pakai Barcode, biar aman. Polisi dilibatkan untuk pengamanan. High Security kayaknya! Sayangnya, dalam POS UN tertulis, Polisi menindak pelaku yang menyebarkan jawaban Palsu! Jawaban Asli bagaimana?? Ya tentu saja.. pengedar jawaban asli atau palsu patut ditindak!

Begitulah, 57 hari ke depan pelajar SMA akan menghadapi Ujian Nasional. Alangkah indahnya bila UN itu benar-benar berlangsung alamiah. Berjalan sesuai ritmenya. Tidak ada yang dipaksakan. Tidak ada yang cemas.Tidak ada yang dikorbankan.

Pelajaran di sekolah berlangsung normal.  Mata pelajaran UN dan non UN saling mengisi. Tidak ada mata pelajaran yang terpaksa dipotong jam-nya untuk menuntaskan mata pelajaran UN. Tidak ada siswa yang cemas. Mereka akan belajar dengan tekun. Tidak dibayang-bayangi ketakutan tidak lulus. Lulus tidak lulus urusan belakang. Artinya siapa yang rajin, tekun, bersungguh-sungguh pasti lulus. Lulus dan tidak lulus sudah ada kriterianya. Ada aspek pengetahuan, psikomotorik dan perilaku. Bila UN berlangsung alamiah, niscaya semua akan berlangsung sesuai lazimnya. Soal bolehlah dari pusat. Guru yang menjaga. Satu syaratnya, berapapun nilai yang diperoleh tidak mem-veto untuk lulus.  Nilai yang diperoleh siswa itu adalah haknya. Itu yang akan tercantum di ijazahnya. Kalau dia rajin, tekun,  otomatis nilainya baik. Kalau sebaliknya, ya resiko ditanggung penumpang. Menentukan lulus  dan tidak lulus, guru di sekolah lebih mengerti tentang anak didiknya. Siswa bernilai baik berkesempatan melanjutkan ke pendidikan tinggi. Tidak mampu kuliahpun masih berpeluang diterima kerja karena prestasi akademiknya bagus. Sebaliknya, siswa yang tidak sungguh-sungguh, akan lebih sulit dalam mengisi hari-hari ke depan. Inilah seleksi alam. Jadi, tidak perlu membuat master soal sampai 20 macam. Buang-buang biaya. Kalau energi sih pasti sudah terbayar!

Bisa jadi kalau sistemnya seperti itu, sekolah akan meluluskan semua siswanya. Tapi jelas, tidak semua sekolah seperti itu. Banyak sekolah yang punya kriteria untuk kelulusan. Menaikkan siswa saja ada kriterianya. Apalagi meluluskan. Sekolah yang dikelola dengan sembrono, asal-asalan pasti akan dijauhi masyarakat.

Saat ini kisi-kisi UN yang dikeluarkan oleh BSNP sudah digenggaman. Guru sudah menganalisisnya. Siswa juga sudah membaca. Try out sekolah sudah dilaksanakan Tapi ada yang kurang. Agar UN berlangsung ilmiah, semestinya ada satu proses yang harus dilakukan oleh Kemendikbud. Try Out Nasional. Semacam uji petik. Bisa paper and pencil. Boleh juga Online. Bahan try out disusun berdasarkan kisi-kisi UN yang sudah beredar di seluruh penjuru sekolah. Pesertanya, tentu saja diacak dari setiap kabupaten. Banyak kriteria yang bisa digunakan. Berdasarkan geografi: ada sekolah di perkotaan dan daerah pinggiran atau pelosok. Berdasarkan jumlah siswa : ada sekolah yang muridnya banyak. Tidak sedikit yang jumlah muridnya bisa dihitung dengan jari.  Bisa jadi pemilihan sample berdasarkan status akreditasi.  Bila kriteria sudah ditetapkan, diserahkan saja pada pemerintah Kabupaten/ Kota untuk memilih wakilnya.

Mengapa perlu try out nasional? Siapapun mahfum. Potensi dan kondisi setiap sekolah di tanah air berbeda. Dari statusnya ada yang negeri swasta (walau tidak boleh ada dikotomi). Akreditasi ada yang A, B dan C. Sarana prasarana juga bervariasi. Sumberdaya manusia jelas berbeda. Ada yang akses informasinya cepat. Ada yang sangat sulit. Bahkan mungkin termasuk daerah 3T. Nah, dengan try out atau uji petik ini akan diperoleh gambaran seperti apa sebenarnya kondisi anak-anak Indonesia saat ini. Bagaimana daya serapnya terhadap materi pembelajaran. Mampukah mereka melampaui passing grade yang ditentukan dengan mengerjakan  soal-soal yang disusun berdasarkan kisi-kisi nasional?

Sekolah peserta try out atau uji petik pasti tidak akan bermain-main. Tidak akan memanipulasi nilai hasil try out. Memalsu nilai sama dengan bunuh diri. Toh, tidak ada dampak apapun bila memang hasil try outnya jeblok. Harapannya, pengambil kebijakan benar-benar memperoleh gambaran yang jelas tentang peta kemampuan peserta didik di segenap penjuru tanah air.

Tak kalah pentingnya adalah tugas dosen perguruan tinggi. Ini juga aneh. Peran dosen perguruan tinggi seyogyanya tidak “ujug-ujug” muncul saat mendekati UN. Tugasnya menjadi pengawas lagi. Mestinya sejak awal tahun pelajaran perguruan tinggi sudah mengawal proses pendidikan di sekolah menengah. Bila perlu ada penelitian dari para dosen tentang sistem pembelajaran, strategi, metode atau apapun sehingga mereka betul-betul berkontribusi dalam memajukan pendidikan. Bila perlu dosen-dosen diterjunkan untuk pendampingan dan pendalaman materi terutama mata pelajaran UN. Termasuk juga ikut dalam proses evaluasi. Mengevaluasi ulangan harian atau ulangan semester untuk mengetahui kemampuan siswa. Bukan berarti ikut campur. Hanya agar paham kondisi di  lapangan. Berkontribusi secara nyata. Siapa yang akan menolak uluran tangan ini. Tapi siapa yang akan membiayai. Kalau gratis bagaimana?

Begitulah, kalau pendidikan dikelola dari hulu sampai hilir. Niscaya akan berlangsung secara alamiah dan ilmiah. Sudah lama rakyat Indonesia mendambakan pendidikan yang lebih baik. Selamat belajar bagi yang akan menempuh UN. Sukses untuk Anda semua!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: